St. Drs. Hardy M.L. Tobing
Di Usia 63 Tahun Terus Melayani dengan Sepenuh Hati

857 dibaca
St. Drs. Hardy M.L. Tobing dan istri tercinta saat memotong kue ulang tahun. Setia melayani.

 BERITANARWASTU.COM. Sampai masa tuamu aku tetap Dia, dan sampai masa putih rambutmu, Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya, dan mau menanggung kamu terus. Aku mau memikul kamu, dan menyelamatkan kamu (Yesaya 46:4).

 Sekelompok orang telah berkumpul di ruang Gereja HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat malam, 5 Agustus 2016 lalu. Sebagian besar adalah anggota jemaat gereja itu, dan sebagian lagi para kerabat, sahabat, karyawan dan relasi. Mereka datang dan berkumpul bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengikuti acara kebaktian Sektor Godung, sekaligus mengikuti ibadah syukur atas ulang tahun St. Drs. Hardy M.L. Tobing yang ke-63.

 Tidak berapa lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu pun datang. Ucapan selamat dari mereka yang hadir terus mengalir. Raut wajah sang pemilik hari jadi itu pun bersinar dengan senyum sumringah  tanda rona bahagia. Tak terkecuali keluarga yang mendampinginya, dua putranya, istri, mertua dan handai taulan tercinta.

 Dan lagu Terpujilah Allah, HikmatNya Besar menjadi pembuka ibadah malam itu. Damayanti Lumbantobing yang didapuk menjadi solois, melantunkan sebuah lagu dengan suara merdunya. Berturut-turut lagu pun bergulir mulai dari Besar SetiaMu dan Hidup Kita yang Benar seolah melukiskan kasih setia dan penyertaan Tuhan atas hidup St. Hardi Tobing sekeluarga. Pria Batak ini adalah seorang profesional, pendiri Paduan Suara The Glorifiers, pelayan (sintua) di HKBP Kebayoran Baru dan salah satu figur yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU.”

 Suasana pun bertambah semarak dengan lantunan suara dari Paduan Suara Sektor Godung serta persembahan pujian dari Paduan Suara Gabungan (PS Kasih Anugerah, The Glorifiers dan Eks Pemuda HKBP Sudirman, Medan). Seuntai kata-kata yang penuh makna yang tersirat dalam perjalanan hidupnya lewat refleksiologi dari seorang Hardy Tobing yang melukiskan akan kebaikan Tuhan yang luar biasa menolong dalam segala lini kehidupannya, melebihi kemampuan yang sebenarnya, khususnya dalam masa sulit.

Mulai dari janjinya untuk menjadi seorang pelayan gereja, namun niat tersebut urung dilakukannya, karena alasannya seorang pendeta harus bersedia pindah dari kota yang satu ke kota lain. Hingga akhirnya ia berjanji jika suatu hari sudah mapan akan memenuhi janjinya untuk menjadi pelayan gereja. Kerja keras dan ketekunannya berdoa mengantarkan ayah tiga anak ini mengecap kesuksesan sebagai seorang Akuntan Publik (auditor).

Walaupun di tahun 2008 lalu ia harus menjalani operasi by pass di Rumah Sakit Mounth Elizabeth, Singapura, ia tetap mensyukuri anugerah Tuhan dalam hidupnya. Menurut dokter, keberhasilan operasi antara 70-80%, dan disarankan untuk menemui dr. M.C. Tong yang akan menangani operasinya nanti. Dan diperkirakan risikonya hanya 1%, tapi itu pun milik Tuhan. Kendati lega dengan keterangan itu, suami dari Ida Simbolon ini tetap dirundung rasa khawatir perihal biaya operasinya sekitar Rp 500 juta.

Beruntung, penasihat Paduan Suara The Glorifiers ini memiliki teman-teman yang peduli kepadanya, sehingga biaya tersebut dapat ditanggulangi. Yang lebih menggembirakannya, perusahaan tempat istrinya bekerja menjamin (Guarantee Letter) akan menanggung seluruh biaya operasi dan pengobatannya. Sehingga semuanya dianggap cukup untuk berobat jalan, transportasi dan penginapan selama di sana serta menutupi seluruh penghasilan, karena harus istirahat selama tiga bulan, dan tidak boleh bekerja.

 Dua tahun wara wiri ke Singapura untuk kontrol kesehatannya, membuatnya berkenalan dengan pria yang mengaku warga Singapura. Di situ ia ditawari untuk berbisnis membangun kampung Taiwan di Indonesia. Namun, ternyata bisnis tersebut fiktif belaka. Dan tanpa disadarinya, seluruh hartanya tergadai dan ia ditipu. Yang menarik, tak satu pun anggota keluarga menyalahinya atas peristiwa tersebut. Ia justru didukung untuk bangkit kembali dari kondisi yang membuatnya sangat terpukul.

 Kasih setia dan penyertaan Tuhan sungguh nyata bagi Pak Hardy Tobing yang Nampak semakin bijaksana dan religius menyikapi hidup itu. Ekonomi keluarga yang sempat morat marit akibat penipuan itu, justru diperbaiki dari waktu ke waktu oleh Tuhan Yesus Sang Juruselamat dengan caraNya yang ajaib. Sampai pada akhirnya ia bisa hidup lebih dari cukup hingga dapat menyekolahkan ketiga anaknya di luar negeri.

