FORKOMA PMKRI minta Aparat Ungkap Otak Insiden Tanjung Balai

475 dibaca
Hermawi F. Taslim, S.H.

            beritanarwastu.com. Peristiwa bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) di Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada akhir Juli 2016 lalu diyakini digerakkan oleh orang-orang yang tidak senang dengan ketenangan dan kerukunan umat beragama di negeri ini. Demikian antara lain tanggapan Ketua Forum Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia‎ (FORKOMA PMKRI), Hermawi F. Taslim, S.H. berkaitan dengan terjadinya perusakan dan pembakaran beberapa rumah ibadah di Tanjung Balai.                                                            

          Menurut Hermawi yang juga Wakil Ketua Badan Hukum DPP Partai NasDem ini, patut diduga peristiwa ini ada penggeraknya, karena selama ini kita tahu bahwa Tanjung Balai merupakan salah satu daerah yang relatif  tenang dan sejuk serta sudah berpuluh-puluh tahun hidup dalam kemajemukan dalam  suasana yang saling mengayomi.  Sepengetahuan kita, katanya, kita pahami selama ini,  Tanjung Balai, itu adalah  ikon pluralisme “Sumut, kok, tiba-tiba membara,” tanya Taslim yang juga mantan tokoh mahasiswa Sumatera Utara dan kini pengacara itu.

‎Pada bagian lain pernyataannya, FORKOMA PMKRI menyatakan prihatin dan berempati kepada warga yang telah diciderai perasaannya atas peristiwa tersebut. Namun kita juga bersyukur, spontanitas warga Tanjung Balai yang sejak dulu kita kenal matang dalam pergumulan pluralisme langsung bersepakat menghentikan tindakan-tindakan anarkis tersebut. 

Namun demikian, karena peristiwa ini adalah peristiwa pidana, maka kata Taslim yang termasuk dalam 21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU, kita mendesak aparat hukum untuk terus mengusut tuntas dan  mengungkap otak penggeraknya agar peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang.                        Menyikapi tren dunia yang cenderung memanfaatkan isu agama untuk kepentingan-kepentingan sempit, Taslim mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan bangsa untuk terus memperkokoh silaturahmi, meningkatkan komunikasi agar kita tidak mudah diperalat oleh kepentingan-kepentingan yang justru bisa merusak integritas kita sebagai sebuah bangsa yang kuat dan mandiri. TS

Berita Terkait