DPP API Sikapi Pemboman Gereja di Samarinda

930 dibaca
Pdt. Drs. Harsanto Adi S., M.M., M.Th (Ketua Umum DPP API).

BERITANARWASTU.COM. Dewan Pimpinan Pusat API (Asosiasi Pendeta Indonesia) yang dipimpin Pdt. Drs. Harsanto Adi S., M.M., M.Th (Ketua Umum) dan Pdt. Dr. Hendrik Masengi, M.Div, M.Th (Sekjen), pada 14 November 2016 menyampaikan pernyataan sikap atas pengeboman Gereja Kristen Oikoumene (GKO) di Samarinda, Kalimantan Timur, yang sudah merenggut nyawa anak-anak. Berikut pernyataan sikap API yang baru-baru ini pun sudah menggelar Kongres 2016 di Jakarta.

Telah terjadi peledakan bom yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka jemaat HKBP di Gereja Oikoumene, Sengkotek, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada hari Minggu 13 November 2016. Untuk itu Asosiasi Pendeta Indonesia menyampaikan pernyataan sebagai berikut, pertama, kami menyatakan prihatin, bahwa untuk kesekian kalinya masih terjadi perbuatan yang tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok yang tidak bertanggungjawab, menteror jemaat HKBP di Gereja Oikoumene, Sengkotek, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dengan meledakkan bom yang berakibat jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.

Kedua, kami merasakan bahwa duka yang dialami oleh korban dan keluarga korban adalah duka kita semua. Kiranya Tuhan Yesus sendiri yang akan senantiasa memberikan penghiburan kepada korban dan keluarganya. Kepada jemaat Gereja Oikoumene Samarinda, kiranya tetap tabah, kuat, tidak takut, dan doa kami tetap meyertai Anda semua.

Ketiga, kami mengecam keras tindakan pengeboman ini, sebagai sebuah perbuatan keji, yang tidak berperikemanusiaan. Untuk itu kami meminta pemerintah dalam hal ini Kepolisian RI agar tidak sekadar menangkap pelakunya, memproses sesuai dengan hukum, tetapi juga mengungkap aktor di belakang peristiwa keji ini sebagai upaya untuk terus meminimalisir aksi teror di Indonesia.

Keempat, kami meminta kepada Pemerintah dalam hal ini Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, agar melakukan langkah-langkah strategis yang berkaitan dengan aksi intoleransi, radikalisasi, dan aksi teroris.  Kelima, kami meminta kepada umat Kristen untuk terus berdoa, tidak takut, tetap tenang, tidak melakukan aksi-aksi yang justru dapat menimbulkan perpecahan di antara anak bangsa, dan percayakanlah bahwa aparat penegak hukum dan keamanan dalam hal ini Polri dan TNI, akan tetap mampu melindung keamanan nasional. Bangun terus persatuan dan kesatuan antarumat beragama sebagai sesama anak bangsa. ED

Berita Terkait