Gereja dan Bonus Demografi

• Oleh: Antonius Natan, D.Th. 638 dibaca
• Penulis adalah Waket I STT Rahmat Emmanuel dan Sekretaris Umum PGLII Wilayah DKI Jakarta.

Beritanarwastu.com. Saat ini Indonesia telah memasuki fenomena bonus demografi. Sumber dari BKKBN fenomena Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk usia produktif secara signifikan selama rentang waktu 2020-2035, yang mencapai puncaknya pada 2030. Pada saat itu jumlah kelompok usia produktif umur 15-64 tahun, jauh melebihi kelompok usia tidak produktif, yang dimaksud usia tidak produktif, yaitu anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tua berusia 65 ke atas. Jadi, kelompok usia muda kian sedikit, begitu pula dengan kelompok usia tua. Bonus demografi ini tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu rasio antara kelompok usia yang tidak produktif dan yang produktif.

Pada 2030 angka rasio ketergantungan Indonesia akan mencapai angka terendah, yaitu 44%. Artinya, pada tahun tersebut rasio kelompok usia produktif dengan yang tidak produktif mencapai lebih dari dua kali (100/44). Maka selama terjadi bonus demografi tersebut komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang bakal menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di saat usia produktif manusia perlu bekerja, bonus demografi itu dapat dimanfaatkan dengan baik. Namun, bila tidak bekerja, maka bonus demografi itu tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan ancaman sosial. Oleh sebab itu, perlu diambil langkah-langkah strategis untuk antisipasi seperti menjaga lapangan pekerjaan tetap tersedia, baik sektor formal maupun informal. Kreatifitas dan inovasi baru dalam era industri 4.0 adalah memperbanyak wirausaha mikro, pemerintah dan swasta secara simultan memberdayakan potensi yang ada serta menyesuaikan sistem pendidikan kejuruan dan politeknik agar melahirkan tenaga kerja yang siap pakai.

Peranan Gereja Menghadapi Bonus Demografi

Pemerintah melakukan berbagai upaya dan terobosan dalam menyambut bonus demografi, gereja juga perlu turut serta dan tentunya tidak sekadar menghadapi dari sisi ekonomi dan ketenagakerjaan, melainkan mempersiapkan perubahan mendasar dari komposisi anggota jemaat. Gereja yang akan bertumbuh dan berkembang adalah gereja dengan komposisi usia jemaat yang paling besar adalah usia remaja muda. Jika saat ini usia mereka rata-rata 15 tahun, maka untuk 10 tahun atau 15 tahun ke depan di saat usia mereka 25 tahun-30 tahun adalah saat puncak bonus demografi. Usia produktif yang sedang menikmati kerja dan uang, waktunya berkarya bagi gereja dan negara.

Saat itu jemaat muda tersebut adalah pemimpin pada masanya, menjadi manusia hebat, seperti Nadiem Makarim founder/CEO dari Go-Jek atau William Tanuwijaya founder/CEO Tokopedia. Maka generasi ini harus dipersiapkan sejak awal di sekolah minggu (Golden age) agar menjadi generasi yang takut akan Tuhan.  Tony Wagner (2008) mengidentifikasi ada tujuh skills yang menjadi penentu kesuksesan anak pada abad 21. Tujuh skills tersebut adalah: (1) Critical Thinking & Problem Solving, (2) Collaboration Across Networks & Leading by Influence, (3) Agility & Adaptability, (4) Initiative & Entrepreneurialism, (5) Effective Oral & Written Communication, (6) Accessing& Analyzing Information, (7) Curiosity &

Imagination. Tentu saja kurikulum dan silabus di sekolah maupun pendidikan tinggi belum menjawab akan kebutuhan keterampilan ini.

Gereja bertanggung jawab memenuhi kebutuhan akan keterampilan hidup, sehingga memunculkan generasi pencipta, bonus demografi harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi maslahat orang banyak, gereja harus membekali anak-anak muda dan menempa kehidupan pribadi menjadi sosok generasi yang menjawab tantangan zaman. Saat ini adalah waktu untuk menentukan gereja akan bertumbuh, berkembang serta berbuah lebat dengan mengajarkan kepada anak-anak muda gereja untuk berintegritas, berpikir kritis, inovatif, rasa ingin tahu yang besar dan tidak berkompetisi melainkan berkolaborasi.

Anak Sekolah Minggu sejak Batita, Balita di gereja dilatih berpikir, berkehendak secara tulus dan jujur yang merupakan modal awal kehidupan dan disebut sebagai manusia berintegritas  Anak usia dini di gereja dilatih untuk berpikir kritis terhadap situasi lingkungan, kondisi yang dinamis dan menekan serta mampu mencari solusi yang baru untuk menyelesaikannya.  Generasi golden age dilatih untuk kreatif dan inovatif, sebagai orang yang mengubah dunia menjadi lebih baik, generasi yang menciptakan masa yang baru.

Generasi Alpha diberi kesempatan untuk berimajinasi dan mengeksplore ide ide baru yang Out of the box, rasa ingin tahu membangunkan anak mengejar mimpinya.  Orang muda di gereja dilatih untuk bekerjasama, tidak sekadar berkompetisi, mempelajari keragaman, saling menghormati dan menghargai sesama.

Gereja adalah rumah pembaharuan bagi anak-anak mulai dari balita, remaja dan pemuda, gereja harus menangkap visi pembaharuan, gereja harus sanggup mentransformasi diri menjadi agen kehidupan, tantangan dunia sosial media dengan berbagai perubahan menjadikan gereja pusat kegiatan strategis menyongsong era industry 4.0 dan perubahan perubahan drastis lainnya secara global dan mendunia.

Perlu diingat bahwa di tangan kaum milenial dunia berubah, dari tangan Mark Zuckerberg yang saat ini berusia 32 tahun, Face Book lahir dan menjelma menjadi raksasa sosial media yang berpengaruh. Gereja perlu menyadari karena perubahan merupakan hak dan otoritas yang dititipkan Tuhan Sang Pencipta.

Berita Terkait