“Doa Bagi Indonesia” Digelar untuk Mendoakan Pilkada Serentak 2017

1581 dibaca
Suasana acara “Doa Bagi Indonesia” diadakan sejumlah tokoh gereja di Nafiri Convention Hall (NCH) Central Park Mall Apl Tower, Jakarta Barat, pada 6 Februari 2017 lalu.

BERITANARWASTU.COM. Acara “Doa Bagi Indonesia” diadakan sejumlah tokoh rohani di Nafiri Convention Hall (NCH) Central Park Mall Apl Tower, Jakarta Barat, pada 6 Februari 2017 lalu. Acara yang dimulai pukul 18.00 WIB ini bertujuan untuk mendoakan Pilkada Serentak di Indonesia yang diadakan pada 15 Februari 2017. Supaya pilkada itu bisa berjalan damai dan bermartabat. Pokok-pokok doa yang dipanjatkan di acara itu, yakni mendoakan NKRI, UUD 1945, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia agar tetap utuh dan tidak digoyahkan oknum-oknum yang menginginkan bangsa ini terpecah belah.

Menurut Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPDI) dan Fasilitator Jaringan Doa Nasional (JDN), Pdt. DR. (HC) Mulyadi Sulaeman, acara ini diadakan dari kesatuan hamba-hamba Tuhan untuk berdoa bagi bangsa, khususnya supaya NKRI tetap utuh. “Karena kita melihat keadaan bangsa Indonesia sekarang terpecah-pecah dengan berbagai situasi. Jadi acara ini dibuat untuk berdoa bersama, menjelang pilkada tanggal 15 Februari 2017,” cetus tokoh gereja yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” ini.

Pdt. Mulyadi menerangkan, yang berdoa di sini hampir dari seluruh aras (lintas) gereja. Dan tampak hadir Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Sekretaris Umum PGI), Pdt. DR. Bambang Widjaya (Tokoh PGLII), dan ada pula dari PGPI, Gereja Baptis, Gereja Adven, dan gereja lain yang bersatu untuk bersama-sama menyatukan hati dan pikiran berdoa untuk kepentingan bangsa.

 

“Supaya Pilkada 2017 dapat berlangsung dengan aman dan damai, sesuai dengan harapan dari pada doa kita sekarang. Juga supaya tidak terjadi kecurangan, tidak terjadi perpecahan, dan tidak terjadi anarkisme. Dan Tuhan memilihkan para pemimpin yang benar dan antikorupsi. Serta pemimpin yang bisa memperbaiki bangsa ini ke depan,” tukas Pdt. Mulyadi Sulaeman kepada NARWASTU. 
          Dalam acara religius ini, Firman Tuhan dibawakan oleh Pdt. Bambang Widjaya yang berbicara tentang kepemimpinan. Menurut mantan Ketua Umum PGLII ini, yang diutamakan dalam kepemimpinan ada dibahas di Kitab Mazmur 75:5-11. Dan, katanya, berbicara tentang kepemimpinan ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin. Pertama, kerendahan hati yang dibahas di Mazmur 75:5-6. Kedua, kedaulatan Tuhan yang dibahas di Mazmur 75:7-8. Sedangkan ketiga, hidup benar yang dibahas di Mazmur 75:9-11.

 

Menurut Pdt. Bambang Widjaya, sangat penting diperhatikan tentang kedaulatan Tuhan. Karena Tuhan adalah pribadi yang berdaulat dan Allah yang sejati.  Tuhan juga pribadi yang mengatur jalannya sejarah. Kalau ada orang yang mau menggugat atau tidak percaya kepadaNya, Tuhan tetap berdaulat. Dan apapun yang Tuhan rencanakan pasti terjadi. Dan atas dasar itu kita menyakini kalau Indonesia ada di dalam kedaulatan Tuhan. “Hal yang ketiga, hidup benar. Tuhan tidak sembarang mengangkat seseorang untuk menjadi pemimpin. Bukan karena seseorang kaya atau seseorang tampan,. Tapi Tuhan memilih orang yang hidup benar, karena sepandai apapun seseorang jika tidak hidup benar dia akan merusak bangsa ini,” tegas Pdt. Bambang Widjaya yang termasuk pula dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan NARWASTU.”

Dan saat ini, ujar Pdt. Bambang, kita menyadari kalau Indonesia memerlukan pemimpin  yang benar. Gereja memerlukan pemimpin yang benar, masyarakat memerlukan pemimpin yang benar, rumah tangga dan keluarga memerlukan pemimpin yang benar. Lalu ketiga, tentang kerendahan hati. Di sinilah tempat bagi kita untuk mengambil  bagian di dalam rancangan Tuhan.

Kerendahan hati, imbuhnya, selalu berjalan dalam doa. “Mengapa orang berdoa, dan mengapa orang tidak berdoa. Itu bukan masalah dia tak punya waktu atau masalah punya waktu. Dan bukan masalah seseorang mampu berbicara dengan fasih dan tidak bisa bicara fasih. Tapi orang yang rendah hati akan menyadari keterbatasan dirinya, dan dia akan berdoa. Orang yang merasa dirinya hebat dan congkak tidak akan berdoa,” tegas tokoh Sinode Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) ini. JK

 

Berita Terkait