Ketua III Pengurus Pusat PGLII, Y. Deddy A. Madong, S.H.
Bicara Peran dan Tanggung Jawab Kaum Injili di Tengah Masyarakat dan Bangsa

981 dibaca
Y. Deddy A. Madong, S.H. Tak berhenti melayani di tengah gereja dan bangsa.

Beritanarwastu.com. Ketika berbincang-bincang dengan Majalah NARWASTU di kantor PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini, tokoh PGLII yang juga Sekjen ELHAM (Lembaga Advokasi Hukum dan Hak Azasi Manusia) ini banyak berbicara tentang peran dan tanggung jawab kaum Injili di tengah masyarakat dan bangsa. “PGLII sudah 45 tahun berkiprah di tengah bangsa ini, sebagai salah satu lembaga aras nasional yang mempunyai anggota 93 sinode, 117 lembaga dan yayasan serta 25 perwakilan wilayah di seluruh Indonesia dengan jumlah umat sebesar kurang lebih 10 juta ingin lebih lagi berperan dan berkontribusi di dalam menyukseskan pembangunan manusia, keadilan dan kesejahteraan di bangsa ini,” ujar Ketua III Pengurus Pusat PGLII, Y. Deddy A. Madong, S.H. yang membawahi Komisi Pelmas, Komisi Infokom/Humas dan Komisi Advokasi serta Hukum.
Perbincangan dengan Deddy Madong yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 dan 2014 Pilihan NARWASTU” ini berlangsung santai, akrab namun serius sembari menyeduh kopi hangat dan menyantap aneka kue-kue basah. Bahkan, katanya, di dalam rangka memberikan informasi pelayanan PGLII di tengah masyarakat secara nyata, PGLII menggunakan segala fasilitas media informasi, selain media sosial dan lain-lain, PGLII juga akan meluncurkan format website terbaru: www.pglii.or.id, karena sekarang era teknologi komunikasi. “Melalui website format baru PGLII  ini nanti bisa menyampaikan segala pelayanan, aktivitas, program program nyata, pokok-pokok pikiran PGLII, dan lain-lain ke publik. Kami selama ini pun menjalin hubungan baik dengan media-media Kristiani, seperti dengan NARWASTU,” papar advokat senior yang juga pengurus Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) ini.
 Peran media di era modern dan era komunikasi sekarang, imbuhnya, sangat penting. “Bagaimana orang tahu kegiatan PGLII kalau tidak dipublikasikan di media. Seperti yang kita publikasikan di NARWASTU yang dibaca umat dan banyak pemuka Kristen. Kami sangat paham peran media itu luar biasa. Media tak hanya memberitakan atau membentuk opini publik, tapi juga dapat mengangkat tokoh-tokoh. Seperti baru-baru ini Majalah NARWASTU memberikan penghargaan atau award kepada Pak Ahok (Gubernur DKI Jakarta) dan dihargai oleh beliau. Itu luar biasa, dan ini menunjukkan media Kristen semakin diperhitungkan,” cetus Deddy Madong yang juga pengurus  “Alkitab Suara”,  produk anak bangsa yang pertama di Indonesia di mana Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di audio dramatis dalam bahasa Indonesia ini. 
  “Ternyata sebelum Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta ia sudah dipublikasikan NARWASTU, dan diberi penghargaan sebagai ‘Tokoh Antikorupsi yang Ingin Memimpin DKI Jakarta’. Penghargaan itu dibuat pada akhir 2011, sebelum ia jadi Gubernur DKI Jakarta, berarti itu semacam prediksi atau doa dari teman-teman di NARWASTU kepada Ahok. Dan buktinya Ahok sekarang jadi pemimpin fenomenal yang diakui kiprahnya, itu juga karena peran media dan tentunya doa banyak orang,” ujarnya. 
“Jadi media Kristen juga punya peran yang amat penting dalam melahirkan dan mengorbitkan calon pemimpin. Pemikiran pemikiran mereka itu diangkat oleh media dan bukan pencitraan. Kita harapkan media ikut andil di dalam membentuk dan melahirkan pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang cerdas untuk bangsa ini, media juga yang menyoroti karakter dan moral dari pemimpin yang dimaksud. Saya percaya Ahok juga dibantu media selama ini sehingga dia semakin besar,” terang Wakil Ketua Yayasan pengurus STT INTI, Bandung ini.
