Pdt. Dr. Djoys Anneke Karundeng Rantung, M.Th
Bersyukur Terpilih Sebagai Salah Satu dari “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan NARWASTU”

989 dibaca
Pdt. Dr. Djoys Anneke Karundeng Rantung, M.Th (kanan) saat menerima penghargaan dari Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos sebagai salah satu dari “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan NARWASTU.”

BERITANARWASTU.COM. Hamba Tuhan yang satu ini menerangkan, di dalam hidup ini ia tulus melayani, dan tidak ada keinginannya untuk meraih prestasi atau pujian dari orang lain. Pelayanan di gereja, baginya, adalah panggilan dari Tuhan Yesus. “Ketika saya dinyatakan sebagai salah satu dari 21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan Majalah NARWASTU, saya sangat bersyukur, karena yang memilih orang lain. Keluarga saya pun bersyukur atas pemilihan ini,” ujar Pdt. Dr. Djoys Anneke Karundeng Rantung, M.Th seusai menerima pigura penghargaan dari Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos, baru-baru ini di Jakarta.

                Pdt. Djoys menerangkan, ia meyakini bahwa Tuhan memakai Majalah NARWASTU sebagai alatNya untuk menghargai hamba-hambaNya. “Saya mengimani di dalam hidup ini tak ada yang terjadi kebetulan. Ketika kita sudah mau berlelah melayani Dia, maka Tuhan bisa memakai siapa saja untuk menghargai pelayanan kita. Dan penghargaan itu saya terima dari NARWASTU. Dan Tuhan tentu tahu apa yang saya kerjakan,” paparnya.

                Menurut Pdt. Djoys yang berparas cantik dan energik ini, saat pertama kali diberitahukan bahwa ia termasuk dalam jajaran tokoh Kristiani pilihan NARWASTU, ia merasa seperti bermimpi. “Saya dalam hati bertanya, bagaimana penilaiannya, dan toh masih banyak orang yang lebih baik dari saya. Dan suami saya pun tertawa saat saya beritahu soal ini, namun dia bangga juga. Bagi saya, penghargaan ini merupakan sebuah motivasi dan evaluasi dalam hidup dan pelayanan saya,” terangnya.

                Setelah mendapat penghargaan ini, imbuhnya, ia tentu punya beban untuk berbuat lebih baik bagi pelayanan. “Dalam hidup ini ada kita alami suka dan duka, sehingga kita harus bijaksana menyikapinya. Ketika ada penghargaan sebagi tokoh pilihan NARWASTU, tentu saya mesti mengembangkan diri agar lebih baik lagi,” paparnya. Menurut Pdt. Djoys, ketika ia terpilih jadi tokoh Kristiani, ada banyak pesan pendek (SMS) dan WA yang ia terima menyampaikan ucapan selamat. Sebelumnya, kalau ia dipublikasikan di NARWASTU mahasiswanya pun memberi apresiasi atas beritanya itu.

                “Saya terima banyak ucapan selamat, baik lewat Face Book, SMS dan WA atas penghargaan dari NARWASTU. Bahkan, teman-teman dari GMIM (Manado, Sulawesi Utara) mengatakan, mereka bangga dengan penghargaan tersebut. Makanya mereka meminta saya agar bisa berbuat lebih banyak dalam pelayanan perempuan di Sulawesi Utara,” pungkasnya. Pdt. Djoys yang selama ini sudah sering menyimak sajian Majalah NARWASTU berkomentar, di kalangan umat Kristiani di Tanah Air NARWASTU ini media rohani yang cukup populer, termasuk di Sulawesi Utara.

                “Harapan saya kepada Majalah NARWASTU agar majalah ini jangan berhenti untuk terus menjembatani tokoh-tokoh Kristiani untuk bersatu, seperti dengan adanya pembentukan FORKOM NARWASTU. NARWASTU saya harapkan agar terus menjadi media yang terpercaya dan pemersatu serta terus berkibar di Indonesia. Namun jangan hanya tokoh-tokoh yang diangkat, tapi perhatikan juga umat Kristen yang ada di bawah,” harapnya bijaksana.

