Djarot-Sihar Pasangan Tepat dan Ideal di Pilkada Sumut

309 dibaca
Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus.

BERITANARWASTU.COM. Tahun 2018 ini adalah tahun politik di Indonesia. Sejumlah daerah akan menggelar pemilihan kepala daerah, seperti memilih gubernur, bupati maupun wali kota. Salah satu daerah atau provinsi yang kini menjadi sorotan saat pilkada adalah Sumatera Utara (Sumatera Utara). Sumut yang dikenal daerah yang multietnis dan agama, selama ini disorot lantaran dua gubernurnya sudah diproses hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena terlibat korupsi. Selain itu, daerah itu terkenal daerah yang karakter warganya keras dan dinamis.

 

                Partai politik yang selama ini cukup berpengaruh di Sumut, yakni PDIP, Partai Demokrat, Partai Golkar, PKS, PPP dan Partai Gerindra. Parpol ini sudah menyusun strategi untuk memenangkan calonnya yang dianggap antikorupsi. Ada calon tersebut berlatar belakang mantan Pangkostrad, dan ada pula bupati. Masing-masing punya kelebihan dan keunggulan. Ada tiga pasangan calon yang bakal bertarung sengit. Dan yang menarik di Pilkada Sumut 2018 adalah kehadiran mantan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat yang berpasangan dengan Ahok di Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu.

 

                Djarot selama ini dikenal figur kepala daerah yang relatif bersih dan tenang, serta ia juga salah satu Ketua DPP PDIP. Djarot di Pilkada Sumut dipasangkan dengan tokoh muda dan pengusaha yang selama ini aktif membina sepak bola di Sumut, Sihar Sitorus. Sihar adalah putra pengusaha nasional yang tak asing lagi di Sumut, D.L. Sitorus (alm.). Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri memasangkan kedua tokoh ini, karena dianggap tepat, serasi (Islam-Kristen dan Jawa Batak) dan bisa saling melengkapi. Dan banyak warga Sumut yang antusias menyambut pasangan yang didukung PDIP dan PPP ini.

 

Brigjen Pol (Purn.) Victor Edison Simanjuntak, S.E., M.M.

 

 

                Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Victor Edison Simanjuntak, S.E., M.M., mantan petinggi Polri yang pernah menjadi bakal calon Gubernur Sumatera Utra, dalam akun Face Book-nya berkomentar soal pasangan Djarot-Sihar.

Djarot-Sihar adalah pasangan yang tepat dan ideal memimpin Sumut untuk mengubah dari (SUMUT) “Semua Urusan Menggunakan Uang Tunai”, menjadi (SUMUT) “Semua Urusan Mudah dan Transparan.” Pasangan ini akan memberikan rasa adil, sejahtera, aman dan damai, mereka mampu mewujudkan industri pariwisata di Sumut.

         “Saya bangga dengan pasangan ini, bagi mereka yang menginginkan Sumut berubah ke arah yang baik, sejahtera, adil, aman dan damai, mari kita sukseskan pasangan ini menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut. Semua relawan yang bergabung dengan Sahabat VES, Teman VES dan Relawan VES agar mendukung pasangan ini,” ujar Victor Simanjuntak yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan Majalah NARWASTU” itu.

              Sekadar tahu, Victor Simanjuntak adalah tokoh nasionalis berlatar belakang purnawirawan Polri. Ketika tahun lalu ia berkunjung ke kantor Majalah NARWASTU, petinggi Polri yang pernah mengungkap kasus korupsi besar, seperti kasus Kondesat, PT. Pelindo II, SKK Migas, daging sapi, TPPI dan Yayasan Pertamina ini banyak bicara soal Sumut.

 

Mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Bareskrim dan berjemaat di Gereja GPIB Efatha, Jakarta Selatan, menyampaikan banyak gagasannya seputar Sumut. Misalnya, dia mem-plesetkan: SUMUT jadi: Semua Urusan MUdah dan Transparan, bukan plesetan yang selama ini juga jadi sindiran: SUMUT: Semua Urusan Mesti dengan Uang Tunai. Pada 28 Oktober 2016 lalu, Pak VES, begitu ia kini dipanggil sudah membuat deklarasi “Sumut Baru”, yakni Sumut yang bebas pungutan liar (pungli) dan korupsi. Lalu diganti dengan pelayanan prima, cepat, mudah, murah, bersih dan transparan.

 

“Saya punya mimpi agar Sumut itu bebas dari pungli, dan bebas dari korupsi. Dan masyarakat sehat, sejahtera, humanis, adil dan terpercaya. Saya memperhatikan, yang muncul selama ini di Sumut adalah calon-calon kepala daerah yang berduit, bukan kepala daerah yang kita harapkan, baik. Orang baik itu pasti tak akan mau main duit kalau tampil di pilkada. Kenapa banyak kepala daerah di Sumut berurusan dengan hukum atau KPK, karena saat pilkada mereka sudah banyak mengeluarkan duit. Sehingga saat mereka menjabat berbagai cara dilakukan agar duitnya kembali. Dan mereka pun habis-habisan untuk tampil dua periode guna menjabat,” ujarnya kala itu.  

 

Untuk membangun Sumut agar semakin baik, imbuhnya, dibutuhkan upaya-upaya khusus. Seperti Pak VES turun ke tengah masyarakat untuk mengedukasi  agar cerdas dalam menghadapi pilkada dan dunia politik. “Saya sudah kunjungi 33 kabupaten dan kota di Sumut, dan saya ajak masyarakat agar punya paradigma agar yang dipilih menjadi pemimpin adalah orang baik, bukan orang yang hanya mengandalkan duit. Mestinya masyarakat mau menyumbang dana buat calonnya, bukan calon kepala daerah itu yang keluar duit,” katanya.

 

VES menerangkan, ia sempat mau maju untuk calon Gubernur Sumut dengan semangat untuk membangun Sumut agar lebih baik, dan tidak semata-mata dengan modal duit. “Kalau masyarakat tidak mau mendukung atau memilih saya pun tidak apa-apa. Saya sering mengedukasi masyarakat di Sumut bahwa duit bukan segala-galanya. Jangan mereka berpikir bahwa jenderal itu duitnya banyak, jadi kalau dipilih ia akan memberi duit. Saya tidak mau begitu. Kita harus cerdas dalam memilih kepala daerah,” tukasnya.TG

Berita Terkait