Ani Natalia Pinem Tak Lelah Mengimbau Masyarakat agar Taat Membayar Pajak

134 dibaca
Ani Natalia Pinem. Cerdas dan nasionalis.

Beritanarwastu.com Tak banyak orang yang mendapat privilese dalam hidupnya, bisa berkarier dari bawah hingga  mencapai jabatan strategis. Salah satu orang yang beruntung itu adalah Ani Natalia Pinem (44 tahun). Dia Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan Kementerian Keuangan RI. Atas prestasinya dia juga meraih penghargaan Gold Winner dari PR Indonesia sebagai Insan PR Indonesia kategori Kepala Humas selama dua kali tahun 2017 dan 2018.

Ani demikian ia disapa, setelah tamat dari SMAN 91 Jakarta tahun 1992, meneruskan kuliah ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Jurang Mangu, Tangerang. Lahir di Medan dan besar di Jati Asih, Pondok Gede, Kota Bekasi. Ia lahir dari keluarga dengan ekonomi biasa, dan sesungguhnya dari kenyataan yang ada tak mungkin ia bisa kuliah di STAN, sebab orangtuanya (ibu) hanya seorang pedagang buah.

Namun tangan Tuhan menolong, walau tak bisa dipikirkan manusia, namun itu disediakan Tuhan baginya. “Secara logika tak mungkin saya melanjutkan kuliah saat itu. Ibu saya hanya pedagang jeruk di pasar Pondok Gede. Jika saya tak kuliah di STAN, mungkin saat ini saya hanya pedagang jeruk,” kisahnya. Tatkala dirinya masih belia, ayahnya meninggal. Sepeninggal ayahnya tak membuatnya urung berusaha, justru menjadi pemicu semangatnya untuk berjuang bagi keluarga. Sudah tentu peran ibulah di balik kesuksesan anak-anaknya. Ibunya selalu mendahulukan kepentingan anak-anaknya, dan mengusahakan pendidikan yang baik. “Sejak saya kecil, mama selalu berjuang agar kami anak-anaknya bisa sekolah, katanya.

Ayahnya  lebih dulu meninggal dunia. Semasa hidup ayahnya hanya seorang sopir, sudah tentu tak meninggalkan warisan harta untuk keenam anak dan isterinya. Otomatis sebagai anak keempat, ia meski masih belia mesti ikut membantu sang ibu berjualan jeruk di pasar. “Setiap pulang sekolah, saya selalu membantu ibu berjualan jeruk. Aktivitas itu rutin saya lakukan sejak SD sampai SMA. Setiap hari dagangan saya selalu habis sampai sesama penjual jeruk lain heran. Padahal jualannya sama, harganya juga. Kuncinya jujur dan full service. Saya pastikan jeruk yang dijual manis, saya pisahkan jeruk yang busuk, dan saya bantu membawakan sampai ke mobil pembeli, ujarnya.

Dia masih ingat kata-kata ayahnya, agar dalam mengerjakan sesuatu harus dengan sebaik-baiknya. “Ayah saya selalu bilang, meski jadi tukang sapu jadilah tukang sapu terbaik,” kata perempuan kelahiran Medan ini. Baginya, semangat ingin melakukan yang terbaik merupakan modal utama untuk bisa berhasil, dan berbagai macam upaya kerja keras dilakukan untuk bisa sukses. Jika sekolah jadilah sekolah yang rajin, jika bekerja jadilah pekerja dengan tekun. Selain itu, kiatnya, siap sedia bekerja keras, serta berjuang dengan tuntas. Baginya, orang yang ingin berhasil pasti siap sedia melalui proses seruwet apapun tantangannya. Menurutnya, cara terbaik mempersiapkan diri untuk hari esok adalah berusaha maksimal sembari menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Setelah lulus STAN Jurusan Pajak tahun 1995, Ani melanjutkan studi S2 ke Yokohama, Jepang, hingga meraih gelar Master of  Economy tahun 2004. Sepulang ke tanah air ia ditempatkan di Direktorat Penyuluhan. Tahun 2007 DJP membentuk Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Humas. Ia termasuk salah satu peserta yang mendapat pelatihan dan studi banding tentang kehumasan.

Di situlah dia menemukan panggilan hati seorang humas. Dia pribadi yang simple, tipe people person, senang menjalin hubungan baik dengan orang lain. Kesukaannya di bidang komunikasi itu membawanya mengambil kelas Inter Studi PR selama tiga bulan. Tahun 2013 ia dipromosikan sebagai Kabid P2 Humas Kanwil DJP Jakarta Pusat. Belum genap dua tahun ia diminta kembali ke kantor pusat untuk menjadi Kasubdit Humas DJP hingga saat ini.