                Pdt. Djoys Anneke Karundeng Rantung selama ini dikenal seorang Hamba Tuhan pemikir atau intelektual, dan lewat tulisan-tulisannya ia sering memberi solusi atas persoalan yang terjadi di tengah gereja dan masyarakat. Seperti tulisannya yang dimuat NARWASTU di Edisi Juni 2015 lalu berjudul “Refleksi dan Harapan atas Perjalanan Ziarah 65 Tahun PGI,” Pdt. Djoys Anneke Karundeng Rantung menuangkan sebuah tulisan yang cukup menarik.

            Pdt. Djoys menulis, PGI adalah wadah oikoumenis yang benar-benar mewujudkan keesaan sampai pada aras yang paling bawah, bahwa “kita adalah satu karena Dia adalah satu yang mempersatukan kita”, mempersatukan umat dalam berbagai denominasi antar dan interen gereja Protestan. PGI juga menjadi corong bagi Pemerintah dengan pergumulan-pergumulan bangsa dan negara atas masalah-masalah yang terjadi atas bangsa kita, yakni Indonesia.

“Masalah korupsi, radikalisme, konflik dan kekerasan, HAM, lingkungan hidup, dan terutama masalah sekarang ini, yakni kontroversi eksekusi mati bagi penjahat narkoba. Tetapi bukan berarti gereja-gereja berpihak pada kejahatan dan narkoba. Narkoba adalah musuh gereja-gereja dan harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Indonesia harus bersih dari segala bentuk kejahatan, termasuk narkoba,” tulisnya. Namun, tulisnya lagi, harus memisahkan atau membedakan antara kejahatan seseorang yang harus dibabat dan dibumihanguskan dengan hak atas kehidupan, karena seseorang bukanlah pemilik kehidupan baik kehidupannya sendiri apalagi kehidupan orang lain.

“Kejahatan dan narkoba haruslah diberantas sampai ke akar-akarnya, namun hak atas hidup haruslah dijunjung tinggi sebagai sebuah sikap atas penyadaran diri seseorang, karena eksekusi mati bukan solusi akhir, berakhirnya mata rantai narkoba,” tulisnya. Kejahatan dan narkoba harus diberantas sampai ke akar-akarnya, namun hak atas hidup harus dijunjung tinggi sebagai sebuah sikap atas penyadaran diri seseorang, karena eksekusi mati bukan solusi akhir, berakhirnya mata rantai narkoba.

 

  

Pdt. Dr. Djoys Anneke Karundeng Rantung, M.Th tampak bersalaman dengan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos. 

“Inilah harapan-harapan yang dapat saya sampaikan dari sebuah refleksi pribadi mengenai perjalanan ziarah PGI 65 tahun. ‘Jayalah PGI, semangat oikoumenismu tetap menyala…bersama-sama semua gereja-gereja dalam bahtera oikoumene mendayung bahtera menuju tujuan.’ Tuhan memberkati. Syalom Aleihim. Gloria in excelsis Deo,” tulis Ketua Panitia Konas Perempuan PGI di Kupang (2016) dan Ketua Panitia Natal-Tahun Baru 2015 PGI ini.

                Nah, terkait dengan pelayanan Pdt. Djoys, pada Mei 2016 lalu, bagi keluarga Pdt. Djoys adalah bulan yang memiliki banyak makna. Soalnya, di bulan itu ada banyak berkat yang ia terima dari Tuhan bersama keluarga. Dan wujud syukurnya dituangkan dalam bentuk perayaan sederhana di kediamannya di Jakarta yang dihadiri para saudara dan koleganya.

Ketika itu rasa syukur dirasakannya, karena pada bulan Mei 2016 itu, Pdt Djoys bisa menyelesaikan program doktoral, dan ujian disertasinya bisa berjalan dengan baik dan memperoleh nilai sangat memuaskan. Demikian juga di bulan itu merupakan perayaan hari ulang tahun pernikahan ke-19 bersama sang suami tercinta Kenny Ever Karundeng. Berbarengan dengan itu, sang putri tercinta Nathasya Grace Karundeng baru saja menyelesaikan pendidikan sidi di Gereja GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) Trinitas dan berhasil menamatkan pendidikan menengah atas untuk selanjutnya meneruskan kuliah di Negeri Sakura (Jepang).

