Eksekusi

• Oleh: Sigit Triyono 350 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration. Thomas Alva Edison (1847-1931).  Genius adalah satu persen inspirasi (ide-ide) dan sembilan puluh sembilan persen memeras keringat. Betapa sangat dahsyatnya eksekusi. Penyataan di atas diucapkan oleh Thomas Alva Edison yang sangat terkenal di Indonesia sebagai penemu lampu pijar. Padahal sebenarnya lebih dari itu. Dia memiliki 1.093 paten di Amerika Serikat dan 2.332 paten di seluruh dunia. Disebut sebagai pemegang paten terbanyak sepanjang abad. Dia menciptakan industri film, industri rekaman, mesin X-ray, dan ia bahkan menciptakan pena tato.

Seringkali publik hanya sekadar menganggap Thomas Alva Edison adalah penemu. Faktanya dia seorang pengusaha besar. Dia menciptakan perusahaan, seorang jenius pemasaran yang berhasil mengumpulkan kekayaan sebesar US$ 200 juta  dan mampu mengubah dunia. Ini menandakan apa yang dia katakan adalah sungguh merupakan realitas, di mana eksekusi lebih digdaya dibandingkan ide.

Ide bisa datang dari mana saja. Apalagi di era yang over information seperti sekarang, berbagai macam ide tersebar  di genggaman tangan kita melalui gadget yang selalu kita bawa ke mana saja. Seberapa ide yang menjadi realitas dan dapat menghasilkan dampak yang luas? Tergantung dari eksekusinya.

Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh dalam eksekusi. Pertama adalah keberanian atau “nyali”. Dari mana datangnya keberanian? Secara alamiah setiap orang memiliki keberanian. Ada yang dilahirkan memiliki “nyali” yang besar, seolah tidak ada yang ditakutkan dalam setiap pengambilan keputusan. Bersyukur kalau kita masuk dalam golongan ini.  

Tapi tidak perlu kecil hati bila kita dilahirkan dengan “nyali” yang pas-pasan. Keberanian tumbuh terutama karena kita memiliki visi, goal atau tujuan dan target-target yang jelas. Ke mana, apa dan berapa besar yang akan kita capai di masa depan sangat menentukan seberapa besar keberanian kita. Semakin kita memiliki visi, tujuan atau target yang “emosional” maka akan semakin berani kita membuat eksekusi.

Keberanian juga bisa ditumbuhkan dengan memahami apa yang akan kita lakukan sesudahnya. Kita harus paham detail langkah-langkah selanjutnya agar kita tidak ragu-ragu melakukan eksekusi. Perhitungan-perhitungan matang dan analisis obyektif juga dibutuhkan agar pasca eksekusi semuanya akan lancar. Dengan cara ini kita bisa memprediksi risiko yang terukur dan kemudian tidak ada alasan untuk tidak berani mengeksekusi.

Hal kedua yang berpengaruh terhadap ekseskusi adalah pemahaman terhadap indikator-indikator (tolok ukur) tujuan yang ingin dicapai. Hal ini sangat penting agar tahapan-tahapan eksekusi lebih jelas dan terukur sehingga ada kepastian manfaat bagi suatu eksekusi. Hal yang tidak bisa diukur adalah mustahil untuk dicapai. Oleh karenanya tujuan dan target yang terukur beserta indikator-indikatornya menjadi syarat mutlak.

Faktor ketiga yang berpengaruh dalam eksekusi adalah soal tanggung jawab. Sebagai pemimpin harus memastikan akan tanggung jawabnya terhadap keberhasilan atau kegagalan organisasi. Tidak ada keberhasilan tanpa eksekusi. Dengan demikian karena rasa tanggung jawab inilah, maka eksekusi tidak bisa ditunda-tunda. Semua level jabatan di organisasi memiliki tanggung jawab sesuai dengan kewenangan yang diberikan. Sebaiknya ada sistem konsekuensi bagi siapa saja yang melakukan eksekusi ataupun tidak.

Sebagus apapun strategi yang sudah disusun oleh organisasi, tanpa ada eksekusi maka tidak akan memberikan hasil yang nyata. Strategi adalah bagaimana cara terbaik dan tercepat menyeberang kolam renang. Eksekusi adalah terjun ke kolam renang dan terus berenang sampai ke seberang. Banyak organisasi yang sudah menyusun rencana strategisnya tapi tidak banyak yang berhasil dieksekusi. Masalah utamanya adalah memang kepemimpinan yang kurang memiliki visi yang kuat. Bila pemimpin  memiliki visi yang kuat, maka dia akan berani membuat eksekusi demi perwujudan visinya.

Pemimpin yang memiliki visi yang kuat akan memberdayakan semua timnya agar berani dan konsisten melakukan eksekusi demi pencapian visi, tujuan, dan target yang sudah ditetapkan. Dia juga akan mengupayakan infrastruktur organisasi yang menunjang agar eksekusi berjalan dengan baik. Infrastruktur organisasi termasuk di dalamnya semua sarana dan prasarana kerja serta sistem kerja yang jelas.

Satu hal terakhir yang sangat penting dalam eksekusi adalah “rasa kemendesakan” dari semua pihak. Rasa ini yang akan menjadi pendorong terkuat sebuah eksekusi apalagi bila tidak ada pilihan lain. “Rasa kemendesakan” harus diupayakan dengan cermat. Harus didukung oleh bukti-bukti baik secara eksternal (pihak pesaing) maupun internal (dampak sangat buruk bagi organisasi). Mengkomunikasikan “rasa kemendesakan” membutuhkan seni tersendiri. Bukan teror dan menakut-nakuti yang disosialisakan. Perlu melihat fakta secara rasional tentang berbagai kerugian yang akan ditanggung bila tidak melakukan eksekusi. Di sisi lain perlu dijelaskan berbagai manfaat dan kabar gembira bila eksekusi segera mampu dijalankan. 

 

*

Penulisadalah Founder & CEO SHI Consultant  – Strategic Consulting, Training, Outsourching& Research. Dapat diikuti juga di youtube: triyonosigit

 

Berita Terkait