Forkom NARWASTU, Apa Pula Ini?

* Oleh: Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A. 619 dibaca


Beritanarwastu.com. Benarlah, saya pun tidak pernah menduga akan muncul sebuah forum komunikasi yang baru di sebuah “area” yang juga, menurut saya, baru. Itulah sebabnya saya tambahkan “apa pula ini?” di judul tulisan ini. Karena di balik kemunculannya, akan banyak timbul tanda tanya. Dan bila banyak yang bertanya-tanya, maka biasanya akan muncul juga masalah-masalah.
Saya masih ingat (sebagai orang yang berkecimpung di dunia komunikasi) bahwa seseorang itu sangatlah memerlukan situasi berkomunikasi. Yang terutama di sini, menggunakan bahasa sebagai alatnya. Manusia tidak bisa “hidup” tanpa berkomunikasi. Dia ingin memberi pesan dan juga menerima pesan. Dia ingin dihargai, dia ingin didengarkan. Persoalannya, apakah dia memperoleh tempat yang tepat? Dan berdaya-guna hasil komunikasinya?
Saya bersyukur, menjadi saksi sejarah berdiri atau munculnya Forkom (Forum Komunikasi) NARWASTU. Ini kronologinya, saya kutip dari facebook Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU): Di Restoran Handayani, Matraman, Jakarta Timur, pada Selasa 5 April 2016 lalu mulai pukul 16 sampai 20 WIB, Pembina/Penasihat dan Pimpinan Majalah NARWASTU mengadakan temu kangen (reuni) terbatas bersama sejumlah “Tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU”. Acara yang dipandu Pemimpin Umum/Pemred NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos ini diawali dengan refleksi dan doa oleh Pembina/Penasihat NARWASTU, Pdt. DR. Nus Reimas.
Pertemuan ini dihadiri 22 tokoh, seperti Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit, Prof. Marten Napang, Laksma TNI Purn. Bonar Simangunsong, Said Damanik S.H., M.H., Sterra Pietersz S.H., M.H., Dr. Daniel Yusmick, John S.E. Panggabean S.H., M.H., Leo Batubara, Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H., Pdt. DR. Anna Nenoharan, Anton Zagota, DR. Tema Adiputera, Pdt. Marihot Siahaan, S.Th, Ir. Albert Siagian, Natalis Situmorang MT, St. Bertha Saragih, S.PAK, Dr. Anti Solaiman, Drs. Yosef Ariwibowo, Pdt. Wilfred Soplantila, Tina Purba, S.E., M.Si serta sejumlah tokoh muda. Pertemuan ini pun diisi dengan diskusi (curah pendapat) tentang masalah gereja dan kondisi Indonesia terkini dan pembentukan “FORUM KOMUNIKASI (FORKOM) NARWASTU” serta pemilihan pengurusnya.
Wadah ini akan dijadikan sebagai forum silaturahmi, komunikasi dan wadah pemberdayaan bagi umat lewat diskusi atau seminar. Dan telah dibentuk pula Pokja (kelompok kerja) untuk mengasuh FORKOM NARWASTU ini. Pengasuh atau Pokja FORKOM NARWASTU ini, yakni Prof. Marten Napang (Koordinator/Ketua, yang merupakan advokat senior dan Guru Besar di Universitas Hasanuddin, Makassar), Sterra Pietersz (Sekretaris, mantan anggota DPR-RI PDIP), John Panggabean (Bendahara, advokat senior) dan anggota: Albert Siagian (mantan Sekretaris Umum DPP GAMKI), Natalis Situmorang (mantan Ketua Umum PP Pemuda Katolik), Tema Adiputera (wartawan senior), Pdt. Wilfred Soplantila (pengurus LPMI/PGLII), Drs. Yosef Ariwibowo (mantan Ketua DPP KNPI) dan Daniel Yusmick (Pakar hukum dari Universitas Katolik Atmadjaya, Jakarta). 
Mereka dipilih secara aklamasi dan didoakan oleh Pdt. Nus Reimas agar bisa mengembangkan FORKOM NARWASTU ini dengan mengajak alumni Tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU yang sudah ada 12 angkatan sejak tahun 1999 lalu untuk berbuat sesuatu untuk kebaikan gereja dan masyarakat. 
Dengan mengikuti proses lahirnya Forkom NARWASTU di atas, maka muncullah beberapa catatan saya. Pertama, tahukah pembaca bahwa anggota Forkom NARWASTU ini bisa mendapatkan perhargaan sebagai tokoh Kristiani versi Majalah NARWASTU, adalah karena mereka, paling tidak, memiliki keberhasilan dalam  bidang tertentu? Mengapa mereka berhasil? Saya yakin salah satu jawabannya adalah, kemampuan berkomunikasi. Dan, bila seseorang telah berhasil, apakah akan diam saja seterusnya? Oh, tidak. Menurut saya, ada gerakan di dalam hatinya untuk juga “membagikan” sesuatu kepada orang lain, bahkan kepada generasi muda, dan juga kepada anak-anak bangsa. Dan biasanya, mereka akan mencari sebuah forum komunikasi yang tepat.