            Ani sebagai seorang Kristiani tahu benar bahwa apa yang didapatkannya sekarang semata-mata karena anugerah Tuhan. Karenanya, dalam semua kegiatannya tak pernah ia melupakan Tuhan. Itu sebabnya, ia selalu aktif di persekutuan doa kantor. “Di awal-awal saya ikut melayani di Persekutuan Doa Oikumene. Saya percaya persekutuan doa itu penting bagi para karyawan Kristiani. Ini untuk membangun kerohanian, sikap mental,” ujar anggota jemaat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Pondok Gede, ini.

Membaca Alkitab sebagai buku penuntun hidup agar selalu tabah menjalani pekerjaan yang tak sedikit tantangannya, baginya, penting. Karenanya, ia mesti menjadi teladan untuk anak-anaknya agar senantiasa membaca Alkitab. Terkadang ada waktu-waktu tertentu dia mengajak anak-anaknya untuk bersama-sama membaca dan merenungkan firman Tuhan. Bahkan, kalau ada di antara anggota keluarga sakit, tak bisa ke gereja, maka digelar kebaktian di rumah. Sebagai perempuan karier ia juga tak lupa kodratnya sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya. Di tengah kesibukannya, ia sering menelepon anak-anak untuk memantau mereka. 

            Dan peranannya sebagai Kepala Subdit (Kasubdit) Humas Ditjen Pajak cukup besar untuk mensosialisasikan betapa pentingnya masyarakat membayar pajak. Ani mengutip ayat Alkitab, Roma 13:6. Itu juga sebabnya maka kamu membayar pajak karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Tuhan.  Sejak dulu orang agak alergi terhadap pajak, kita pelajari sejarah di zaman Romawi, lalu diteruskan sejarah Bizantium, merupakan penerus Romawi kuno, demikian ketatnya pajak dipaksakan dan memberatkan rakyat. Jika tak bayar pajak akan ditindak dan diganjar hukuman, sehingga itu membuat alergi orang terhadap pegawai pajak. Tetapi, sekarang, kata Ani, sudah tak lagi demikian.

Ia menambahkan, penulis Injil Matius orang yang berlatar belakang pemungut cukai alias pekerja pajak. “Pajak dipakai untuk pembangunan negara. Karena itu, kita harus menunaikan kewajiban kita kepada negara dengan taat membayar pajak. Kita mesti taat membayar pajak, dan tak perlu takut pajak, sebab kalau miskin tak dikenakan atau dipaksa untuk bayar pajak, tetapi orang-orang yang kayalah yang dipajaki,” cetusnya.

Dia menyebut, pendapatan negara 80% persen berasal dari pajak. Hanya saja, kata Ani, semangat atas ketaatan membayar pajak lagi-lagi belum menjadi kebiasaan di masyarakat. “Sampai sekarang baru 15 juta setiap tahun di Indonesia dari jumlah penduduk yang ada. Kita masih kurang membayar pajak,” ujar penyuka lagu-lagu gereja ini. Ke depan, ia berharap agar ketaatan membayar pajak itu menjadi habitus masyarakat. Sebab semua data wajib pajak telah terintegrasi dengan baik dengan semua instansi.

Dan ia optimis ketaatan masyarakat untuk membayar pajak akan bertambah. Buktinya tahun ini sudah tumbuh 13 persen. “Kita imbau pada masyarakat agar melaporkan SPT-nya dengan benar dan jelas. WP yang sudah mengikuti Tax Amnesty, laporan pajaknya sampai tahun pajak 2015, tak diusut lagi. Karena itu, jika masyarakat membutuhkan konsultasi bisa minta bantuan dari konsultan pajak. Saat ini, Indonesia ada lebih dari 4.000 konsultan pajak resmi, ujarnya.

               Bagaimana dukungan DJP terhadap keberadaan humas? “Dulu belum banyak kalangan internal yang mengetahui peran humas. Sekarang humas sudah menjadi top of mind. Humas selalu dilibatkan di setiap kegiatan, katanya. Dukungan kepada humas, bahkan dirasakan hingga di tingkat Kementerian Keuangan RI. Itu sebabnya, beberapa kali Menteri Keuangan Dr. Sri Mulyani mengadakan pertemuan khusus dengan para humas, termasuk humas DJP. Menteri Keuangan menyampaikan, “Kalian saya beri previlege untuk hadir di semua rapat saya.”  “Ibu Menteri percaya, humaslah yang paling mengetahui kapan informasi itu harus disampaikan ke publik, dan ke mana saja informasi harus dikomunikasikan,” ujarnya. 

Berita Terkait