Buku ke-28 “Selamat Membarui” dari Pdt. Dr. Andar Ismail

3299 dibaca


Beritanarwastu.com. Ketika buku berjudul Selamat Membarui karya Pdt. Dr. Andar Ismail, teolog yang produktif ini menulis

ini terbit, genap 500 tahun Reformasi Gereja. Gereja sudah dibarui dan masih perlu terus dibarui. Proses membarui apa pun, apalagi gereja, dimulai dari diri kita sendiri. Tulis Paulus kepada gereja di Roma, “Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah” (Rm. 12:2, BIMK). Buku Seri Selamat ke-28 ini ditulis menaati panggilan itu. Tiap hari kita melakoni hidup. Itu berarti tiap hari membarui pandangan, sikap, dan perilaku kita.

               Romo Yohanes Subagyo (Imam Keuskupan Jakarta) dalam komentarnya di buku ini menulis, Pdt. Andar Ismail yang juga dosen dan konsultan di penerbit PT. BPK Gunung Mulia sebagai penulis Seri Selamat memakai Alkitab bukan hanya untuk diterangkan. Melebihi itu, Pdt. Andar yang asal Sinode GKI menyampaikan teks Alkitab sambil membawa pengalaman sehari-harinya dan kehidupan dirinya secara sederhana. Dengan demikian teks mendapat konteksnya. Oleh sebab itu, di Seri Selamat berita Alkitab ribuan tahun lalu dibarui dan memperoleh kebaruan serta kesegaran sehingga terasa aktual dan relevan.

              “Buku-buku renungan Seri Selamat menjadi berkat bagi umat Kristen Indonesia, baik Katolik maupun Protestan. Seperti makanan, tulisan Andar Ismail terasa renyah, nikmat dan asyik disantap,” tulis Romo Yohanes. Di dalam sambutan awalnya, Pdt. Andar Ismail di buku yang menampilkan 33 renungan ini pun menulis, “Dari mana pembaruan ini dimulai? Dari diri kita masing-masing. Tiap hari kita perlu membarui diri: membarui kebugaran tubuh, membarui kematangan kepribadian, dan membarui kedewasaan iman kita. Pembaruan adalah proses yang berlangsung terus-menerus. Kristus telah membarui kita.

Sekarang kita, tulis Pdt. Andar, adalah “…manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambaran Penciptanya …” (Kol. 3:10, TB2). Mawar putih pada sampul buku ini disebut Mawar Luther. Sang reformator gereja melambangkan keluarganya sebagai sekuntum mawar putih. Tulis Luther, “Kita adalah jantung kecil yang ditempatkan Allah di tengah sekuntum mawar putih yang agung dengan sukacita dan damai. Putih adalah warna para roh dan malaikat. Mawar ini diayomi langit yang biru lambing awal pembaruan surgawi.” Buku ini menarik, penting, enak dibaca, dan meneguhkan iman. Selamat dibarui dan membarui. TK

Berita Terkait