Era Disruption

Oleh: Dr (Cand) SigitTriyono, MM 482 dibaca


      BERITANARWASTU.COM. Pada tahun 1994 John Naisbitt menulis buku berjudul“Global Paradox” yang memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Dia mengungkapkan akan ada kecenderungan-kecenderungan yang dramatis dan sangat berbeda, antara lain : ekonomi global, komunikasi global, pecah-belah bangsa, etnis, penentuan nasib sendiri, bahkan akan munculnegara baru. Semuanya menuju pada satu arah, yaitu "paradoks global". Tentang ekonomi Naisbitt mengatakan: “Semakin ekonomi dunia membesar, komponen bangsa-bangsa menjadi lebih kecil. Tidak ada yang dominan.”

Pengemudi  paradoks adalah revolusi telekomunikasi.  Hampir seketika pertukaran informasi di seluruh dunia memberdayakan individu, usaha kecil, dan negara yang baru mulai. Sintesis dari dari komputer, telepon, televisi, dan teknologi serta kekuatan perusahaan membentuk perkembangan INFORMASI SUPERHIGHWAY. Bukan siapa yang lebih besar dan tua yang akan menang, tapi siapa yang berlari cepat yang akan memenangkan persaingan.

Saat ini, 23 tahun kemudian, apa yang terjadi? Terbukti banyak sekali paradoks: Politik, Hukum, Ekonomi, dan terutama Komunikasi Media Sosial.Banyak kalangan mengalami kebingungan, mudah “baper”, bersumbu pendek, dan selalu menyangkal realitas.Mayoritas orang menginginkan solusi-solusi pragmatis, instan, dan jangka pendek.Mengerasnya radikalisme-ekstrimisme global,salah satupenyebabnya karena sebagai “pelarian” dari kebingungan dan rasa frustasi menghadapi realitas. 

Global paradox memunculkan aneka “disruption-disruption”. Disruption didefinisikan secara sederhana sebagai gangguan atau kekacauan dengan kadar sangat serius dan datang tiba-tiba, tidak diduga serta tidak sempat diprediksi.  Contoh konkret salah satunya adalah datangnya virus Ransomware atau Wannacry yang menghebohkan di bulan Mei 2017. Diberitakan lebih dari  150 negara terserang virus ini dan tidak sempat mencegah dan apalagi mengalahkannya. Indonesia yang diberitakan terkena dampak virus ini adalah Rumah Sakit Dharmais Jakarta. Pelayanan yang biasanya online kembali menjadi manual. Antrian yang biasanya cepat, menjadi sangat lambat. Kerugian yang diderita pastilah sangat banyak.

Dalam kehidupan sosial banyak tatanan yang berubah dikarenakan disruption yang tidak terduga. Komunitas yang tadinya rukun-rukun menjadi ada saling kecurigaan dan gesekan kemudian saling berjarak. Banyak rumah tangga yang semula selalu berinteraksi dengan harmonis, dengan datangnya media sosial beserta limpahan informasi yang membludak, menjadikannya jarang berinteraksi langsung dan akhirnya tidak ada keharmonisan serta kebersamaan lagi. Sangat populer idiom:”Gara-gara gawai, yang jauh jadi dekat yang dekat jadi jauh.” Sebenarnya ini sudah masuk ke dalam fenomenadisruption.

Kehidupan politik yang hingar-bingar menimbulkan serba tidak terduga dampak ketegangannya. Apa pengemudinya? Teknologi informasi. Orang sangat mudah merekayasa informasi, disebarkan dan diulang-ulang kepada seluruh pengguna internet. Kita sudah merasakan betapa dampak persaingan politik yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup orang banyak. Politik yang sesungguhnya bertujuan untuk menata, tetapi malah merusak. Semua pihak tidak mengira akan muncul dampak kerusakan yang terjadi.

Kehidupan ekonomi dan bisnis, disruption sangat-sangat memporak-porandakan eksistensi banyak perusahaan. Industri minyak yang berpuluh tahun dimanjakan dengan harga minyak setinggi 150 US Dollar, tiba-tiba anjlok menjadi 50 US Dollar. Tidak ada yang dapat mengantisipasi, mencegah dan cepat bereaksi atas fenomena ini. Semua terkejut, terpana, tidak menduga, tidak sedikit yang stress dan banyak PHK-PHK yang dilakukan dengan sangat terpaksa. Bisnis transportasi mengalami pukulan telak dengan hadirnya transportasi online dengan pelayanan yang jauh lebih cepat dan murah. Siapa yang bisa menduga semua itu muncul? Tidak ada satupun. Semua menjadi disruption yang mengerikan bagi pemain-pemain bisnis yang sudah dimanjakan dengan segala kesuksesan masa lalu.

Dengan fenomena di atas, apa yang bisa kita lakukan? Pertanyaan yang sederhana namun sangat sulit menjawabnya. Tapi etidaknya kita dapat menelusuri dan mengidentifikasi berbagai faktor-faktor dan contoh-contoh yang membuat banyak pihak mampu bertahan dan bahkan menang dalam situasi di era disruption ini.

Seperti yang diungkapkan John Naisbitt 23 tahun lalu, kita harus menjadi pengemudi atas  Teknologi Informasi. Tidak ada yang dapat menghentikan laju perkembangan teknologi yang serba cepat ini. Kita harus masuk dan ikut aktif menguasai, memakai dan mengembangkannya untuk sukses lembaga kita. Kita harus terbuka lebar terhadap segala perubahan yang ada. Kita harus berani merekrut generasi milenial yang sangat fasih dengan internet dan sangat cepat menjalankan gawai handphone.

Tidak ada pilihan lain kecuali berselancar di arus disruption dengan tetap bermental optimis, siap kreatif dan gigih serta pantang menyerah. Bukankah Charles Dawin mengatakan “pada akhirnya bukan yang kuat yang akan menang, tetapi yang mempu beradaptasi terhadap berbagai perubahan.” 

Penulis adalah Founder & Managing Director PT. Sukses Holistik Indonesia  Strategic Consulting, Training & Research. 

Berita Terkait