Diskusi Pengasuh Media Kristiani Bersama Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI

564 dibaca
Suasana acara Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan Direktorat Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama RI dengan topik "Pedoman Pengelolaan Media Kristen" pada 21 Desember 2016 lalu di Hotel Ibis Tamarin Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Beritanarwastu.com. Pada Rabu 21 Desember 2016 lalu mulai pukul 9.00 sampai 15.00 WIB, Direktorat Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama RI mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik "Pedoman Pengelolaan Media Kristen" di Hotel Ibis Tamarin Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai pembicara dan pembahas dalam diskusi terbatas yang berlangsung serius namun familiar ini, Plt. Dirjen Bimas Kristen Prof. Abdurrahman Mas'ud, Ph.D, Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi, Gun Gun Siswadi (Staf Ahli Menteri Informasi dan Komunikasi Bidang Komunikasi, Informasi dan Media Massa), Pdt. Ronny Mandang, M.Th (Ketua Umum PGLII), Johan Tumanduk, S.H., M.M., M.Min (Pemimpin Umum Majalah Inspirasi) dan Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemred Majalah NARWASTU).

Hadir juga Direktur Urusan Agama Dirjen Bimas Kristen, St. Drs. Andar Gultom, M.Pd., dan Penanggung Jawab/Panitia acara ini, Dr. Maya Malau, M.Pd (Kepala Subdit Pemberdayaan dan Pengembangan Budaya Keagamaan Kristen) dan Hilda Taroreh (Kasi Budaya dan Keagamaan Dirjen Bimas Kristen). Dalam diskusi yang dihadiri puluhan praktisi media, aktivis gereja dan pemimpin media Kristiani ini disimpulkan bahwa media Kristiani harus berupaya memberdayakan masyarakat, menyejukkan publik dan jangan memprovokasi masyarakat, karena media massa itu luar biasa pengaruhnya.

Hadir dalam kesempatan ini, Markus Saragih dari Majalah Berita Oikoumene, Pdt. Sapta Siagian, M.Th (Tabloid Solafide), Rionaldo Nainggolan (Tabloid Gloria), Betty Bahagianty, S.Sos (Majalah NARWASTU), Yunita Kristin, S.E. (www.beritanarwastu.com), Grolus Sitanggang (Majalah Inspirasi) dan pengasuh Majalah Arcus dari Sinode GPIB serta sejumlah aktivis ormas Kristen. Menurut Hilda Taroreh, mereka selektif memilih jurnalis atau praktisi media yang hadir, sehingga tidak semua pengasuh media Kristiani yang diundang untuk hadir.

Media Kristiani pun harus ikut mempersatukan bangsa dan jangan mempertentangkan SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Media Kristiani pun diharapkan bisa menjaga persatuan bangsa dan menaati aturan peraturan atau kode etik jurnalistik, seperti Undang-Undang Pokok Pers No. 40 Tahun 1999. Di era reformasi ini pers (media massa), termasuk media Kristiani dan media sosial (medsos) mesti dimanfaatkan untuk memberdayakan publik agar selalu berdamai dengan sesama, dan menanamkan nilai-nilai cinta kasih.

Di akhir acara, Maya Malau menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada peserta dan pembicara yang hadir. Menurutnya, hasil diskusi atau pokok-pokok pemikiran yang dilontarkan di dalam diskusi ini akan dirumuskan bersama Dirjen Bimas Kristen. Dan selanjutnya akan disosialisasikan dan dibuat acuan bagi gereja-gereja maupun umat Kristen untuk mengelola media Kristen. “Karena Dirjen Bimas Kristen melalui acara FGD ini ingin membuat pedoman standar, memberi bimbingan teknis dan memfasilitasi media Kristiani. Dan ini bertujuan mengurangi beban pengelola media Kristen,” ujar Maya Malau yang beribadah di Gereja Kristus itu. TK

Berita Terkait