FKKJ Menyoal Pemimpin yang Memahami Bhinneka Tunggal Ika

748 dibaca
Acara bersama Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) di Graha Bethel, Jakarta.

 Rasa nasionalis yang semakin luntur bisa mempengaruhi kebhinnekaan yang ada. Jika sudah demikian tidak menutup kemungkinan hal itu bisa membuka celah perpecahan. Menurut Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang, hal itu bisa dihindari jika para pemimpin bijaksana saat membangun negara ini dengan memakai motto Bhinneka Tunggal Ika. Karena di tengah perbedaan yang ada, baik perbedaan suku, bahasa, budaya, agama, kita melihat betapa pentingnya persatuan agar negara ini menjadi adil dan makmur. Dan ini merupakan komitmen nasional sekaligus komitmen semua warga negara Indonesia.

 Pernyataan Ketua Umum PGI itu disampaikan dalam diskusi bertajuk “Pemimpin yang Melayani di Tengah-tengah Kebhinnekaan” yang diadakan oleh Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada Jumat, 11 Maret 2016 lalu. Di sisi lain, budayawan dan rohaniwan Katolik, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ berpendapat, bahwa di Indonesia terdapat banyak agama dan kepercayaan. Keberagaman agama merupakan kenyataan yang hidup dalam bangsa ini sejak semula.

Dalam diskusi tersebut dihadirkan pula Prof. Dr. A. Syafiq Mughni, M.A. (Ketua PP Muhammadiyah), dan Theophilus Bela, M.A. (Ketua Umum FKKJ). Dan  moderator Cornelius D. Ronowidjojo (Wakil Ketua FKKJ). Diskusi itu diadakan pula dalam rangka memperingati hari jadi FKKJ ke-17, dan pada kesempatan itu digelar pula serah terima tampuk jabatan Ketua Umum FKKJ dari Theophilus Bela kepada Pdt. Melianus H. Kakiai, M.Th. “Kita akan lebih melibatkan generasi muda dalam kerja-kerja FKKJ,” ujar mantan Sekretaris Umum BPH Sinode GBI itu.

“Tugas FKKJ itu tidak bisa dikerjakan oleh satu orang, apalagi orang tua. Kita libatkan yang muda sejak dini, supaya di masa yang akan datang menjadi seorang pemimpin yang menghargai kebhinnekaan dan kebebasan beragama dan berkeyakinan,” ujar Pdt. Melianus Kakiay.

 Bagi Theophilus Bela, harapannya terhadap FKKJ ke depan agar lembaga ini bisa tetap memberikan kontribusi dan sebagai jembatan komunikasi antara gereja dengan gereja, antara gereja dengan pemerintah dan pihak ketiga lainnya. Perannya paling terasa ketika ada penghambatan kebebasan beribadah oleh kelompok masyarakat tertentu. BTY

Berita Terkait