Ungkapan syukur yang demikian dalam begitu membuncah dalam sanubari Pdt Djoys. Tak heran, binar-binar sukacita tergurat di raut wajah mereka sekeluarga. “Semua ini hanya karena anugerah Tuhan,” ujar Pdt Djoys yang lahir di Manado, 18 Januari 1967 ini. Setelah menempuh pendidikan doktoral, akhirnya Pdt. Djoys mampu menuntaskan dengan disertasi bertajuk Resolusi Konflik dalam Organisasi Suatu Tinjauan Pendidikan Perdamaian Terhadap Kasus Konflik UKIT. Cukup menarik menelisik judul disertasi pendeta yang saat ini melayani di GPIB Trinitas Kota Wisata dan sebagai Pendeta GMIM di wilayah Gereja Protestan di Indonesia (GPI) ini.

               Tak ayal, banyak pihak meminta dirinya sebagai pembicara dalam seminar atau diskusi, utamanya soal pendidikan perdamaian. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, di lembaga gerejawi sekalipun, konflik kerap terjadi. Bahkan, konflik yang muncul terkadang berujung pada pemisahan sekelompok orang untuk selanjutnya mendirikan sinode atau lembaga baru.

Hal itu pula yang ternyata melahirkan keprihatinan mendalam bagi Pdt Djoys yang juga Ketua Tim Kerja Ibadah Perdana GMIM se-Jabodetabek (2016). Karena itu, salah satu solusi yang ia tawarkan adalah pendidikan perdamaian, bukan saja sebagai solusi mengentaskan konflik yang terjadi, tapi juga merupakan upaya preventif yang bisa dikembangkan gereja dan lembaga Kristiani dalam  meminimalisir kemungkinan terbukanya ruang konflik.

Selain itu, era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pun membutuhkan pendidikan perdamaian. Sebab, di tengah persaingan yang terbuka, utamanya soal ekonomi, bisa berpotensi konflik karena gesekan yang terjadi tentu semakin tajam. “Itu harus disikapi dengan pengembangan pendidikan perdamaian di semua lini kehidupan,” tambah ibunda dari Nathasya Grace Etsuko Karundeng dan Davis Kennedy Karundeng ini. Pdt. Djoys juga Wakil Ketua Panitia HUT ke-65 PGI (2015), Wakil Ketua Peresmian Grha Oikoimene PGI (2014) dan Ketua Panitia Pelantikan MPH PGI (2015).

Bagi Pdt. Djoys yang juga dosen di UI dan UKI Jakarta, sosialisasi pendidikan perdamaian menjadi sebuah upaya preventif yang sudah harus mulai dilakukan. Dan, itu sejatinya dimulai di level pribadi dan keluarga.  “Dengan memiliki rasa damai pribadi, maka itu bisa ditularkan kepada keluarga, lingkungan, dan alam sekitar. Konsep damai adalah berdamai dengan Tuhan, diri pribadi, dan ciptaan Tuhan lainnya,” terangnya.  Memiliki damai secara pribadi akan mendorong terciptanya kedamaian di lingkup yang lebih luas. Pdt. Djoys berpesan, milikilah damai di hati sehingga damai jugalah hidup ini.

              Sementara suami tercinta Pdt. Djoys, Kenny Karundeng ketika berkomentar tentang sang istri tercinta yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan NARWASTU” menuturkan, “Saat pertama kali mendengar bahwa istri saya Pdt. Djoys Karundeng terpilih masuk tokoh Kristiani, saya kaget juga. Tapi apapun itu, pilihan itu berasal dari luar dan ada kriterianya. Dan saya amat yakin bahwa pihak NARWASTU sudah mempertimbangkan segala sesuatunya,” ucap Ken Karundeng.

            “Masih banyak memang tokoh yang lebih baik dari Ibu Pdt. Djoys, namun dia dipilih karena itu juga pekerjaan Tuhan. Dan harapan saya Ibu Pdt. Djoys terus menjadi berkat bagi banyak orang denganadanya penghargaan ini. Termasuk untuk NARWASTU, saya ucapkan terima kasih, kiranya terus diberkati Tuhan. Dengan membaca NARWASTU kita berharap umat Kristen bisa semakin tahu tentang keadaan warga gereja,” tukasnya. KL

Berita Terkait