DR. Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM
Berpikir Positif (Positif Thinking)

796 dibaca
DR. Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM

Beritanarwastu.com. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu, apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati (Yeremia 29:11-13).

Firman Tuhan akan tetap menjadi Logos; huruf yang tertulis dan tidak berdampak apa-apa dalam hidup kita, namun menjadi Rhema yang berbicara secara pribadi bagi mereka yang menerimaNya dengan iman. Firman Tuhan di atas berbicara kepada umat Israel melalui Nabi Yeremia. Serangkaian nubuatan yang disampaikan oleh Nabi Yeremia menjadi kenyataan di mana suku Yehuda dikalahkan dan dijadikan budak oleh Nebukadnezar raja Babel, karena pemberontakan demi pemberontakan yang mereka lakukan terhadap TUHAN dengan menyembah berhala-berhala.

Namun Tuhan juga tetap memperhatikan nasib umatNya, dan menjanjikan bahwa mereka akan kembali menikmati kehidupan yang penuh damai sejahtera. Apa yang menimpa umat Israel tersebut dapat menimpa diri kita. Di mana untuk sementara waktu kita mungkin hidup dalam penderitaan, karena tekanan hidup, kita kehilangan harapan dan menyerah. Pada saat demikianlah dengan iman, kita perlu menerima dan mengimani Firman Tuhan di atas, maka pikiran dan sikap kita akan berubah dari negatif menjadi positif.

Positive thinking (berpikir positif) bisa dilatarbelakangi dan didorong oleh dua motivasi.  Pertama, dengan kekuatan diri kita menerapkan mind-power, menghipnotis diri dan orang lain, dengan metode tertentu yang biasa dikenal dengan Silva mind-power method. Kemudian beberapa tahun yang lalu dunia juga dihebohkan dengan metode dalam buku The Secret karangan Rhonda Bryne yang menyerap kekuatan dari alam semesta untuk tujuan memperkaya diri.

Tentu saja bukan positive thinking demikian yang perlu kita praktikkan, namun positive thinking karena kita berpegang dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan dan kuasaNya yang dapat mengubah hidup kita, sebagaimana tercatat di Kitab Yeremia, “Beginilah firman TUHAN: Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yeremia 17:5-8).

Untuk memiliki positive thinking, pertama, kita harus percaya dan mengimani bahwa TUHAN senantiasa memiliki rancangan yang terbaik bagi hidup kita. Seperti apa bentuknya tidak perlu dan jangan kita membayang-bayangkan seperti maunya kita, karena kita dapat kembali terjebak pada mind-power. Rancangan TUHAN selalu yang terbaik, lebih baik dari yang kita bayangkan: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9).

Yang kedua, kita harus percaya bahwa situasi apapun yang kita hadapi, buruk apalagi baik, TUHAN sanggup mengubahnya untuk kebaikan kita: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya. Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:28-31).

Alkitab menceritakan dua buah kisah yang patut menjadi perenungan kita. Pertama, berkaitan dengan kehidupan bangsa, yakni kisah 12 pengintai yang dikirim Musa untuk mengintai Kanaan, Tanah Perjanjian, yang dikisahkan di Kitab Bilangan pasal 12 dan 13. Sekembalinya dari 40 hari pengintaian, 10 orang yang merupakan mayoritas menyampaikan berita negatif, karena mereka berpikir negatif, lebih terfokus pada ancaman (threat) ketimbang peluang (opportunity), sedangkan dua orang yang merupakan minoritas, yakni Kaleb dan Yosua, menyampaikan berita positif, karena mereka berpikir positif didorong keyakinan mereka akan pertolongan TUHAN.

Mereka lebih melihat peluang (opportunity) ketimbang ancaman (threat) pada kenyataan yang mereka sama-sama saksikan di Kanaan. Akhir dari peristiwa itu adalah 10 orang mati di padang gurun, tidak diizinkan TUHAN ikut masuk ke Tanah Perjanjian, hanya Kaleb dan Yosua yang diizinkan TUHAN masuk Tanah Perjanjian, menerima bagian warisan tanah untuk diri mereka dan keluarganya, dan Yosua menjadi Pemimpin Besar Perjuangan bagi bangsa Israel yang sangat dihormati sampai kini.

Kisah lain adalah berkaitan dengan sebuah keluarga, yakni Yakub. Yakub memiliki 12 anak, di mana di antara mereka ada Yusuf seorang anak yang lemah dibandingkan dengan anak lainnya, namun Yusuf sangat bergantung kepada TUHAN di sepanjang hidupnya. Dan karena itu TUHAN tidak pernah meninggalkannya sekalipun untuk sementara waktu Yusuf harus menderita dijual sebagai budak, difitnah masuk penjara. Pada waktunya TUHAN (kairos) hidup Yusuf berubah drastis, dari seorang narapidana menjadi seorang Perdana Menteri Mesir.

Sungguh tak terbayangkan, namun itu sesuai dengan janji Tuhan seperti diungkapkan oleh Nabi Yeremia dan Nabi Yesaya di atas. Dan bagaimana dengan nasib saudara-saudaranya? Mereka sangat ketakutan dan menyembah-nyembah Yusuf meminta belas kasihan Yusuf agar tidak dihukum. Sebetulnya Yusuf memiliki dan diperhadapkan dengan kesempatan emas (golden chance) untuk membalas semua perbuatan jahat saudara-saudranya, namun Yusuf adalah seorang yang dekat dengan TUHAN dan ia mengerti kehendak TUHAN, mengapa semua penderitaan itu harus ia lalui sebelum akhirnya Happy Ending. Karena itu, bukan balas dendam yang dilakukannya, melainkan sebuah pengampunan dan memandang semua penderitaan termasuk perbuatan jahat saudara-saudaranya sebagai bagian dan proses menuju posisi di mana Yusuf menjadi berkat besar bukan saja bagi sebuah keluarga, namun juga untuk sebuah bangsa bahkan dunia pada saat itu. Apapun keadaan Anda, penderitaan Anda, milikilah positive thinking dengan landasan iman kepada TUHAN dan TUHAN akan mengubah keadaan yang mengelilingi hidup Anda untuk kebaikan Anda.

Berita Terkait