 St. Hardy Tobing yang dikenal sebagai sosok sederhana, rendah hati, penolong dan sangat setia dalam melayani Tuhan sangat dicintai oleh orang banyak. Hal itu pun tergambar dari pernyataan Pdt. Frits Henri Hutapea yang melukiskan perjalanan jubilaris Hardy Tobing sebagai seorang penolong dan total melayani, kendati ia bukan seorang pendeta. Segala kesulitan yang pernah dialaminya menandakan bahwa tangan Tuhan  tak kurang panjang untuk menolong, melindungi dan memeliharanya setiap saat.

 Tokoh gereja sekaliber Pdt. Dr. SAE Nababan, L.LD yang juga mantan Ephorus HKBP dan mantan Sekretaris Umum PGI periode 1967-1984, yang hadir dalam acara tersebut pun mengemukakan testimoni singkatnya tentang ulang tahun St. Hardy Tobing. Menurut mantan Ketua Umum PGI dan mantan Moderator Dewan Gereja-gereja se-Dunia itu, ada dua hal makna dalam perayaan ulang tahun, pertama, makin dekat pada akhir hidup. Kedua, kita tahu bahwa segala sesuatu akan berlalu apakah itu jabatan, kekayaan atau pangkat. Hendaklah kita bebas dari ikatan duniawi. Sebab tanpa kebebasan itu kita tidak bisa  masuk ke surga.

 

Sang istri tercinta Ida Simbolon yang ditemui Majalah NARWASTU, menuturkan, sosok Hardy Tobing yang dikenalnya sebagai seorang pribadi yang lemah lembut, rendah hati dan tidak mendendam. “Dia tetap kuat dan teguh di dalam pelayanannya. Dan ia tetap percaya kepada Tuhan yang akan selalu menyertainya di sepanjang hidupnya,” katanya tentang suami tercinta itu.

Sedangkan dua putranya, John Tobing dan Adolf Tobing berpendapat, kendati ayahandanya sebagai seorang yang super sibuk, baik dalam pekerjaan maupun dalam pelayanannya, akan tetapi bagi mereka, ayahnya adalah sosok kepala keluarga yang baik dan tidak pernah marah. Darinya, mereka belajar sebuah keteladanan hidup terutama dalam kesetiaannya melayani Tuhan.

Hal senada diutarakan oleh bapak mertuanya, Pak R.H. Simbolon (85 tahun) yang juga bergelar Ompu Yosua yang mengatakan ia sangat concern dengan kesehatan menantu laki-lakinya itu.  “Hampir 10 tahun lalu dia menjalani operasi, ternyata hobinya bekerja itu belum surut antara hidup, bekerja dan istirahat agar diseimbangkan supaya bisa lebih lama menikmati hidup,” katanya berharap.

            Tak lupa sahabatnya, seperti Arta Tambunan (Konduktor PS Kasih Anugerah), Gindo Silaban (Ketua PS The Glorifiers), Donny Doloksaribu (Penasihat PS The Glorifiers), Betuel Sirait (PS Eks Pemuda HKBP Sudirman, Medan) ikut mengucapkan selamat dan doa yang teriring untuknya, agar tetap setia melayani di ladang Tuhan dan selalu menjaga kesehatan. Sedangkan bagi Hardy Tobing yang empunya acara, mengungkapkan keinginannya yang sangat sederhana, tetap melayani, menjaga kesehatan dan bisa menurunkan berat badan.

 Selain itu, ada rencana lainnya yang segera ingin diwujudkannya dalam waktu dekat bersama temannya untuk menggelar konser pada November 2016 mendatang. Konser gabungan yang terdiri dari Paduan Suara The Glorifiers dan Paduan Suara Kasih Anugerah rencananya akan membawakan lagu-lagu yang diciptakan sendiri oleh mereka. “Untuk persiapan, kami masih menyeleksi lagu-lagu yang ada sebanyak 10-12 lagu, tapi mungkin kami juga akan memperkenalkan lagu yang lain. Lagu-lagu khas Batak atau bernafaskan Batak karena 90-99% orang Batak termasuk alat musiknya, seperti seruling, gondang dan lain sebagainya,” jelas Arta Tambunan.

 Dalam konser tersebut, St. Hardy Tobing akan memimpin paduan suara. Sebab, ia dikenal sebagai sosok yang piawai dalam mengorganisir dan menggabungkan semua paduan suara. Hal itu ditegaskan pula oleh Betuel Sirait, sahabat kecilnya sekaligus rekannya di PS Eks NHKBP (Pemuda) Sudirman, Medan. “Dia dulu aktif di pemuda HKBP dan sangat baik dalam mengembangkan serta mendirikan The Glorifiers dan PS NHKBP Sudirman, Medan,” ujarnya.

Jadi dia bekerja luar biasa, memberkati dan memberikan jiwa dan raganya sepenuh hati. Untuk itu kami tidak akan meragukan kepiawaiannya itu,” ujarnya.  Di usianya yang tak muda lagi, St. Hardy Tobing ingin mengisi hari-harinya untuk setia melayani Tuhan. Di samping sebagai wujud syukurnya atas berkat dan kasih setia Tuhan untuk dirinya dan keluarga, sejatinya ia pun ingin memenuhi janjinya bahwa bekerja di ladang Tuhan tak harus menjadi seorang pendeta. Dengan tulus ikhlas kini St. Hardy Tobing terus memberikan hidupnya untuk kemuliaan nama Tuhan. BTY

Berita Terkait