Dengan Injil Melakukan Perubahan Hebat di Tanah Batak

992 dibaca
Pdt. DR. I.L. Nommensen. Dikuasai Roh Kudus.

Beritanarwastu.com. Bicara tentang kehadiran agama Kristen di Tanah Batak (Sumatera Utara), agaknya tak lengkap jika tak mengaitkannya dengan perjuangan seorang pendeta asal Jerman, yaitu DR. Ingwer Ludwig (IL) Nommensen. Berkat penginjilannya yang luar biasalah, maka lahir gereja terbesar di Indonesia dan Asia, yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Pada edisi kali ini, NARWASTU menuliskan secuil tentang perjuangan Nommensen yang sangat gigih saat menyampaikan Injil ke Tanah Batak lewat Rura Silindung (Tarutung). Seperti dikutip dari buku Salib Kasih dan Dr. Nommensen di Tanah Batak (Kisah Orang Kristen Pertama) yang ditulis Dr. S. Parlin Tobing, SH, dikisahkan, bahwa Nommensen lebih dari 50 tahun menginjil di Tanah Batak. Dia melakukan sebuah pekerjaan besar dan mulia dengan keras dan tekun.

Saat Nommensen dipanggil Bapa yang di surga, telah lebih dari 200.000-an suku Batak yang berhasil dilayaninya, sehingga menjadi pengikut Kristus. Dia meninggal pada umur 84 tahun saat berlayar di Danau Toba untuk hadir di sebuah ibadah di daerah Pulau Samosir, Sumatera Utara. Tapi, di perjalanan ia mendapat serangan jantung, dan ia pingsan. Setelah sadar dari pingsan, ia sudah tahu bahwa Tuhan akan memanggilnya.

Kemudian ia berdoa, “Oh, Tuhanku, saya memohon melalui darah Kristus, akhirilah hidup saya dengan baik. Bapa, saya serahkan nyawaku di dalam tanganMu.” Tak lama setelah itu ia menghembuskan nafas yang terakhir. Setelah itu, ribuan orang yang mengenal Nommensen sebagai hamba Tuhan yang luar biasa, merasa kehilangan. Mereka pun berkumpul di Sigumpar, Toba Samasir, di situ mereka berdoa agar bisa meneruskan cita-cita luhur Nommensen. Di situ juga ia dimakamkan.

Kehadiran Nommensen di Tanah Batak telah membuka mata seluruh raja-raja Batak yang masih percaya pada kuasa kegelapan, bahwa ia disertai oleh Tuhan. Berulang kali ia mau dibunuh, tapi kuasa Tuhan selalu menyertainya. Pada 5 Juni 1864, saat ia pertama kali mengumpulkan anak-anak, dan mengajari mereka menaikkan lagu-lagu gereja, serta menceritakan tentang Yesus, banyak raja-raja Batak yang kemudian membencinya.

 Pernah orang memotong tali pengikat rumahnya, agar saat angin datang, rumahnya rubuh dan ia akan mati tertimpa. Tapi, maksud jahat itu tak menimpanya. Pernah pula ia dicoba diracun, tapi tak mempan. Dan yang paling mengerikan, ia pernah mau dibunuh untuk dipersembahkan pada roh-roh leluhur, namun ia selamat karena dikuasai Roh Kudus.

Sebelum Nommensen masuk, telah lebih dulu masuk dua pendeta asal Inggris ke Tanah Batak, yaitu Burton dan Ward. Mereka menuju Tanah Batak pada 1824. Ketika mereka berjumpa dengan masyarakat Batak, yang kala itu masih hidup dengan kuasa-kuasa kegelapan, mereka tak bertahan lama. Meskipun mereka sudah sempat mempelajari bahasa Batak dan menyampaikan tentang hukum Taurat, kasih Yesus dan kebangkitanNya dengan bahasa Batak pula, keduanya diusir.

Raja-raja setempat mengatakan, kalau mereka tak membawa kekayaan dan kemakmuran di negeri Rura Silindung (sebutan untuk Tarutung), sebaiknya mereka kembali saja ke negeri asalnya. Akhirnya, Pdt. Burton pergi menginjil ke India, sedangkan Pdt. Ward ke Bengkulu.

Pada 1825, di daerah setempat terjadi perang Paderi yang hebat. Korban di Silindung pun banyak berjatuhan dan terjadi banyak pembakaran lumbung padi. Misi perang Paderi saat itu adalah, menghempang kekuatan Belanda (Eropa) yang menyebarkan agama Kristen, dan memaksa pemeluk animisme untuk memeluk agama Islam. Raja-raja Batak yang mengalami pahit getirnya perang Paderi dan penjajahan itu, makin curiga terhadap kedatangan setiap orang asing ke Tanah Batak.

Sehingga mereka selalu siap membunuh siapapun orang asing yang masuk. Lalu, pada 23 Juni 1834, Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Henry Lyman dari misi Zending Barat kembali ke Rura Silindung untuk menginjil. Tragisnya, pada 28 Juni 1834, di Lobu Pining, keduanya tewas dibunuh oleh Raja Panggalamei Lumbantobing. Kabar kematian kedua hamba Tuhan ini pun tersebar ke Eropa dan Amerika.