Ketua Komisi Pelayanan Masyarakat dan Advokasi Hukum Majelis Pusat Sinode GKPB (Gereja Kristen Perjanjian Baru) MDC ini menerangkan, “Apa yang dilihat dan dilakukan NARWASTU sangat jauh ke depan ketika memberikan penghargaan kepada Pak Ahok. Ini yang seharusnya dilakukan media Kristen melihat calon pemimpin bangsa dari umat Tuhan jauh ke depan, pemimpin yang berprestasi, berkarakter, bermoral tinggi, pemikiran- pemikirannya cemerlang untuk bangsa ini yang seharusnya dipromosikan oleh media Kristen,” ujar Ketua Panitia Rakernas PGLII XI 2015 ini.
Ketika diminta komentarnya tentang fenomena politik di DKI Jakarta menjelang Pilkada DKI Jakarta pada 2017, Deddy Madong dengan bijak menuturkan, saat ia menjabat sebagai Ketua PGLII Wilayah DKI Jakarta periode 2008-2012, ia ingat pernah mengkritisi dan mengingatkan dua pimpinan gereja besar dan tergolong senior di DKI Jakarta dan juga anggota PGLII supaya bijaksana menyikapi Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu. “Ketika itu saya diundang PGI Wilayah DKI Jakarta berbicara di sebuah seminar politik tentang Pilkada DKI Jakarta di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saya diundang berbicara dengan Dr. Victor Silaen (alm./pakar politik) dan Jeirry Sumampouw, S.Th (kini humas PGI). Ketika itu saya sampaikan sikap PGLII bahwa kita harus cerdas, cerdik dan bijaksana dalam menyikapi setiap event-event politik,” paparnya.
“Jangan sampai ada pemimpin gereja, sinode yang mendukung secara terang-terangan salah satu calon kepala daerah, ini sangat memprihatinkan. Jadi kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dalam menyikapi politik. Gereja jangan sampai terlibat politik praktis, namun gereja harus menyampaikan suara nabiah atau suara kebenaran ketika ada event politik. Dan itu tergantung bagaimana mengemasnya  dalam komunikasi yang baik, santun dan tetap netral. Jangan mati-matian mendukung calon tertentu dengan mengatasnamakan gereja A atau sinode B. Sebaiknya bawa dalam doa terlebih dahulu calon pemimpin yang dimaksud, bukan karena calon pemimpin itu menjanjikan sesuatu, seperti akan memberi izin membangun tempat ibadah atau menyumbang, kalau dia dipilih,” cetusnya.
“Sikap politik PGLII jelas, tidak terlibat dalam politik praktis, atau membawa-bawa nama organisasi untuk mengomentari atau jadi tim sukses seseorang calon kepala daerah. Namun kita mendukung umat Kristen untuk berpolitik secara cerdas. Tentu yang harus didukung dan didoakan adalah pemimpin yang punya visi atau misi, bermoral dan mencintai rakyat, pemimpin yang terbukti punya kerja-kerja yang nyata yang bermanfaat bagi banyak orang, antikorupsi dan antidiskriminasi,” terangnya. Dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) PGLII DKI Jakarta tahun 2016, kata Deddy, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII Wilayah DKI Jakarta Reggie Tentero, S.H., M.H. yang juga Bendahara Umum PP PGLII menyerukan pentingnya PGLII DKI Jakarta agar memanfaatkan momentum Pilkada DKI Jakarta 2017 untuk bersikap bijaksana, netral dan tetap peka melihat dinamika politik yang terjadi dalam masyarakat.
“Sikap kita tentu berdoa bagi pemimpin yang akan tampil dan memilih dengan bijaksana. Tentu yang diutamakan adalah calon yang benar-benar dicintai rakyat, berprestasi, punya visi dan misi, program yang jelas, punya integritas dan moral yang baik dan antikorupsi,” paparnya. Deddy Madong saat menjabat sebagai Ketua PGLII Wilayah DKI Jakarta, masih mengingat pada akhir 2011 lalu ia pernah ditelepon Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. alias Ahok, yang saat itu masih anggota DPR-RI dan sedang berjuang maju dari jalur independen untuk Pilkada DKI Jakarta 2012.
