David Maruhum Lumban Tobing, S.H., M.Kn Sosok Pejuang Hak-hak Konsumen Indonesia

40 dibaca
David Maruhum Lumban Tobing, S.H., M.Kn. Peduli pada orang-orang kecil.

Beritanarwastu.com Hal-hal kecil memang terkadang tidak dilirik orang. Padahal, tidak menutup kemungkinan dari hal kecil tersebut justru memberi dampak yang luar biasa bagi banyak orang. Hal ini tampaknya tidak berlaku bagi David Maruhum Lumban Tobing, S.H., M.Kn. Pengacara yang ramah ini, justru lebih concern terhadap hal-hal kecil, yang ternyata memang berdampak kepada banyak orang. Tidak heran jika dia memegang teguh ayat Alkitab, “...engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar...”

          Ayah dari Ephraim Tobing, Jehtro Tobing, dan Putri Felicia Tobing ini, memang tidak asing lagi, khususnya di dunia peradilan konsumen, dan memang beda. Bukannya sibuk memburu klien yang bakal membuatnya tajir, tetapi ia justru lebih banyak menghabiskan waktu mendengarkan klien yang tak berdaya melawan pihak yang memiliki otoritas besar, tapi tak hirau akan hak konsumen. Dia adalah pengacara yang memiliki ketelatenan untuk mencermati hal-hal semacam itu.

          Dengan ketelatenannya itu, dia membuka mata banyak orang, terutama para konsumen yang pasrah, untuk melirik ketentuan-ketentuan yang selama ini dianggap lazim. Bisa dikatakan, David Tobing adalah pengacara konsumen pertama di Indonesia. Bahkan, ia tidak berhenti di sana. Ia menerjuni dunia perlindungan konsumen secara total dengan mengambil program doktoral dengan disertasi bidang perlindungan konsumen, maka sudah tepatlah dia pernah diangkat Presiden menjadi Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia.

         Diapun menuangkan pemikiran dan pengetahuannya ke dalam tiga buah buku yang ditulisnya, yaitu “Parkir + Perlindungan Hukum Konsumen (2007), David Tobing Belajar Membela Konsumen (2014), dan Klausula Baku Paradoks Dalam Penegakan Hukum Perlindungan Konsumen (2019). David Tobing, lahir di Jakarta, 12 September 1971. Dia menyelesaikan seluruh studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Jakarta, dari Program Sarjana Hukum, Program Spesialis Notariat dan Pertanahan, Magiter Kehormatan hingga Program Doktoral.

             Pada 1999, bersama rekannya semasa kuliah, Agus Soetopo, S.H., M.H. mendirikan Adams & Co Councelor at law di Wisma Bumi Putera, Sudirman, Jakarta, dan pada tahun 2009 mendirikan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) KOMUNITAS KONSUMEN INDONESIA. Dari tempat inilah, dia berjibaku untuk memperjuangkan hak-hak konsumen.

           Suami dari Aurora Panggabean ini, pernah dipercaya menjadi anggota Kelompok Kerja (Pokja) Hukum Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Republik Indonesia (2002-2005), anggota Panitia Seleksi Calon Anggota Ombudsman Republik Indonesia serta Panitia Seleksi Calon Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional RI. David juga aktif sebagai Ketua Badan Advokasi HKBP dan telah 10 tahun menjadi konsultan hukum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

         David yakin bahwa kiprahnya di dunia perlindungan konsumen sudah rencana Tuhan, karena awal mula menangani perkara konsumen adalah perkara kehilangan kendaraan yang dialami oleh anggota paduan suara yang dipimpin David. Mewakili temannya, David menuntut pengelola parkir untuk bertanggungjawab atas mobil hilang dan setelah perjuangan 10 tahun akhirnya Mahkamah Agung RI memenangkan pemilik kendaraan yang hilang dan mewajibkan pengelola parkir mengganti kendaraan yang hilang. Putusan ini telah mengubah hukum perparkiran di Indonesia, karena tahun 2012 Peraturan Daerah DKI Jakarta telah mewajibkan pengelola parkir mengganti kendaraan yang hilang. Dan tahun 2013 Peraturan Pemerintah tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan juga mewajibkan hal yang sama bagi pengelola parkir.

           Sejumlah kasus yang dianggap orang “recehan”, tetapi justru David dengan serius memperkarakan kasus tersebut, yang memang sangat berdampak bagi banyak orang atau konsumen, terlebih bagi penegakan hukum. Semisal kasus kenaikan tarif sepihak yang dilakukan pengelola parkir secure parking. Gugatan itu bermula saat dirinya memarkir mobil di Plaza Senayan, Jakarta, pada Juni 2003. Dalam slip, tercatat mobilnya parkir selama 1 jam 31 menit. Semestinya pembayaran hanya  Rp 2.000. David tidak menerima sikap secure parking, sebab perusahaan dilarang menaikkan tarif tanpa izin gubernur, dengan dasar hukum pasal 30 ayat (1) Peraturan Daerah No 5 Tahun 1999. David menuntut secure parking ke pengadilan sebesar Rp 1.000 (seribu rupiah) dan akhirnya Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hingga Mahkamah Agung memenangkannya.

            Kasus lain, yaitu delay pesawat. Karena pesawat yang ditumpanginya mengalami delay, David Tobing memutuskan untuk melayangkan gugatan terhadap Lion Air pada tahun 2007 dan menuntut ganti rugi senilai uang yang dikeluarkannya untuk membeli tiket pesawat pengganti  Rp 718.500. Angka itu berasal dari uang untuk beli tiket pesawat pengganti senilai Rp 688.500 dan airport tax sebesar Rp 30.000. Gugatan David dikabulkan Hakim pada tahun 2008. Dan selain David memperoleh ganti rugi, dampak putusan tersebut sangat baik bagi konsumen karena beberapa bulan setelah putusan Hakim, Kementerian Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri yang mewajibkan maskapai bertanggung jawab apabila ada keterlambatan.

         Dua kasus di atas hanya sebagian kecil dari berbagai kasus yang pernah digugat David, yang semuanya berdampak bagi konsumen. Pemerintah pun memberikan penghargaan kepada David pada tahun 2018 sebagai “Tokoh Perlindungan Konsumen Nasional” dan tidak hanya itu, pada tahun 2019 David pun diundang ke kantor PBB di Genewa untuk menghadiri pembahasan perlindungan konsumen di Indonesia setelah sebelumnya dijadikan salah satu nara sumber oleh UNTAD sebagai badan PBB yang membidangi perdagangan dan perlindungan konsumen.

Berita Terkait