Enam tahun kemudian, pemerintah Belanda (Eropa) mulai mempelajari adat istiadat Batak, selain mempelajari bahasa dan tulisannya. Tujuannya agar mudah menerobos suku yang saat itu masih dianggap kafir. Sedangkan suku Batak sendiri menganggap orang asing (Eropa) dengan sebutan Si Bontar Mata. Karena mata orang Eropa berbeda dengan mata orang Batak. Pada 1863, karena dapat perintah dari Tuhan, Nommensen yang berasal dari keluarga sederhana, dan pernah menjadi penggembala angsa dan pesuruh, terjun ke Tanah Batak.

Nommensen yang semasa kecilnya pernah menderita luka di kaki selama berbulan-bulan, sebelumnya telah belajar Alkitab di negerinya. Sebelum memasuki Tanah Batak, Nommensen cukup lama bergumul, apalagi setelah ia tahu bahwa suku ini sangat terisolir, hidup dengan roh-roh leluhur dan tak segan-segan membunuh, seperti halnya pengalaman Munson dan Lyman. Konon, saat Munson dan Lyman dibunuh, dagingnya pun dimakan bersama oleh suku Batak.

Karenanya, pemerintah Belanda pun melarang Nommensen agar jangan memasuki daerah Rura Silindung. Namun, karena ia yakin akan penyertaan Tuhan, maka pada 7 November 1863 ia menembus hutan rimba, bukit-bukit, jurang-jurang dan sungai-sungai menuju Tanah Batak. Tanpa mengenal lelah, di tengah panasnya matahari dan dinginnya malam, ia pun sampai di puncak gunung Siatas Barita di Rura (lembah) Silindung.

Gunung ini, dulunya dianggap sangat keramat, dan konon tempat roh-roh leluhur orang Batak. Saat memandang daerah Rura Silindung dari kejauhan, Roh Kudus memperlihatkan pada Nommensen bahwa di daerah itu akan banyak rumah-rumah Tuhan (gereja) dan diperdengarkan  padanya bunyi lonceng gereja.

Dengan bekal pelajaran bahasa Batak, pengetahuan adat istiadat dan sifat-sifat suku itu serta iman yang teguh, ia pun melangkah ke Rura Silindung. Tiba di Desa Sait Ni Huta, di daerah itu, ia sempat tinggal di lumbung padi milik Raja Ompu Tunggul Lumban Tobing. Tapi, karena lumbungnya mau diisi padi, Nommensen disuruh pindah ke lumbung padi milik Raja Aman Sandiri.

Namun, hanya empat hari tinggal di situ, ia pun diusir. Soalnya, orang asing dianggap derajatnya lebih rendah. Nommensen pun angkat koper dan ia duduk termenung di sebuah batang pohon yang rimbun di sebuah pasar. Meskipun banyak orang di pasar yang lalu lalang, ia tak dipedulikan, karena itu tadi, ia orang asing. Tapi, Tuhan maha baik, ada orang yang memberinya tempat tinggal di pinggir sungai Aek Sigeaon, yang kini membelah kota Tarutung.

Pada 20 November 1863, semua raja-raja di Rura Silindung mengadakan rapat besar untuk membahas keberadaan Nommensen di daerahnya. Karena mereka menganggap kehadirannya akan membuat arwah nenek moyang mereka marah, dan adat istiadat mereka pun dikhawatirkan akan rusak. Tapi, berkat pembelaan Raja Pontas Lumbantobing, seorang raja yang bersahabat dengan Nommensen, mereka tak jadi untuk mengusir Nommensen dari daerah tersebut.

Saat itu, Raja Pontas mengatakan, ada Roh Suci yang melindunginya dan memerintahkannya untuk datang ke sini. “Dia pun tidak takut,” ujar Raja Pontas saat itu. Sebelum Roh Kudus menjamah hati penduduk Rura Silindung, kehidupan mereka memang berada dalam kuasa kegelapan. Bahkan, mereka mau memakan daging manusia. Diyakini bahwa kekuatan dari manusia yang dimakan itu akan pindah pada orang yang memakannya.

Pun yang menyedihkan, jika ada anak-anak yang tak punya orangtua, sering dijual di pasar. Di samping itu, mereka kerap mengadakan ritual penyembahan pada roh leluhur yang dipimpin seorang dukun dengan iringan gendang Batak yang khas, dan diikuti ribuan orang.

 

Mau Dipersembahkan pada Roh Leluhur

Suatu ketika, seorang dukun terkenal, Datu Panalungkap, merencanakan untuk membunuh Nommensen dalam sebuah acara ritual. Ribuan orang hadir di sana. Nommensen diundang hadir, dan tadinya akan dikorbankan di sana bersama korban binatang. Namun, karena Tuhan menyertainya, niat jahat tersebut gagal dilaksanakan. Malah, Nommensen dengan keras mengatakan pada raja-raja dan dukun yang hadir di sana bahwa, “Yang menuntut ini adalah setan, dia mau supaya kalian saling membenci dan membunuh. Saya tegaskan, Tuhan mencintai kalian dan Tuhan ingin kalian benas dari penderitaan.”