Kedua, tidak secara kebetulan saya pun terlibat di dalam Forkom NARWASTU. Nah, hal apa yang pertama kali muncul dalam pikiran saya ketika forum komunikasi ini lahir? Ini dia, waow...bertambah lagi forum komunikasi (bisa juga dikatakan forum berdiskusi) di area “ladang” Kristiani. Tetapi, bukankah sebenarnya organisasi semacam ini sudah banyak bermunculan sejak dulu? Tidakkah nanti akan terjadi tumpang tindih? Dan bahkan akan muncul iri hati? Bahkan akan dicurigai? 
Hm...hm...bisa saja terjadi semua itu. Dan kalau ada yang berpikiran negatif seperti itu, saya pun berpendapat, sia-sia semua itu. Mengapa? Karena setiap orang bebas “membentuk” forum komunikasi kapan saja, di mana saja, bahkan hanya dengan beberapa orang anggota saja. Asalkan dia dapat mempertanggungjawabkan “perbuatan”-nya itu kepada Tuhan, kepada pemerintah, dan kepada sesama.
Ketiga, sempat terbayang dalam benak saya, bagaimana nanti menjalankan atau menggerakkan agar Forkom NARWASTU ini menjadi “hidup”. Bukankah akan sulit “mempersatukan” ide/kemauan dari anggota forum komunikasi ini, yang maaf, telah miliki status tokoh Kristiani versi NARWASTU? Mereka adalah insan yang bukan biasa-biasa saja, sekali lagi maaf, karena ketika ada yang memberikan gelar/status kepada seseorang dengan memenuhi kriteria (berat) yang disyaratkan, maka  bukankah itu di luar yang biasa-biasa saja? Nah, dengan logika ini, maka muncullah pertanyaan saya di awal paragraf ini. 
Ya! Biarlah saya jawab sendiri pertanyaan ini. Jelas, akan sulit membuat forum komunikasi ini menjadi “hidup” dan menyatukan ide/kemauannya bila yang dikedepankan adalah kehebatan ketokohannya. Bisa saja nanti forum komunikasi ini berumur pendek. Namun, bila kerendahhatiannya yang didahulukan, termasuk kerinduannya untuk berbagi, dengan dilandasi semangat melayani yang ujung-ujungnya menyenangkan hati Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama manusia (minimal memberikan sumbangan solusi), maka roda perjalanan Forkom NARWASTU ini akan berbeda dari pemikiran pesimis tadi.
Keempat, ada sedikit kekhawatiran saya ketika mulai dilibatkan di Forkom NARWASTU ini. Begini, karena bisa saja ini menjadi bahan “perbincangan” publik. Ini maksud saya, dengan telah banyaknya figur Kristiani yang mendapat penghargaan dari NARWASTU sebagai tokoh Kristiani, setiap tahunnya, yang bila dijumlahkan ada sekitar 200 figur, maka ini sesuatu yang  sangat berharga dan istimewa. Sebuah kegiatan seminar ataupun diskusi panel bahkan mendengarkan ceramah seseorang, akan “penuh”-lah ruangan itu oleh anggota Forkom NARWASTU. 
Hm...tentu ini baguslah. Namun, yang terpikir oleh saya, situasi seperti itu dapat saja dipandang sebagai “katak dalam tempurung” yang tidak membuka dan terbuka. Maksud saya adalah, bukan hanya anggota Forkom NARWASTU yang mendapat “sesuatu” (pengetahuan dan informasi terbaru) tetapi juga sesekali membuka pintu (dan terbuka) bagi publik untuk mengikuti kegiatan/acara-acara yang dibuat. Dengan demikian, Forkom NARWASTU pun telah “berbagi” secara langsung.
Demikianlah pambahasan saya tentang Forkom NARWASTU. Dan saya akhiri tulisan ini di paragraf ini dengan beberapa kalimat berikut. Adalah sebuah “kejutan” dengan munculnya Forkom NARWASTU ini. Dan saya mengapresiasi pengelola NARWASTU yang telah berjuang keras mengumpulkan/mempersatukan tokoh-tokoh Kristiani pilihannya, dalam satu ruang yang bernama Forkom NARWASTU. Saya percaya, dengan visi, misi, dan program kerja yang baik dan benar, maka Forkom NARWASTU ini menjadi berkat bagi bangsa, dan secara khusus bagi umat Kristiani. Ya! Mari kita renungkan firman Tuhan ini, Roma  12:11, Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

* Penulis adalah pemerhati media, konsultan radio dan dosen, serta termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan NARWASTU.”


Berita Terkait