Doakan dan Dukung Pemerintah, TNI dan POLRI Menjaga Keutuhan NKRI

651 dibaca
Pdt. DR. Nus Reimas (tengah/duduk) diabadikan seusai diskusi terbatas.

BERITANARWASTU.COM. Pemerintah mesti tegas menindak aksi-aksi intoleran dan harus mampu bersama TNI/POLRI menjaga keutuhan NKRI dan menegakkan Pancasila agar bangsa ini tidak terpecah belah. Dan semua anak bangsa harus bersuara menyampaikan pesan persatuan dan kesatuan NKRI, serta berdoa agar Tuhan yang maha rahmat melindungi Indonesia yang majemuk ini, dan menjauhkan dari perongrong Pancasila.

Itulah benang merah atau kesimpulan dari diskusi terbatas "Menyikapi Kondisi Indonesia Terkini" bersama tokoh-tokoh Kristiani yang diadakan selama dua setengah jam di Gedung LPMI Lantai 3, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat siang, 5 Mei 2017 lalu.

Disampaikan pula dalam diskusi itu, demokrasi mestinya memperhatikan kemajemukan. Demokrasi jangan sampai kebablasan atau menabrak aturan perundang-undangan atau hukum (konstitusi). Demokrasi mesti menghargai hak azasi manusia (HAM), dan demokrasi yang sehat tidak bisa menimbulkan intoleran, radikalisme dan anarkisme pada individu atau kelompok yang kuantitasnya lebih kecil di sebuah masyarakat.

 

Suasana diskusi yang serius seputar gereja, masyarakat dan bangsa.

 

Penggunaan media sosial (medsos) yang kerap menimbulkan kegamangan atau kekhawatiran di tengah masyarakat pun dibahas dalam diskusi tersebut. Medsos kini punya pengaruh dahsyat dalam mempengaruhi opini publik, sehingga umat Kristiani dan tokoh-tokoh mesti cerdas dalam memanfaatkan medsos. Dan jangan gampang atau sembarang men-share atau meneruskan berita atau informasi hoax lewat medsos. Karena berita hoax rentan menimbulkan konflik, kekhawatiran dan perpecahan di masyarakat.

Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya tentang persoalan di negeri ini, sebaiknya disimak berita atau informasinya dari media massa yang masih layak kita percaya dan peduli pada penegakan Pancasila, seperti Kompas, Suara Pembaruan atau Media Indonesia dan yang lainnya. Karena saat ini pun ada sejumlah media yang dikuasai politisi, sehingga kepentingan kelompoknya yang dikedepankan.

Dan diskusi ini dihadiri antara lain, Brigjen TNI (Purn.) Harsanto Adi, M.M. (Mantan Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI, Ketua Umum DPP API/Asosiasi Pendeta Indonesia dan pengamat politik/militer), Jose T.P. Silitonga, S.H., M.A., M.Pdk (advokat senior dan mantan Ketua DPD PIKI DKI Jakarta), John S.E. Panggabean, S.H., M.H. (advokat senior dan pengurus FORKOM NARWASTU), Pdt. William Wairatta (Pengurus LPMI), Pdt. Sapta B. Utama Siagian, M.Th (lulusan LEMHANNAS dan Wakil Ketua Umum PERWAMKI), cendekiawan asal Papua Eduard Nunaki, M.Si, Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M. (profesional dan Ketua DPD API Jawa Barat) dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos sebagai moderator diskusi.

Harsanto Adi menyampaikan, Pilkada DKI Jakarta yang gubernurnya adalah Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M) selama ini dimanfaatkan kelompok intoleran atau kaum radikal untuk memaksakan kehendaknya. Dan itu dimanfaatkan pula oleh musuh-musuh Ahok yang tidak suka dengan ketegasannya memberantas korupsi di DKI Jakarta. "Ahok andai saja bukan Kristen, mungkin saja dia tidak akan menjadi korban kelompok radikal itu," cetus salah satu Penasihat PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia) dan mantan Ketua Umum Sinode Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) ini.

Pdt. Sapta Siagian juga menyampaikan, saat mereka mengikuti pendidikan di LEMHANNAS ditekankan agar ikut melestarikan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa kita. " Dan kami sebagai pendeta melalui mimbar gereja pun ikut membumikan nilai-nilai Pancasila, karena itu sangat penting. Bangsa ini bisa bersatu dari berbagai agama dan suku karena Pancasila. Dan jemaat pun harus kita ajak terus memahami nilai-nilai Pancasila dan terus berdoa untuk bangsa ini agar selalu dilindungi Tuhan," ujar Pdt. Sapta.

 

Suasana makan siang bersama seusai berdiskusi. 

 

Doa Punya Kekuatan Luar Biasa

John Panggabean pun menuturkan, saat ini Indonesia selain butuh penegakan hukum dan ketegasan pemerintah, dalam hal ini Presiden RI Joko Widodo, kita pun butuh kekuatan doa. "Sekarang musuh kita adalah roh-roh jahat dan penghulu di udara, kita harus lawan dengan kekuatan doa. Doa itu punya kekuatan luar biasa. Kita juga harus optimis bahwa Indonesia dilindungi Tuhan karena kita berdoa," ujar Ketua Umum MAPPI (Masyarakat Peduli Penegakan Hukum Indonesia) dan mantan Wakil Sekjen DPN PERADI ini.

Jose Silitonga yang juga aktivis HAM dan anggota Dewan Penasihat LBH Pers Indonesia menerangkan, maraknya aksi radikal sekarang ini di Indonesia, tentu harus kita sikapi dengan menyampaikan seruan moral kepada pemerintah dan penegakan hukum. Selain itu, kita jangan berhenti memohon perlindungan Tuhan melalui doa. Karena apa yang terjadi saat ini, ujarnya, semua sudah dicatat di Alkitab. "Kita mesti berdoa dan terus berjuang untuk bangsa ini," pungkas pria yang kini menekuni program S3 Ilmu Tata Pemerintahan itu.

Saat menyampaikan pandangan teologis atau refleksi rohani atas keadaan atau kondisi Indonesia saat ini, Pdt. Nus Reimas menerangkan, sekarang banyak orang cinta uang, sombong, egois dan tidak peduli lagi sesamanya, serta ada korupsi, radikalisme dan aksi-aksi kekerasan, apakah ini yang sering disebut akhir zaman. Namun, katanya, kita mesti terus berdoa untuk gereja dan bangsa ini serta menyuarakan pesan kedamaian, keadilan dan kebenaran dan mengasihi bangsa ini.

Pdt. Nus Reimas menegaskan, kita sering tidak mengerti apa rencana Tuhan di dalam hidup ini, namun kita percaya kepada Dia. "Kita harus terus berdoa untuk bangsa ini. Berdoa untuk Presiden, Kapolri, Panglima TNI dan para elite politik. Para pemimpin gereja pun harus kita ajak agar terus membangun persatuan kesatuan di tengah umat. Dan jangan berhenti berdoa, karena tak ada doa yang sia-sia dipanjatkan kepada Tuhan," cetus Ketua Dewan Pembina LPMI dan mantan Ketua Umum PGLII dua periode itu. Diskusi ini digagas Pembina/Penasihat NARWASTU, Pdt. DR. Nus Reimas (Pemuka gereja aras nasional dan Ketua Majelis Pertimbangan PGLII). TK

 

 

Berita Terkait