Berteriak Lebih Keras

• Oleh: Rio Ririhena, S.Sos. 586 dibaca


           BERITANARWASTU.COM. Banyak pengalaman yang diceritakan oleh tim penyelamat saat bekerja cepat menolong korban gempa bumi, kebakaran dan lain-lain. Salah satu penyebab mereka bisa dengan cepat menolong para korban adalah mereka mendengar teriakan para korban dari bawah reruntuhan atau dari tempat yang tidak terlihat. Dan saat ditemukan tidak sedikit korban tersebut sudah dalam kondisi yang lemas dan tidak berdaya.

            Artinya di tengah-tengah kondisi seperti itu mereka masih berusaha untuk berteriak minta tolong karena mereka percaya regu penolong pasti sedang bekerja keras untuk menemukan dan menyelamatkan mereka.  Dalam perikop Matius 20:29-34 kita menemukan ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan, dan mereka mendengar bahwa Tuhan Yesus lewat saat keluar dari Yerikho.

Mereka berdua berseru, "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" Saya membayangkan saat mereka berdua berteriak minta Tuhan Yesus menolong mereka, mereka pasti percaya bahwa seperti orang lain yang sudah disembuhkan oleh Tuhan Yesus, mereka pun punya kesempatan yang sama. Kesempatan untuk disembuhkan.

             Tetapi rupanya orang banyak yang saat itu berada di sana, mereka menegor kedua orang tersebut agar mereka diam. Namun Alkitab mencatat kedua orang buta tersebut justru berteriak semakin keras. Mereka tidak peduli dengan larangan dan hardikan orang banyak kepada mereka. Keinginan mereka untuk disembuhkan oleh Tuhan Yesus membuat mereka terus bersemangat untuk memanggil Tuhan Yesus walaupun mereka tidak bisa melihat Tuhan Yesus secara langsung.

               Apa yang terjadi? Ayat 32 mencatat, mereka berhasil menghentikan langkah Tuhan Yesus dengan teriakan mereka. Tuhan Yesus memanggil mereka dan berkata, "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" Dengan sigap mereka menjawab, "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat." Perikop ini ditutup dengan ayat 34 demikian: Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat.

             Saat dalam situasi yang mencekam, di antara hidup dan mati, para korban gempa bumi berteriak semampu mereka dengan harapan suara mereka masih didengar oleh regu penolong untuk segera menemukan dan mengeluarkan mereka dari balik reruntuhan. Dan saat suara mereka terdengar, regu penolong akan bergerak cepat, berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan mereka.

          Kedua orang buta itu pun berteriak lebih keras untuk menarik perhatian Tuhan Yesus dan mereka berhasil. Tuhan Yesus mendengar, bahkan menyembuhkan mereka. Bagaimana dengan kita? Saat kita merasa ada dalam tekanan, pergumulan yang berat, mengharapkan pertolongan Tuhan, apa yang kita lakukan?

        Apakah kita pasrah dan berserah dan tanpa berbuat apa-apa?  Bahkan doa yang kita panjatkan pun berupa doa yang biasa-biasa saja, doa yang rutinitas, doa yang tidak diucapkan dengan iman. Dan apa hasilnya? Apakah kita melihat dan merasakan pertolongan dan mukjizat Tuhan kemudian?

         Kita belajar dari dua orang buta ini. Saat mereka tahu Tuhan Yesus mampu menolong dan menyembuhkan mereka, mereka tidak menghiraukan apa kata orang. Mereka tidak menyerah begitu saja saat diminta diam oleh orang banyak. Demikian juga para korban gempa bumi yang berhasil diselamatkan regu penolong, karena mendengar suara teriakan mereka. Bagaimana jika mereka pasrah dan memutuskan untuk berhenti berteriak? Pasti akan lain ceritanya.

            Saat ini, dalam menghadapi pergumulan hidup kita, pergumulan pribadi, pergumulan keluarga, pergumulan di tempat pekerjaan, bahkan pergumulan di tengah-tengah pelayanan kita, apa yang sudah kita lakukan? Apakah kita putus asa dan berhenti "berteriak kepada Tuhan, karena tekanan dari lingkungan kita? Apakah kita berhenti dan memutuskan bahwa sampai di sinilah hidup saya?

            Seperti regu penolong dan Tuhan Yesus sendiri yang siap menolong kita, terkadang kita harus lebih keras "berteriak" meminta jawaban Tuhan dengan yakin bahwa pertolonganNya tidaklah pernah terlambat. Usaha kita seharusnya usaha yang maksimal di dalam Tuhan, bukan usaha yang asal berdoa dan tidak meyakini kuasa dan pertolongan Tuhan. Saat kita tidak meyakini pertolongan dan kuasaNya dalam hidup, kita akan dengan gampang berhenti "berteriak" dan menyerah saat dunia melarang kita untuk itu.

          Indahnya, saat kita sudah mengalami pertolongan Tuhan yang sudah mendengarkan teriakan kita, seperti kalimat terakhir di ayat 34, "...seketika itu juga mereka melihat dan mengikuti Dia." Tuhan mau setelah kita mengalami dan menikmati kasih dan anugerahNya, kita tidak tinggal diam. Seperti kedua orang buta yang telah disembuhkan itu, mari kita mengikuti Dia, berkarya nyata dalam hidup kita, menjadi berkat bagi orang lain dan memuliakan Tuhan.

 

·         Penulis adalah Ketua Komisi Dewasa GKI Pamulang, Tangerang, dan alumni Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta.

Berita Terkait