Doakan Indonesia agar Jangan Rusuh Terus dengan Kasus SARA Seperti di Tanjung Balai

544 dibaca
Kerusuhan di Tanjung Balai, Sumut. Tak menghargai Pancasila dan nilai-nilai kemanusiaan.

BERITANARWASTU.COM. Pembakaran dan perusakan sejumlah tempat ibadah, yakni 1 vihara dan 4 kelenteng di Tanjung Balai, Sumatera Utara (Sumut), pada Jumat malam, 29 Juli 2016 lalu telah kembali menodai kedamaian dan kerukunan umat beragama di negeri ini. Hanya karena persoalan sepele, yakni ada warga yang menegur tetangganya agar memutar corong masjid jangan terlalu keras di lingkungannya, lalu sekelompok massa murka, selanjutnya membakar tempat ibadah Budha dan Konghucu. Amuk massa ini dikabarkan dipicu oleh provokasi sejumlah oknum lewat media sosial (medsos). Makanya, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian langsung terjun ke Tanjung Balai untuk mengusut kasus bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) ini. Dan Tito berjanji akan menindak aktor dan pelaku kerusuhan di Tanjung Balai.

Sehari setelah kerusuhan, Tito mengumpulkan sejumlah tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, aparat polisi dan pejabat di Tanjung Balai, dan diminta agar semua pihak bisa menahan diri, serta bisa diciptakan kedamaian di daerahnya. Kepala BIN Letjen TNI (Purn.) Sutiyoso menuturkan, sangat disesalkan kejadian yang berlangsung spontan itu. Sedangkan Menkopolhukam baru, Jenderal TNI (Purn.) Wiranto meminta masyarakat agar jangan melupakan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di Pancasila, sehingga tak terjadi amuk massa seperti di Tanjung Balai. Juga Ketua DPD-RI, Irman Gusman menyesalkan kejadian tersebut. “Kita harus menghargai kemajemukan di Indonesia. Harus bisa menahan diri, jangan anarkis,” ujarnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat hadir di acara “Musyawarah Masyarakat Batak” di Parapat, Sumut, juga meminta masyarakat agar menyadari bahwa bangsa ini terdiri dari berbagai suku dan latar belakang. “Perbedaan itulah yang membuat bangsa ini kuat. Jadi jangan dibuat negeri ini rusuh,” ujar Jusuf Kalla. Demikian juga Ketua DPR-RI, Dr. Ade Komaruddin, seperti dikutip Media Indonesia menuturkan, selama ini Sumut dikenal daerah yang hidup rukun, dan menghargai toleransi beragama, dan sekarang ternoda karena pembakaran tempat ibadah di Tanjung Balai. Sementara Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj menuturkan, kerusuhan di Tanjung Balai meledak, karena gap sosial dan ekonomi yang ternyata sangat lebar di sana. Dan itu harus diperhatikan semua pihak.

Tokoh Kristiani, serta pengamat sosial dan politik, Sterra Pietersz, S.H., M.H. yang juga mantan anggota DPR-RI menerangkan, negeri ini setiap akan mengadakan event pilkada, seperti di DKI Jakarta dan pilpres, pasti ada saja kejutan seperti kerusuhan bernuansa SARA. “Kita lihat di masa lalu, Ambon, Poso dan daerah lain sudah dikerjain. Apa kita tak belajar dari pengalaman pahit itu. Penegak hukum harus tegas menyikapi itu. Kita doakan agar bangsa ini tetap aman dan damai, serta pemimpin di daerah harus bijaksana dalam memimpin daerahnya. Aparat hukum pun mesti tegas terhadap para perusuh,” ujar mantan Wakil Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di DPR-RI, mantan Sekjen DPP PIKI dan kini Sekretaris FORKOM NARWASTU itu.

Pengacara/advokat senior, Said Damanik, S.H., M.H. yang juga Sekretaris Dewan Kehormatan DPN PERADI berpendapat, tahun lalu di Aceh Singkil sudah ada gangguan beribadah terhadap gereja-gereja. Kemudian sekarang ada teror terhadap warung makan (lapo) orang Batak Karo yang menjajakan daging babi panggang, dan sekarang ada lagi kelenteng dan vihara dibakar di Sumut. “Kita sedih melihat bangsa ini tak aman dan rukun. Kelompok-kelompok anarkis harus ditindak tegas. Kita doakan Pak Jokowi agar bersama Kapolri dan aparatnya, termasuk dengan dukungan Menkopolhukam baru bisa menciptakan keamaman, kedamaian dan kerukunan di masyarakat. Agama jangan diadudomba provokator, sehingga masyarakat terlibat konflik,” ujar mantan Plt. Sekjen DPN PERADI dan anggota jemaat GPIB Gloria, Kota Bekasi, Jawa Barat, ini. TT

 

Berita Terkait