Rebecca Olivia Haryuni
“Duta Yayasan ABB” yang Terinspirasi dengan Pelayanan Bunda Teresa

2204 dibaca


beritanarwastu.com. Gadis cantik, energik, aktif dan berprestasi ini tergolong figur insan  muda yang langka. Ia multitalenta. Selain berprestasi sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali, namun ia akan pindah ke Universitas Kridawacana, Jakarta, Rebecca Olivia Haryuni pun bisa menulis lagu rohani dan memainkan sejumlah alat musik. Ia piawai memainkan harpa, piano dan saxophone. Tak heran, dengan talenta tersebut ia kerap diminta melayani di gereja. Rebecca, begitu ia akrab disapa, pun punya IPK (indeks prestasi komulatif) di atas tiga, bahkan hampir empat di kampusnya.

Anggota jemaat Gereja Bethel Tabernakel, Jakarta, ini sekarang masih duduk di semester lima di kampusnya. Di tengah aktivitasnya yang padat sebagai mahasiswa, ia masih menyempatkan diri untuk aktivitas pelayanan gereja dan kegiatan kemanusiaan. Di kampusnya ia kerap ikut dalam kelompok mahasiswa peduli HIV/AIDS. Soalnya, bukan rahasia umum lagi ada kaum muda yang terjangkit HIV/AIDS, dan mereka sering mendapat stigmaa negatif dari masyarakat. Makanya Rebecca ikut di dalam kelompok tersebut untuk memberi penguatan pada penderita HIV/AIDS.

 

  

Rebecca Olivia Haryuni. Peduli melayani orang-orang kurang beruntung. 

 

Keaktifan Rebecca di dalam kegiatan kemanusiaan dan pelayanan, tak lepas dari pengaruh ayahandanya yang juga giat dalam pelayanan serta pengusaha di bidang farmasi. Sedangkan ibundanya seorang dokter gigi, drg. Ella Karmila. Keinginannya menjadi seorang dokter pun dilatarbelakangi dukungan orangtuanya. “Saya melihat profesi dokter itu tak hanya untuk menyembuhkan orang-orang sakit, namun nilai kemanusiaannya tinggi, karena bisa menolong orang yang kurang mampu atau miskin,” ujar Rebecca yang hobi olahraga basket dan badminton.

Menurut Rebecca saat berbincang-bincang dengan Majalah NARWASTU di sebuah restoran di kawasan Kelapa gading, Jakarta Utara, baru-baru ini, ia suka belajar hal-hal yang baru. Sehingga ia bisa memainkan harpa. “Namun untuk mencari harpa di Indonesia sulit. Dan kami dapatkan itu justru dari Singapura. Dan saya belajar otodidak. Ke depan saya ingin sering memainkan musik harpa untuk memuji Tuhan,” ujar gadis energik yang fasih Bahasa Inggris, dan kini pun sudah berupaya mandiri dengan membuka usaha rental gaun di Bali dan membuka usaha kafe di Jakarta.

Sedangkan ibunda Rebecca, drg. Ella Karmila menerangkan, sejak umur empat tahun putrinya ini sudah menunjukkan perhatian kepada sesama yang kurang beruntung. Pernah mereka membawa Rebecca dalam sebuah pelayanan ke sebuah panti asuhan, dan saat itu ia membawa boneka kesayangannya. Saat bertemu dengan anak-anak panti asuhan sebayanya, boneka itu diberikan Rebecca, lantaran ia kasihan terhadap anak-anak tersebut.

Tak hanya itu, Rebecca sejak SMP hingga SMA pun peduli mengajar anak-anak yang kurang mampu dengan pelajaran Bahasa Inggris di tempat mamanya melayani. “Kebetulan kami juga memberi pembekalan kursus memasak, kursus menjahit dan instalasi listrik bagi orang-orang yang kurang mampu, tentu keluarga-keluarga yang seiman dengan kita di tempat pelayanan kami. Saat anak-anak itu menunggu orangtuanya kursus, nah anak-anak itu yang diajari Rebecca untuk pelajaran Bahasa Inggris. Dan itu sangat bermanfaat,” ujar Ella sang mama tercinta.

Menurut drg. Ella, mereka memang sejak dulu sudah giat di dalam pelayanan. “Kami berpikir, bisa saja kita memberikan beras atau makanan kepada orang-orang yang kurang mampu. Namun itu dalam waktu tertentu sudah habis dikonsumsi, namun kalau kita bekali mereka dengan kursus memasak dan menjahit, kan, mereka bisa mencari nafkah. Juga setiap Minggu kami memang mengkhususkan hari itu untuk keluarga dan melayani. Anak-anak tidak bisa pergi bersama teman-temannya kalau hari Minggu, karena hari itu kita buat untuk keluarga dan pelayanan,” pungkas Ella.

Menurut Rebecca, melayani itu adalah sebuah aktivitas yang membahagiakan. Karena ia bisa memberi sesuatu kepada orang lain dan membuat mereka bersukacita. “Melayani adalah memberi yang kita miliki kepada Tuhan. Sejak SMP saya sudah merasakan ada panggilan untuk giat melayani. Saya melihat aktivitas pelayanan itu sebuah kegiatan yang menggembirakan. Dalam pelayanan ada sukacita, karena waktu kita benar-benar bermanfaat bagi orang lain dan memuliakan Tuhan,” ujar Rebecca.