Bagai dihipnotis, ribuan orang yang berkumpul di situ terdiam, dan tak seorang pun berani menyentuh Nommensen yang berbicara keras soal ritual tersebut. Di situlah suku Batak dengan nyata melihat, bahwa kuasa Tuhan menyertainya. Begitulah, sejak 27 Agustus 1865, suku Batak yang tadinya percaya pada kuasa-kuasa leluhur, mulai mendekat pada Nommensen. Apalagi sejak mereka tahu bahwa ia sanggup menyembuhkan penyakit ganas dengan doa-doanya.

Nommensen pun diminta untuk membaptiskan mereka. Pada awalnya hanya 12 keluarga yang menjadi murid Nommensen, lalu bertambah jadi 48 keluarga, hingga ada muridnya yang menjadi pendeta, yaitu Huntal Lumbantobing dan Samuel Lumbantobing. Bahkan, Panalungkap yang tadinya membencinya, dating untuk dibaptis. Luar biasa kuasa Tuhan dinyatakan. Lantaran semakin banyak pengikut Nommensen, dibangunlah sebuah pemukiman baru bernama Desa Huta Dame (desa damai) di Rura Silindung. Di sinilah mereka kembali mempelajari firman Tuhan, sehingga makin mengenal Kristus.

Raja Pontas yang sering membela Nommensen pun akhirnya datang untuk dibaptis. Bahkan, ia sampai menghadiahi sebuah pemukiman yang sejuk, bersih dan airnya yang jernih untuk menjadi tempat tinggal Nommensen bersama istri dan rekannya penginjil, Yohansen. Meski demikian, perjuangannya belum selesai. Di pantai barat Danau Toba, yaitu di Bakara, seorang raja yang cukup disegani karena kesaktiannya, yakni Raja Sisingamangaraja XI, resah dengan kehadiran Nommensen.

Sisingamangaraja XI yang berambut putih panjang, berjubah putih dan kalau bepergian selalu menunggangi kuda putih, diyakini bisa mendatangkan hujan. Dengan sentuhan tangannya pun ia bisa menyembuhkan orang sakit. Selain itu,  sepatah kata yang diucapkannya bisa membuat banyak orang bahagia dan celaka. Makanya, ia amat ditakuti.

Sisingamangaraja XI mengatakan, kehadiran Nommensen telah membuat banyak orang menjadi Kristen, sehingga usahanya untuk menginjil harus diakhiri. “Orang-orang ini mengganggu kepercayaan kita, dan membuat nenek moyang kita menjadi marah,” katanya. Bersama pasukannya Sisingamangaraja XI pun pernah mengobrak-abrik rumah Nommensen.

Akan tetapi ia tak menghiraukan perbuatan tersebut, karena ia tetap ingin memperluas penginjilan di Tanah Batak. Oleh orang-orang yang tak disukainya, rumah Nommensen pun pernah dirampok dan dibakar, tapi ia tetap teguh. Namun, setelah Sisingamangaraja XI meninggal, ia digantikan putranya, Raja Sisingamangaraja XII. Seperti ditulis di buku berjudul Ayahku Sisingamangaraja XII Pahlawan Nasional (Poernama Rea Sinambela/1992), ternyata Sisingamangaraja XII dulu bersahabat baik dengan Nommensen, bahkan mereka sering mengadakan surat menyurat.

Seorang panglima Sisingamangaraja XII, Alapiso Siahaan, dikabarkan pernah menyampaikan keinginan pahlawan nasional itu agar menjadi pemeluk Kristen pada Nommensen. Tapi, keinginan tersebut tak terwujud, karena Sisingamangaraja XII hingga akhir hayatnya, sibuk melawan penjajah Belanda di Sumatera Utara. Saat itu dinasti Sisingamangaraja memang memeluk agama Batak kuno, Parmalim. Alapiso sendiri, akhirnya menjadi pemeluk Kristen.

Demikian juga anak-anak Sisingamangaraja XII masuk menjadi Kristen. Sisingamangaraja XII, ditulis lagi, merupakan raja yang mengutamakan kedamaian, dan ia menghargai kehadiran Kristen sebagai agama damai di Tanah Batak. Penginjilan Nommensen di Silindung dan daerah lain di Sumatera Utara, dinilai banyak orang telah sukses besar. Sebagai penginjil yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk “memenangkan” suku Batak, Nommensen pernah mengatakan, “Seorang penginjil yang benar adalah mereka yang mengetahui kemenangan sebelum bertempur.” 

Lewat usaha yang dilakukannya, Nommensen telah berhasil melakukan perubahan hebat di tengah suku Batak, khususnya di bidang kerohanian, pendidikan dan kesehatan. Lantaran itulah, ia dikenang orang Batak sebagai nabi (Apostel) dan namanya diabadikan di Sinode Gereja HKBP hingga sekarang sebagai tokoh pejuang yang luar biasa di Tanah Batak. NP

Berita Terkait