Pdt. Jefri Tambayong, S.Th
Gaungkan Indonesia “Bersih Narkoba (Bersinar)” 2015

2043 dibaca
Pdt. Jefri Tambayong, S.Th

Beritanarwastu.com. Siapa yang tidak kenal Pdt. Jefri Tambayong, S.Th, Gembala Sidang di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Kemuliaan Kasih Agape, Pondok Kopi, Jakarta Timur ini. Dia merupakan perintis GMDM yang selama ini cukup gigih berkampanye akan bahaya narkoba dan HIV/AIDS. Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM)  dalam berbagai kesempatan sering menyatakan perang terhadap bahaya seks bebas alias pelacuran. GMDM yakin bahwa penularan HIV/AIDS paling banyak berasal dari hubungan seks bebas dan jarum suntik.

Karena kegigihannya, tak heran kalau pemerintah, TNI, Mabes Polri, KNPI, gereja-gereja, dan media mengapresiasi kiprah Pdt. Jefri. Melalui GMDM ia sering berkampanye agar semua anak bangsa bersatu menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba dan HIV/AIDS. GMDM lewat brosur-brosurnya menegaskan, “Tolak Semua Narkoba” dan “Rokok Adalah Gerbang Menuju Narkoba”. Lantaran aksi kemanusiaan yang dilakoninya itulah ia pernah mendapat teror dari sejumlah oknum yang punya jaringan dalam hal jual beli narkoba, mulai dari kantornya diserang sekelompok bandar narkoba, komputernya diobrak-abrik bahkan gembong narkoba internasional pernah mengancam membunuhnya.

Pdt. Jefri menambahkan, banyak juga orang Kristen yang jadi pecandu narkoba, sehingga gereja harus jeli akan hal ini. Bahkan, katanya, ada tokoh nasional yang pernah ditangkap KPK, meskipun ia doktor hukum namun memakai narkoba. “Sehingga semangat memberantas narkoba ini harus sama dengan semangat memerangi korupsi dan teroris. Di LP Cipinang itu, dari 4.000-an narapidana yang ada, ada 3.000 narapidana yang bermasalah karena narkoba,” ujar salah satu pendiri HMT Group dan salah satu Presidium serta Sekjen Rehabilitasi se-Indonesia FOKAN (Forum Organisasi Kelembagaan Anti Narkoba) ini.

Menurutnya, data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut, ada 4,2 hingga 4,9 juta pecandu narkoba di Indonesia. Sedangkan dari jumlah itu, hanya 2.000 orang yang bisa direhabilitasi atau dirawat BNN di cabang-cabangnya, sedangkan pihak swasta hanya bisa merehabilitasi 16.000. “Sementara 1,3 juta dari 4,2 juta itu harusnya mendapar rehabilitasi. Itu data dari Deputi Rehabilitasi BNN. Makanya, selain berdialog dengan ormas-ormas dan kampus-kampus, BNN pun sudah mengajak gereja-gereja di Indonesia agar peduli membuat rehabilitasi korban narkoba. BNN mengatakan, sangat penting pelatihan-pelatihan dan kampanye anti narkoba itu di gereja-gereja. Jiwa-jiwa yang jadi korban narkoba itu harus diperhatikan gereja,” katanya.

              Pdt. Jefri Tambayong menuturkan, Tuhan sudah memanggilnya untuk melayani bangsa ini agar sadar akan bahaya narkoba dan HIV/AIDS, sehingga ia akan terus maju berkampanye atas bahaya narkoba. “Meskipun ada banyak orang yang pesimis dengan visi Indonesia 2015, yakni BERSINAR (bersih narkoba), namun kami selalu semangat. Visi yang juga berlaku di Asia ini akan kami terus gaungkan, bahwa bangsa ini pun terancam dengan bahaya narkoba, sehingga kita harus bersama-sama melawan kartel-kartel obat bius agar jangan membuat generasi muda bangsa ini semakin terpuruk,” tegas Pdt. Jefri.

             Lulusan ITKI Petamburan, Jakarta Barat, yang pernah mengikuti pendidikan kepemimpinan dan penginjilan di Amerika Serikat dan Korea Selatan ini menerangkan, bahaya narkoba itu tidak main-main. Karena narkoba bisa meracuni siapa saja, dan tak mengenal status sosial, latar belakang pendidikan atau tingkat ekonomi seseorang. Pdt. Jefri yang sudah berulang kali dipercaya sebagai Ketua Panitia Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) tingkat nasional yang melibatkan ratusan ribu orang, mengatakan, saat ini mereka terus menjalin kerjasama dengan ormas-ormas, media, kampus-kampus dan tokoh masyarakat di dalam memberantas bahaya narkoba.

“Bahkan, kami sekarang menyiapkan duta-duta kampus dari kalangan mahasiswa untuk berkampanye soal bahaya narkoba,” ujar Pdt. Jefri yang mengharapkan agar kaum muda gereja waspada terhadap bahaya narkoba. Sebagai hamba Tuhan ia sudah berkomitmen untuk terus memerangi bahaya narkoba. Karenanya, katanya, gereja-gereja harus sadar akan bahaya ini.

Gereja-gereja, katanya, tak cukup hanya berseminar tentang bahasa roh, alam roh dan doa yang berkuasa, tapi kita juga harus melakukan aksi yang konkret dengan melakukan aksi untuk meminimalisir bahaya narkoba, HIV/AIDS dan seks bebas. “Jadi pelayanan kita harus membumi, jangan hanya melihat ke surga saja. Banyak gereja-gereja, apalagi yang punya jemaat 150 orang ke atas berada dalam comport zone, seolah-olah hanya memikirkan surga, dan tidak mau tahu lagi dengan kondisi di lingkungan sekitarnya,” ucapnya.

                Berbicara tentang obsesi dalam pelayanannya, Pdt. Jefri menuturkan, ia punya mimpi untuk terus memberantas narkoba di negeri ini. “Pada 2015, kami punya visi agar Indonesia BERSINAR atau bersih narkoba. Artinya, makin banyak orang yang tahu tentang bahaya narkoba, akan semakin baik. Saya bersukacita bisa melayani seperti ini, karena saya bisa jadi alat Tuhan untuk melayani di tengah bangsa ini. Meskipun kita kecil, tapi bisa memberi pencerahan dan penyadaran akan bahaya narkoba di negeri ini,” paparnya.               

Bagi yang ingin mengenal lebih jauh GMDM yang dipimpin Pdt. Jefri Tambayong bisa dikontak ke Sekretariat: Jalan Malaka Merah III Blok D No. 22, Komplek Ruko Malaka Country Estate, Jakarta Timur 13460, Telp. (021) 86615552, Faks. (021) 86615488, Website: www.gmdm4nation.org, Email: dpp@gmdm4nation.org, Face Book: gerakan mencegah daripada mengobati. Menurut Pdt. Jefri Tambayong, mereka terbuka kepada semua orang, termasuk pada warga gereja. “Kalau ada yang mau mendengar presentasi dari GMDM, mau tes urine atau tes darah untuk mencek akan bahaya narkoba dan HIV/AIDS, kami siap,” katanya. GMDM pun kini sudah punya panti rehabilitasi untuk menangani korban narkoba di Jakarta dan Bandung.  

Berita Terkait