Bersama BNN Gigih Memberantas Bahaya Narkoba

768 dibaca
Irjen Pol. Drs. Arman Depari. Peduli bangsa dan antinarkoba.

               BERITIANARWASTU.COM. Jenderal bintang dua dari Sumatera Utara (Sumut), Irjen Pol. Drs. Arman Depari, termasuk perwira tinggi Polri yang memiliki karir cemerlang. Ia merupakan lulusan Akpol tahun 1985, dan pertama kali bertugas di Direktorat Rerserse Polda Metro Jaya dengan pangkat Kompol. Dalam kariernya sebagai polisi ia sempat menjadi pemberitaan media massa ibukota dan daerah terkait insiden penikaman terhadap dirinya dan tiga orang rekannya saat menjalankan tugas.

               Seperti dikutip dari buku “Seratus Tokoh Karo”, yang salah satunya dimuat profil Arman Depari, tapi seiring berjalannya waktu, Tuhan membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. “Tuhan memberikan berkat yang lebih kepada saya. Saya semakin mengerti arti bersyukur,” kata jenderal berpenampilan tenang ini ketika mengenang masa awal karier sebagai seorang perwira polisi.

               Lalu ketekunan dan kerja kerasnya membawa alumni SMA Negeri Berastagi, Sumut, ini menduduki beberapa jabatan strategis di tubuh Polri, antara lain Kapolres Langkat, Kepala Densus 88 Poldasu, Direktur Tindak Pidana Narkoba Polda Metro Jaya dan Direktur IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, hingga jadi Kapolda Kepulauan Riau sejak September 2014 lalu. Dan sekarang ia salah satu petinggi BNN.

               Pengabdian dan kecintaannya pada dunia kepolisian sebagai cita-cita masa kecilnya memang benar-benar total. Setiap jabatan yang dipercayakan pimpinan kepada pencinta olahraga jogging dan catur ini dilaksanakan dengan sepenuh hati bersama timnya. Arman Depari lahir di Berastagi, putra pasangan N. Depari (seorang tokoh pejuang kemerdekaan menerima penghargaan dari Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono) dan ibu R. Br. Bukit (Alm.). Arman menghabiskan masa kecilnya di kota sejuk Berastagi sampai lulus pendidikan menengah atas.  Dan ia dikenal sosok polisi yang cukup menginspirasi dan penuh dedikasi. Sosoknya yang bersahaja, ramah namun penuh kehati-hatian.

              Sebagai polisi prestasinya cukup baik, dan ia profesional, tipe pekerja keras dan sangat berpengalaman pada bidang reserse. Kini dia pun menunjukkan totalitasnya yang tidak setengah-setengah menangani pemberantasan  bahaya narkoba. Setelah hampir lima tahun menjadi Dirtipid Narkoba Mabes Polri, pada awal September 2014 lalu, Kapolri Jenderal Pol. Sutarman melantik Arman Depari menjadi Kapolda Kepri.

Pada Jumat, 20 Mei 2016 lalu, Forum Komunikasi (FORKOM) Tokoh-Tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU pun pernah mengundang Arman Depari berbicara dalam diskusi "Menyikapi Bahaya Narkoba yang Merongrong Ketahanan Nasional" di Restoran Handayani, Matraman, Jakarta. Sebagai Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam diskusi yang dihadiri 50-an tokoh Kristiani ini, Arman mengatakan, sejak era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah dikatakan, Indonesia darurat narkoba.

 

Menurutnya,  Presiden RI juga mengatakan, situasi darurat narkoba saat ini terjadi di Indonesia yang punya penduduk 240 juta orang. Dan 2,8% masyarakat terkena narkoba atau menggunakan. Berarti ada 4 sampai 5 juta orang dari penduduk kita yang memakai narkoba.

 

Menurutnya, kalau 2,5% itu sudah darurat. “Sehingga inilah tugas kita semua, termasuk warga gereja untuk ikut memberantas narkoba,” cetus Arman  yang pernah mengikuti kursus “Drugs Commander Team” dan “International Drugs Low Infrome” di luar negeri. Hasil survei Lembaga Kesehatan UI dan BNN menyimpulkan, 40-47 orang meninggal per hari, karena narkoba. Ada kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat, itu juga bisa karena memakai narkoba. Dan yang paling banyak dipakai di Indonesia adalah ganja, cannatis, shabu dan ekstasi. “Kalau tak ada pencegahan, maka ini akan terus berkembang,” paparnya.

 

Menurut Arman, dampak dari bahaya narkoba ini, bisa kekerasan di jalanan, pelecehan seksual, kekerasan di rumah tangga, terjadi persoalan dalam hubungan suami dan istri serta anak-anak, lalu narkoba juga menyerang susunan syaraf otak, dan narkoba mengarah pada penyakit HIV/AIDS. Katanya lagi, estimasi kerugian negara secara ekonomi akibat bahaya narkoba pada 2014, yakni Rp 63,1 triliun.  Atas masalah narkoba itu pula Arman mengajak para pemimpin untuk menjaga fisiknya agar sehat dan mentalnya tak rusak. “Bagaimana mungkin bersaing dengan orang sehat kalau ia pakai narkoba,” tegas Ketua Dewan Pembina LSM Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) yang dipimpin tokoh antinarkoba, Pdt. Jefri Tambayong, S.Th ini.

 

Orang sekarang, kata Arman, gampang untuk mendapatkan narkoba. Dan ada pengaruh orang-orang dari luar negeri yang membuat peredaran narkoba semakin marak. Dan di LP-LP (lembaga pemasyarakatan) banyak juga sekarang orang Kristen yang masuk karena terlibat narkoba. “Kita pun meminta agar para tokoh Kristen dan pendeta tahu soal itu,” kata pria yang sudah banyak mengikuti kursus dalam menangani bahaya narkoba di luar negeri ini. Ada lokasi-lokasi di DKI Jakarta, seperti Kampung Ambon, Matraman, Teluk Gong dan Kampung Bali yang rentan dalam peredaran narkoba. Bahkan, pengedar narkoba ada yang namanya dari Alkitab.

 

Arman menegaskan, bagaimana mereka punya kasih terhadap sesama kalau mereka justru menyebarkan narkoba di tengah sesama. Dan kita harapkan agar ormas-ormas Kristen, seperti PGI dan KWI dan yang lainnya bisa ikut memberantas narkoba. Ibu Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial RI), karena peduli pada masalah narkoba, ia sampai membentuk Laskar Muslim Antinarkoba. Jadi kita harus peduli pada persoalan narkoba. Saya sudah 10 tahun di BNN, dan kita harus lawan pengedar narkoba atau bandarnya. Narkoba datangnya seperti pencuri malam. Kita tidak tahu apakah pas anak kita tidur di kamar, ada di sana narkoba,” tukas Arman yang pernah ditugaskan negara untuk ikut dalam Pasukan Perdamaian PBB ke Kamboja dan Yugoslavia.  

Berita Terkait