“Karena adik Ahok itu sahabat saya yang ikut mendirikan ELHAM, Ibu Fifi Letty, yang juga teman sesama pengacara. Saat itu Ahok menyampaikan soal kerinduannya untuk maju di Pilkada DKI Jakarta kepada saya. Saya terus terang mendukung kerinduannya untuk maju di Pilkada DKI Jakarta 2012. Mungkin Ahok tahu melalui Pak Pdt. Nus Reimas (mantan Ketua Umum PGLII dan kini Ketua Majelis Pertimbangan PGLII) saat itu saya memimpin 52 sinode dan lembaga Injili di Jakarta yang umatnya kurang lebih 500 ribu jiwa. Tapi saya tidak membuat PGLII DKI Jakarta yang saat itu saya pimpin mendeklarasikan diri untuk mendukung dia, karena PGLII sebagai organisasi gereja harus tetap netral, sebagai pribadi tentu saya dukung dia. Umat itu, kan, seperti domba kalau lihat bahasa tubuh gembala atau pimpinannya ke mana, nggak usah ngomong mereka juga secara pribadi dukung, makanya Jokowi dan Ahok menang, kan, pada saat itu,” ujar Deddy Madong sambil tertawa.
Berbicara soal figur Ahok, Deddy Madong berpendapat, “Saya melihat gaya dan karakter Ahok fenomenal. Sikapnya tegas dan keras, apalagi terhadap koruptor dan pejabat yang munafik. Ini kan seperti gambaran Yesus saat Dia melayani di dunia. Yesus ketika  itu tegas melawan hipokrit atau kemunafikan pejabat dan tokoh agama saat itu. Yesus menghardik dengan keras kepada mereka, Dia katakana, hai kamu orang munafik, kamu itu seperti kuburan yang dilabur putih tapi isinya dalamnya tulang belulang. Jadinya pejabat korup dan munafik itu menjadi sakit hati sama Yesus. Di sisi lain, Yesus selalu berpihak dan mengasihani kaum papa, orang-orang miskin dan mengangkat harkat kemanusiaan mereka. Ahok saya lihat gaya dan karakter seperti Yesus yang tegas sama koruptor namun peduli pada orang-orang miskin,” paparnya.
Ahok, kata Deddy Madong, kalau saya lihat dalam berjuang tidak pandang bulu, tidak melihat SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), sikapnya inklusif, namun ia membangun paradigma baru, yaitu mengangkat harkat martabat orang-orang miskin di Jakarta agar hidupnya lebih dimanusiakan. Misalnya, dia menempatkan masyarakat yang tinggal di pinggiran kali, kumuh agar bermukim di tempat yang layak huni. Lalu ia memperhatikan pendidikan anak-anak yang miskin. Ia melihat jauh ke depan, dan punya visi dalam mensejahterakan warga DKI Jakarta.  Ahok berupaya mengangkat harkat kemanusiaan warga DKI Jakarta. “Kita butuh figur-figur seperti Ahok di berbagai daerah,” ujarnya.
Oleh karena itu, Deddy Madong menyampaikan, saat ini PGLII dalam program-program nyatanya sudah mulai mempersiapkan program bagi generasi muda dan calon pemimpin Kristen yang berintegritas, berjiwa nasionalis, punya wawasan kebangsaan dan berkarakter Kristus melalui diklat “Rajawali Injili Indonesiia”. “Ini semacam LEMHANNAS di kalangan gereja. PGLII yang menginisiasi ini. Dan kita bekerjasama dengan Dinas Bimbingan Mental TNI Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan RI dalam hal program bela negara,” terangnya.
Selain itu, dalam menjawab berbagai persoalan dan isu sosial di dalam masyarakat PGLII mengadakan simposium nasional untuk menyikapi persoalan tersebut dalam perspektif  Injili, misalnya mengenai persoalan radikalisme, bahaya narkoba, LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender), persoalan korupsi, kepemimpinan dan pilkada. “Kita harus bersuara dan menyikapi itu. Kaum Injili ikut berupaya menjawab isu-isu nasional, tentu dari perspektif  Injili,” terangnya. Selain itu, Komisi Hukum, HAM dan Advokasi PGLII dalam waktu dekat akan mengadakan kerjasama MOU dengan sejumlah perguruan tinggi atau universitas ternama, seperti UKI Jakarta, UKRIDA, UNKRIS dan UPH, misalnya, dengan mengadakan kajian ilmiah, penelitian, diskusi dan seminar bersama, dan hasil-hasil kajian ilmiah ini akan disampaikan kepada pemerintah untuk nantinya dapat dipakai sebagai solusi kehidupan berbangsa.
