Belasungkawa dan Doa dari Dewan Gereja-gereja Se-Dunia Atas Aksi Teroris di Mesir

362 dibaca
Kondisi gereja yang dibom di Mesir. Antikemanusiaan.

              BERITANARWASTU.COM. Ada sedikitnya 26 jemaat gereja di Mesir tewas setelah pelaku bom bunuh diri meledakkan bom saat memasuki tempat ibadah umat Kristen Koptik yang tengah merayakan Minggu Palma. Seperti dilansir Los Angeles Times, Minggu, 9 April 2017 lalu, serangan ini terjadi di Gereja Kristen Koptik St. George di Kota Tanta, sekitar 90 mil dari ibukota Mesir, Kairo. Tim penyelamat mengatakan,  telah menemukan 26 jasad. Sedangkan 70 jemaat yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Tidak lama kemudian bom juga terjadi di Gereja Santo Markus, di Alexandria.

Sejumlah saksi mata mengatakan kepada kantor berita pemerintah, Al Ahram, pelaku meledakkan bom yang dibawanya, bukan meletakkan bom di bawah kursi seperti yang dilaporkan sebelumnya. Laman Inggris, Mirror, melaporkan insiden ini sempat disiarkan langsung oleh televisi Mesir yang tengah menayangkan ibadah Minggu Palma.

              Ahmed Abu Zeid, juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, berkicau melalui Twitter,  ”Aksi teror kembali menghantam Mesir saat perayaan Minggu Palma. Serangan keji yang tak akan menggoyahkan warga Mesir.” Pada Desember 2016 lalu, sebuah bom mobil di dekat Katedral Koptik di Kairo menewaskan 25 orang. Sebanyak 45 orang lainnya mengalami luka-luka.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menetapkan keadaan darurat selama tiga bulan usai pengeboman dua gereja setempat. Penetapan keadaan darurat ini bersamaan dengan pemberlakuan hukum darurat yang memperluas wewenang kepolisian.

Dalam pidatonya di istana kepresidenan setelah menghadiri pertemuan dengan Dewan Pertahanan Nasional, seperti dilansir AFP dan Reuters, Senin, 10 April 2017, Presiden Al-Sisi menetapkan pemberlakuan keadaan darurat untuk tiga bulan ke depan. "Serangkaian langkah akan diambil, yang paling penting, pengumuman keadaan darurat selama tiga bulan setelah langkah hukum dan konstitusi diambil," tegas Presiden Al-Sisi.

Dengan penetapan masa darurat, maka aturan darurat pun diberlakukan, yang memperluas wewenang polisi untuk menangkap, mengintai, melakukan penyitaan dan membatasi kebebasan pergerakan.  Tidak hanya itu, Presiden Al-Sisi memerintahkan pengerahan tentara Mesir untuk membantu kepolisian dalam mengamankan lokasi-lokasi vital. Langkah ini tergolong langka diperintahkan oleh mantan jenderal yang kini menjabat Presiden Mesir ini.

Kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas dua ledakan bom di gereja kota Alexandria dan Tanta pada Minggu, 9 April 2017 itu. Sejauh ini, hingga berita ini diturunkan, total 44 orang tewas akibat ledakan di kedua gereja itu.

 

WCC Mengutuk Serangan Teror di Mesir

Dewan Gereja-gereja se-Dunia (World Council of Churches-WCC) mengutuk serangan tersebut.  Sekjen WCC, Rev. Dr Olav Fykse Tveit mengungkapkan kesedihan mendalam, dan menyampaikan belasungkawa dan doa untuk keluarga korban, untuk terluka dan untuk semua rakyat Mesir. Dia mendorong Mesir untuk berdiri teguh dan bersatu melalui banyak cobaan dan kesengsaraan yang terus mengancam.

Tveit mengatakan, “Dalam menghadapi kebrutalan ini, keluarga, manusia, semua orang beriman dan memiliki  niat baik, harus berdiri bersama-sama untuk bertekad, menghormati dan merawat satu sama lain, untuk melindungi satu sama lain, dan untuk mencegah kekerasan tersebut."

WCC meminta kepada Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, para pemimpin agama dan pimpinan di seluruh wilayah  itu untuk bertindak cepat dan berani untuk melindungi hak-hak agama yang mendasar dari umat dari semua agama, untuk menjamin keamanan dalam menghadapi kekerasan dan untuk menjamin keadilan bagi semua orang. Tempat ibadah yang mewakili banyak tradisi iman yang berbeda telah menjadi sasaran kekerasan oleh kaum ekstrimis.

Tveit menambahkan, “Tindakan pemerintah harus diimbangi dengan solidaritas di kalangan umat Islam, Kristen dan orang-orang dari semua agama, karena mereka berinteraksi di tingkat lokal dan bersama-sama mengecam serangan kekerasan.” Sementara itu, Mesir Al-Azhar, otoritas Islam tertinggi Sunni di Mesir, mengeluarkan pernyataan keras mengutuk serangan itu.

"Gereja-gereja dan rumah-rumah Koptik telah dibakar, anggota minoritas Koptik telah diserang secara fisik, dan properti mereka telah dijarah," melaporkan kelompok hak asasi Amnesty International pada Maret 2017. “Dalam masa-masa sulit dan menantang,” Tveit menambahkan, “Panggilan utama WCC pada para pemimpin agama dan nasional untuk mendukung orang-orang di Mesir, karena mereka menegaskan hidup dan terlibat dalam melawan tren negatif melalui cara-cara damai, seperti keterlibatan proaktif dalam dialog dan kemitraan antara Kristen dan Muslim di Mesir dan di seluruh dunia.” HT

 

Berita Terkait