FUKRI Adakan Doa Syukur Atas 72 Tahun Kemerdekaan RI

393 dibaca
Suasana doa syukur atas HUT ke-72 kemerdekaan RI bersama tokoh-tokoh gereja.

Beritanarwastu.com. Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) bersama Jaringan Doa Nasional (JDN) menggelar acara “Doa Syukur 72 Tahun Republik Indonesia” di Lantai 5 Grha Oikoumene, Jakarta Pusat, pada Jumat, 25 Agustus 2017 lalu. FUKRI merupakan forum komunikasi yang mewadahi lembaga gereja tingkat nasional, seperti PGI, KWI, PGPI, PGLII, PBI, BK, GOI dan GMAHK.

          Doa Syukur 72 Tahun Republik Indonesia berlangsung semarak. Paduan suara Mahasiswa AKPER Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta, turut ambil bagian dengan melantunkan puji-pujian. Demikian pula perwakilan dari GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia lewat pembacaan puisi yang menggambarkan perjuangan yang masih mereka lakukan. Balutan etnik lewat pakaian-pakaian daerah yang dikenakan oleh seluruh panitia memberikan nuansa tersendiri dari kegiatan tersebut.

            Sekretaris Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, M.Th dalam sambutannya mengatakan, kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan, bahkan pengorbanan nyawa dan cucuran darah para pahlawan. Demikian juga kemerdekaan kita manusia, terjadi hanya karena pengorbanan nyawa dan darah Kristus.  “Walau di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Kemerdekaan RI dari penjajahan diraih sebagai hasil dari perjuangan rakyat (kita) sendiri, sementara kemerdekaan sebagai orang Kristen, kemerdekaan dari belenggu dosa dan maut, bukanlah hasil usaha manusia (kita) tetapi semata anugerah Tuhan,” ujarnya.

           “Tak dapat dipungkiri bahwa campur tangan Tuhan jualah yang memungkinkan proklamasi itu. Campur tangan Tuhan jualah yang memungkinkan perjalanan bangsa Indonesia bisa berjalan hingga mencapai 72 tahun saat ini,” jelas Pdt. Gomar. Seraya mensyukuri itu semua, lanjut Pdt. Gomar, gereja-gereja di Indonesia juga diingatkan akan kuatnya tarik menarik berbagai kepentingan yang mengancam tujuan kemerdekaan dan pemerdekaan negara RI.

            Sebagai akibat dari tarik menarik kekuatan kepentingan itu, katanya, kita diperhadapkan dengan beberapa kenyataan, seperti masih banyaknya kelompok yang belum terlindungi hak-haknya, masih jauhnya sebagian masyarakat dari sejahtera dan cerdas, masih belum terwujudnya perdamaian sejati, karena praktik-praktik ketidakadilan masih terjadi. Hal ini semua menimbulkan tanya, masihkah Indonesia akan bertahan sebagai bangsa yang besar, kaya, dan majemuk.

            Padahal, tujuan pembentukan negara RI, ujar Pdt. Gomar, sebagaimana ditorehkan dalam Pembukaan UUD 1945 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

             Sementara itu dalam sambutannya mewakili Pemerintah, Dirjen Bimas Kristen Protestan RI, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si menegaskan, meski di tengah-tengah persoalan bangsa, memasuki 72 tahun kemerdekaan, umat Kristen diingatkan untuk tetap bersyukur. “Memang sangat berat, apalagi ada terminologi minoritas. Namun kita harus menempatkannya dalam kualitas, bukan kuantitas. Sehingga sebagai umat Kristen kita mampu menunjukkan kualitas dan integritas untuk membangun bangsa ini,” tegas Prof. Thomas.

            Dia juga mengingatkan, kita patut bersyukur karena selama perjalanan kemerdekaan banyak tokoh Kristen diberi ruang untuk terlibat dalam kehidupan bangsa. Hal senada disampaikan Prof. Romo Magnis Soeseno. Dalam refleksi kemerdekaannya Romo Magnis mengatakan, kita tetap patut mengucap syukur meskipun jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia masih terus memperjuangkan haknya di depan Istana Negara.

           “Memang diperlukan perjalanan panjang untuk mewujudkan keadilan, pemenuhan hak asasi manusia, dan penegakan hukum yang memang masih jauh. Tapi jika dibandingkan negara lain, kita masih lebih baik. Memang ada kekecewaan, tetapi sebagai pengikut Yesus kita tidak boleh berhenti untuk menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Dan kita tetap dituntut untuk rendah hati,” katanya.

             Menurut Romo Magnis, kehadiran umat Kristen mesti terasa sebagai rahmat bagi semua, dan menciptakan ruang di mana roh Allah dapat dirasakan. Sebab itu, kita dituntut untuk membangun koalisi dengan semua pihak yang menolak kekerasan, dan ketidakadilan. Pdt. Dr. Bambang Widjaja dalam khotbahnya menegaskan tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh gereja-gereja dalam mengisi kemerdekaan. Pertama, memiliki kesadaran bahwa kita memiliki kekurangan. Kedua, memiliki tujuan yang sama, yaitu memajukan bangsa ini. Ketiga, menghargai kepelbagaian, dan perbedaan. TS

Berita Terkait