Dalam hidup ini, kata Rebecca, ketika kita diberkati Tuhan, maka kita harus menjadi saluran berkatNya bagi sesama, terutama sesama yang kurang beruntung. Semakin banyak kita melayani dan berbuah, Tuhan pun akan melimpahi berkatNya buat kita. Itu sebabnya, Rebecca mengajak anak-anak muda agar giat melayani. Karena melayani itu sebenarnya juga melatih pribadi seseorang agar makin peka terhadap sesama. Dan melayani pun memuliakan nama Tuhan. “Melalui pelayanan, anak-anak muda pun sesungguhnya dilatih agar punya komitmen. Karena banyak anak-anak muda yang tak punya komitmen dalam hidup sehari-hari,” terang Rebecca yang pernah meraih prestasi dalam lomba berbicara dalam bahasa Inggris.

Rebecca menambahkan, saat ini gereja dan Indonesia membutuhkan orang-orang muda yang peduli melayani sesama. Kita pun butuh anak-anak muda yang bisa menginspirasi dan memotivasi sesama. “Anak-anak muda jangan takut dipakai Tuhan sebagai alatNya untuk melayani. Kalau kita dipakai Tuhan sebagai alatNya, memang kita sering berhadapan dengan hal-hal yang kurang enak. Namun di situlah sesungguhnya Tuhan memanggil kita untuk menjadi alatNya. Bahkan, melayani di desa-desa tertinggal atau pedalaman pun dibutuhkan peran dari anak-anak muda Kristen,” ujar Rebecca yang pernah memberikan motivasi kepada mahasiswa STT (Sekolah Tinggi Teologia) IKAT, Jakarta, agar semakin semangat melayani.

 

  

Rebecca Olivia Haryuni. Ingin jadi lilin kecil di tengah kegelapan. 

 

Ketika anak-anak muda terlibat pelayanan, selain dipanggil Tuhan ia harus siap dibentuk. “Saya punya mimpi agar anak-anak muda Kristen yang ada di perkotaan punya kepedulian untuk melayani masyarakat ke pedalaman. Anak-anak muda jangan mau dibatasi umur. Hal-hal kecil pun yang kita lakukan bisa berdampak besar kalau kita dipakai Tuhan sebagai alatNya,” ujar Rebecca yang pernah terjun melayani ke pedalaman Papua Barat dan NTT (Nusa Tenggara Timur) itu. Dia pun kerap diminta sebagai ketua penggalangan dana untuk penginjilan.

Sementara Ella Karmila, sang mama Rebecca menuturkan, di tengah kehidupan ini, kita harus bisa menjadi lilin-lilin kecil di tengah kegelapan. Jangan menjadi obor namun di tengah mercusuar. “Bagaimana mengukur kesuksesan seseorang di dalam hidup ini, ternyata bukan dari kekayaan atau kekuasaan seseorang itu. Karena di atas orang yang sangat kaya sekalipun masih ada banyak orang yang paling kaya. Jadi tak ada yang patut kita sombongkan di dalam kehidupan ini. Hidup ini harus berbuat sesuatu bagi banyak orang. Dan ketika banyak orang yang merasakan cinta kasih, di situlah sebetulnya kesuksesan seseorang kita lihat,” ujar drg. Ella Karmila yang cantik dan ramah.

Rebecca pun sangat kagum dan terinspirasi dengan pelayanan kemanusiaan Bunda Teresa. “Bunda Teresa bahagia kalau bisa berbuat sesuatu bagi orang lain. Sepanjang hidupnya Bunda Teresa mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan dan untuk orang lain. Selalu ada sukacita atau kegembiraan di dalam kehidupan Bunda Theresa. Saya sangat mengidolakan Bunda Teresa. Dia mampu mengubah kehidupan. Sehingga media pun menyoroti aktivitas kemanusiaan Bundha Teresa,” ujar Rebecca, anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya Ruth Olivia Haryuni masih berusia empat tahun.

Rebecca yang pernah ikut pelayanan ke India untuk menggali sumur bagi orang-orang miskin itu menyukai ayat 1 Korintus 13:4-7 sebagai motto hidupnya, “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain…ia menutupi segala sesuatu dan percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu…

Sedangkan pembimbing rohani dan Ketua Yayasan Apostel Bangun Bangsa (ABB), Pdt. Dr. Sarah Fifi, S.Th, M.Si menerangkan, Rebecca adalah seorang gadis yang luar biasa. Ia punya kegigihan dalam pelayanan. “Dan sekarang ia Duta Yayasan ABB untuk pelayanan ke pedalaman. Kami berdoa dan terus mendukung dia, baik di dalam perkuliahan, pelayanan maupun di dalam keluarga. Kita butuh anak-anak muda yang cerdas, beriman, dan mau berbuat sesuatu untuk gereja, masyarakat dan bangsa,” pungkas Ibu Pendeta cantik yang juga psikolog dan salah satu Penasihat/Pembina Majalah NARWASTU itu. TK

Berita Terkait