Di Simposium Nasional PGLII pertama yang diadakan  di STII Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 2016 lalu,  dibicarakan juga mengenai “Kaum Injili dan Hukuman Mati” dengan pembicara Pdt. Dr. Yakob Tomatala, “Kaum Injili dan Inter/Antar Golongan” pembicara Dr. Gunaryo Sudarmanto, “Kaum Injili dan Strategi Penginjilan” oleh Dr. Dave Heidenright, “Kaum Injili dan Politik” oleh Dr. Ronny Sigarlaki, S.H., “Kaum Injili di Indonesia” oleh Pdt. Dr Christ Marantika, “Kaum Injili dan Oikoumenikal” oleh Dr. Arnold Tindas, “Kaum Injili dan Sejarahnya” oleh Dr. Petrus Maryono, dan “Kaum Injili dan Indonesia Masa Kini” oleh Pdt. Ronny Mandang, M.Th. Hasil simposium nasional ini nantinya akan dibuat buku dan akan dipersembahkan oleh kaum Injili untuk masyarakat dan bangsa ini.
Di tengah pelayanan di dalam negeri PGLII juga terlibat aktif dalam pelayanan kerjasama di dunia internasional. Pada 27 Januari sampai 1 Februari 2016 lalu pimpinan PGLII juga berkunjung ke Amerika Serikat (AS) dalam rangka mengikuti acara “Great Commision Planning” bersama pemimpin Kristen dari berbagai negara di dunia yang diadakan The World Evangelical Alliance (WEA) yang bekerjasama dengan Billy Graham’s Training Center dan International Evangelism Association (IEA) di The Cove anda Mountain Doxology di Sapphire, North Carolina. 
Kemudian pada 29 Februari sampai 5 Maret 2016 menghadiri undangan WEA di acara “WEA International Leadership Forum” di Seoul, Korea Selatan. Perlu diketahui bahwa WEA adalah PGLII-nya dunia beranggotakan ratusan negara di dunia dan mempunyai jumlah umat sebanyak kurang lebih 750 juta, nomor dua setelah Katolik Vatikan. Di Amerika saja saat ini kaum Injili atau kaum Evangelis menguasai 40 persen jumlah suara pemilih dan sangat berpengaruh dalam menentukan kepemimpinan nasional di USA (Amerika Serikat).
Pada 29 Juli 2016 ini, PGLII juga berencana meluncurkan diklat “Rajawali Injili Indonesia” yang diadakan bertepatan dengan HUT ke-45 PGLII. Selain itu, sebagai tindak lanjut dari Simposium Teologi Nasional dengan topik “Evangelical Perspectives on Theological and Social Issues” yang berlangsung pada 20-22 Januari 2016 di Yogyakarta, akan diadakan pula “Simposium Nasional II” bertepatan dengan HUT ke-45 PGLII pada  27-29 Juli 2016 di Hotel Pitagiri, Palmerah, Jakarta Barat.
Dalam acara itu, menurut Deddy Madong yang kali ini menjadi Ketua Panitia, akan dirumuskan dan dibahas pula bersama 25 perwakilan PGLII wilayah yang diundang hadir tentang pokok-pokok pikiran dan program PGLII, tantangan  kaum Injili Indonesia masa kini dan peran, posisi dan pelayanan PGLII bagi anggotanya. Mengawali rangkaian acara acara tersebut, terkait dengan usulan PGLII agar PERBER (Peraturan Bersama) 2006 dicabut dan diganti bukan dengan UU melainkan Perpres (Peraturan Presiden), dan berbagai peraturan mengenai pembangunan tempat ibadah, kebebasan beragama, dll, Komisi Hukum PGLII mengadakan MOU, kajian dan seminar hukum bekerjasama dengan Fakultas Hukum UKI, Jakarta, pada 20 Mei 2016 di Kampus UKI, Cawang Jakarta.    JIM


 




Berita Terkait