Cerita Tentang BTP (Ahok)

• Oleh: Dr. Antonius Natan 1251 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Suatu kesempatan pada Selasa siang di bulan September 2017, kami mendapat giliran besuk Basuki Tjahaya Purnama-BTP (Ahok) di Mako Brimob Depok, Jawa Barat, yang bersangkutan kelihatan bugar dan terlihat santai menggunakan kaos biru tetapi tetap kelihatan tegas dan dominan dalam pembicaraan, beberapa hal yang menjadi inspirasi bagi kami yang hadir dan menggerakkan saya untuk menulisnya, tentunya sebagai pembelajaran bersama.

         Ahok mengawali dengan menceritakan ihwal pada awal sebagai tahanan, ada semacam ketenangan batin yang luar biasa dari Tuhan pada saat vonis dibacakan dan menuju Lapas Cipinang kemudian ke Mako Brimob, tetapi kondisi tersebut berlalu juga dan sebagai manusia yang memiliki kelemahan, menyadari betapa tidak adilnya kehidupan, tekanan dan tuduhan yang dirasakan tidak pada tempatnya membuat kemarahan dan perlawanan dalam pergumulan, jika dibandingkan betapa banyak karya melebihi rata-rata pejabat Negara lainnya, dengan integritas dan memberikan jiwa raga sepenuhnya demi pembangunan Jakarta yang sudah dirasakan oleh masyarakat, tetapi BTP  justru menerima hukuman. Dalam kondisi tersebut doa menjadi andalan dan menjadikannya tegar.

 

Merasakan Keistimewaan dari Tuhan

Dalam keseharian di penjara BTP  mulai mengerti dan memahami maksud dari berbagai ayat Firman Tuhan. Logos menjadi Rhema atau Firman yang hidup, melalui pengalaman rohani inilah BTP  merasakan kesempatan untuk menuangkannya dalam tulisan tangan, hari demi hari terus ditulis dalam lembaran putih kertas A4.

Kekuatan yang Tuhan berikan tidak menjadikan BTP hidup santai, melainkan mulai menyadari perlu mengendalikan hidup dengan memulai sesuatu yang baru, yang selama ini tidak dimilikinya, sesuatu privilege atau mendapatkan “hak istimewa dari Tuhan. Memiliki waktu yang tidak biasa untuk melakukan relasi dengan Tuhan. Berjam-jam dapat dilewati, berbagai catatan Rhema yang biasa ditulis dalam secarik kertas tetapi sekarang berbeda, tulisan menjadi tertata dan teratur secara rapi. Sesuatu yang tidak dimiliki selama ini, tulisan tangan yang semakin hari semakin baik dan mudah dibaca sebagai bukti semakin hari semakin bisa mengendalikan diri dan mengalami pembaharuan dalam karakter.

           Perubahan paradigma inilah yang membuatnya menjadi kuat dan antusias menjalani hidup, berolah raga teratur dan tidur cukup. Manajemen waktu dikendalikan dengan memperbanyak waktu membaca banyak buku. Saat ini waktu seakan berjalan lebih cepat.

Diakuinya sewaktu-waktu jika memikirkan kembali masa lalu, maka timbul kemarahan yang amat sangat tetapi jika mengingat keistimewaan yang Tuhan berikan, maka dengan pertolongan Tuhan terjadi perubahan-perubahan, sehingga memiliki kemampuan memaafkan atas tindakan yang tidak menyenangkan. Semangat hidup muncul juga dari ratusan surat yang membanjiri kamar tahanannya, dengan semangat pula BTP  menjawab satu per satu surat tanpa mengenal lelah, ucapan terima kasih harus dikirimkan termasuk juga jawaban atas pertanyaaan dalam surat surat tersebut. Banyak orang peduli kepadanya dan tentunya sebagai pemimpin justru memberikan teladan dengan terus peduli sebagaimana yang biasa beliau lakukan, walaupun untuk membalas dan mengirim surat kepada orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Tetapi diyakini sebagai orang yang peduli dan menaruh harapan kepada dirinya.

Demikian pula setiap hari ada sekitar cukup banyak rombongan dari berbagai unsur masyarakat sangat peduli dengan keberadaan BTP dipenjara. Sesungguhnya merupakan kegiatan yang melelahkan dan faktanya cukup banyak yang tidak dikenalnya memberikan kepedulian, tetapi dengan antusias beliau tetap menyambut dan bercerita bagaimana kehidupannya dan terbersit bahwa memang Tuhan pencipta langit dan bumi campur tangan akan kehidupannya.

Membezuk orang yang dipenjara adalah sesuatu yang memang diajarkan sebagaimana ditulis oleh Matius25:36, Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Di akhir kunjungan, topi merah yang bertuliskan I Love NKRI ditandatangani BTP. Suatu souvenir yang tiada ternilai. Pasti tidak ada yang memilikinya kecuali kami beserta rombongan.

 

·         Penulis adalah Waket I  STT Rahmat Emmanuel, Jakarta.

Berita Terkait