Ab Imo Pectore (Dari Lubuk Hati Terdalam)

* Oleh: Togap Balduin Silalahi, S.H. 784 dibaca


Beritanarwastu.com. Senggang waktu setelah konsep dan menulis tulisan menjelang ulang tahunku November, saya membaca kembali tulisan autobiografi atasanku Kepala Kejaksaan Tinggi Irian Jaya, Bapak Tahi Saut Hamonangan Sidabutar, S.H. (Gelar Ompu Hotasi Doli), saat ulang tahunnya ke-75 tanggal 18 Februari 2014. Artinya nama TSH, “Niat untuk menang,” puji Tuhan dan niat tercapai antara lain mereka sosial untuk Gereja–Gabe–Mora-Sangap dan cucu sudah ada yang menikah. Ditahbis jadi penatua di Gereja HKBP Nommensen, Jayapura.
Beliau ingatannya tajam dan berpenampilan rapi dan sisir mungkin selalu ada di kantong. Tahun lalu saya melihat beliau turun dari mobil dan sebelum masuk ke toko, nyisir terlebih dahulu. Aku langsung kontak dan… “Hahahaha…,” ucapnya. Bernyanyi aduhai dan terkesan buat kami, saat Pak Sidabutar menyanyikan lagu “Ayah” ciptaan Rinto Harahap. Bukunya “Gagal Jadi Dokter, Jadi Jaksa” (penyunting Ir. Janerson Girsang-guru Huria GKPS Simalingkar, Medan), sangat menarik karena percintaannya dengan Ibu Mawar bagaikan kisah Romeo dan Juliet. 
Kisah keluarga yang banyak dan sedikit menyangkut penugasannya. Dimulai dari bawah selaku Kajari Kabanjahe, Gedung Bulat Pidsus, Kapusluhkum dan Kajati Irian Jaya. Penyelesaian kasus Artaloka, Jalan Sudirman Jakarta (1972), berprestasi dan diangkat menjadi Kajari Semarang. Menerima piagam Sidakarya Adhyaksa dengan nilai terbaik tahun 1988. 
Ibu Hoty Mawar Irene boru Lumban Tobing, S.H. (Putri mantan Residen Tapanuli), adalah politisi anggota DPRD Tapanuli Utara dan seorang pengacara. Sikapnya akrab, ramah, jika libur kebiasaan mengajak kami dengan para asisten pesiar, makan-makan di sekitar danau Sentani, Jayapura. Setelah pensiun mereka balik ke Medan dan oleh Ephorus HKBP, Pdt. DR. J.R. Hutahuruk, Pak Sidabutar diangkat selaku Ketua Yayasan HKBP Nomensen tahun 1999-2003. Dipengurusan mereka dibantu mantan Direktur RSUP Adam Malik, dan juga pengurus Yayasan UHN, Dr. T.M. Panjaitan, telah berusaha membuat embrio pendidikan fakultas kedokteran untuk dilanjutkan ke pengurusan berikutnya.
Kami masih menjalin silahturahmi dengan Bapak dan Ibu Sidabutar. Mereka sekarang tinggal di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kata orang bijak kita masing-masing sekarang sudah pensiun dan marilah waktu yang masih ada bagi kita, kita pergunakan agar hidup kita benar-benar berarti untuk sang khalik yang menciptakan kita, gereja kita, untuk negara dan bangsa kita, untuk sesama kita dan keluarga kita masing-masing. Salam kasih dan doa.  
Mengenal dan mengenang rekan sekerja Sintua TSH Sidabutar, S.H., membuat saya perlu kembali me-rewind memori 16 tahun silam, ketika saat itu beliau menjadi Kajati di Irian Jaya (Papua), sedangkan saya sebagai wakil.  Sebagai pemimpin, kepala sebuah institusi Kejaksaan Tinggi, tentulah tidak gampang. Tetapi sahabatku ini telah menunaikan tugasnya dengan baik, sesuai dengan kriteria-kriteria pemimpin yang baik sebagaimana ditulis oleh William Glasser dalam bukunya “Choice Theory”:
Pertama, memberi teladan tentang arti sukses kepada bawahan. Alasan umum seseorang tidak berusaha keras dalam bekerja adalah karena mereka tidak tahu persis tujuan mereka bekerja. Ketidakadaan tujuan dan arah sering mematahkan motivasi kerja. Sebagai pemimpin yang baik, sahabatku ini bisa memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para bawahannya. Kedua, memberi bawahan peralatan yang dibutuhkan. Banyak orang mempersepsikan, tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan masalah bawahannya. Tetapi tidak demikian dengan sahabatku ini; beliau acap memberikan cara dan rambu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Ketiga, memuji keberhasilan bawahan. Sahabatku ini tidak hanya menyampaikan kritik,  tetapi juga memberikan pujian dan apresiasi terhadap hasil kerja bawahan sehingga dapat memotivasi produktivitas dan membangun kepercayaan diri bawahan untuk lebih sukses lagi. Keempat, memberi ruang untuk kesalahan. Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik bagi pembelajaran, maka perlu memberi toleransi bagi kesalahan yang dilakukan bawahan. Terkadang kesalahan dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus bekerja, tapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal. Dan sahabatku ini telah melakukan demikian.
Kelima, mendelegasikan tugas tanpa banyak turut campur. Sebagai Pemimpin yang baik beliau adalah seorang yang mampu mempercayakan tugas secara penuh kepada bawahannya. Beliau membiarkan bawahan mengatasi kendala pekerjaannya sendiri; tetapi tetap memantau dan selalu ada untuk membantu saat bawahan membutuhkannya.
Keenam, bersikap ramah.
Seorang pemimpin yang baik tak perlu menjadi galak untuk bisa tegas dan efektif memanajeri bawahannya. Dengan bersikap ramah, beliau telah memotivasi bawahannya untuk bekerja lebih baik lagi. Sahabatku ini telah mengartikulasikan “lagniappe” (la-nyap /lan yap). Kata ini berasal dari frasa Bahasa Spanyol Amerika “la nyapa” yang arti letterlijknya “sesuatu yang ditambahkan.” Secara lebih luas, lagniappe adalah sesuatu nilai tambah yang diberikan dengan sukacita dengan maksud baik. 
Atau dalam adat budaya Batak, sahabatku ini telah benar-benar menghayati dan melaksanakan pepatah Batak “Ijuk di para para hotang di parlabian; nabisuk nampuna hata, naoto tu pargadisan”. Artinya: Orang pintar itu bisa bicara, bisa berargumen, bisa semua. Sementara yang bodoh itu bisa dijual karena tidak tahu apa-apa. Ab imo pectore (dari lubuk hati terdalam), saya mengapresiasi terbitnya buku autobiografi ini. Dan semoga, suri teladan yang tergores di dalamnya, akan mendatangkan manfaat bagi pembacanya. Horas, syalom.
* Penulis adalah pensiunan Jaksa Utama Golongan IVE Kejagung RI, mantan Inspektur Polisi Golongan IIIB Polda Metro. Juga mantan Asisten Golongan IIIA FH & IPK UI, penatua GMIT (1988) di Larantuka, Flores Timur, dan anggota jemaat HKBP Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Berita Terkait