Pdt. DR. Nus Reimas
Gereja Harus Tegas Menolak Pernikahan Sejenis

585 dibaca
Pdt. DR. Nus Reimas.

Pernikahan itu gagasan Allah, bukan gagasan manusia. Allah melihat bahwa Adam perlu seorang penolong, maka diambil tulang rusuk Adam, lalu diciptakan seorang perempuan, yaitu Hawa. Allah kemudian memberkati mereka, sehingga beranakcucu. Jadi pernikahan pria dan perempuan diberkati Tuhan (Allah). Sesudah manusia jatuh ke dalam dosa, baru kemudian terjadi penyimpangan-penyimpangan seksual atau dosa. Orang mulai muncul dengan hasratnya, dan manusia tidak lagi memiliki hubungan yang sehat. Ada pria mencari pria dan perempuan mencari perempuan. Itu menodai pernikahan rancangan Allah.
Itulah yang disampaikan Pdt. DR. Nus Reimas kepada NARWASTU, terkait dengan maraknya saat ini isu pernikahan sejenis, terutama di negara Barat. “Pernikahan atau keluarga itu merupakan lembaga pertama yang Allah ciptakan, bukan pemerintah lembaga pertama yang diciptakan. Tuhan Yesus pun pertama kali menyatakan mukjizat air menjadi anggur di acara pernikahan di Kana. Lalu sampai akhir dunia, di Kitab Wahyu 19:6-10 ada digambarkan pernikahan Kristus sebagai Kepala Gereja dengan jemaat, yang mau dikatakan bahwa pernikahan jadi benang merah di dalam kehidupan dari rancangan Allah,” ujar Ketua Majelis Pertimbangan PGLII dan Ketua Dewan Pembina LPMI ini.
Jadi, imbuhnya, pernikahan itu harus dijaga, dipelihara dan dilindungi, karena dari situlah masyarakat rusak kalau tidak dijaga. Kalau pernikahan rusak, maka akan muncul dosa. Di Kitab Roma 1:18-22, ada ditulis tentang hukuman Allah atas kefasikan. Di situ ditulis mengenai pikiran manusia yang gelap, jadi bodoh, mereka saling mencemarkan tubuh, mereka melupakan Pencipta yang seharusnya dipuji, dan mereka melakukan dosa antara laki-laki dan laki-laki.  “Paulus menulis itu secara gamblang. Pikiran mereka terkutuk oleh kejahatan sebagai akibat dari dosa,” paparnya.
Di dunia Barat, tukasnya, ada orang yang menempatkan HAM sebagai yang tertinggi, padahal HAM harus berada di dalam terang Firman Tuhan dan dalam kontrol Tuhan. “HAM jangan dikendalikan iblis. Di negara maju seperti Amerika Serikat, pernikahan sejenis dilegalklan, padahal itu bertentangan dengan Firman Tuhan. Firman Allah adalah kebenaran mutlak di atas semua perundang-undangan yang dibuat manusia. Undang-undang harus tunduk kepada Firman Tuhan atau perintah Allah. Di Amerika, itu dipisahkan urusan agama dan urusan pemerintah. Mestinya pemerintah harus takut akan Tuhan,” ujarnya.
Dalam perkembangan dunia modern, katanya, Pemerintah Amerika ikut melegalisir perbuatan yang di mata Tuhan jahat. Juga di Jerman ada upaya untuk melegalkan pernikahan incest (sedarah), antara adik dan kakak. “Dunia saat ini makin tidak karuan. Seharusnya gereja buka mata untuk melihat kembali panggilan dan tugasnya di tengah-tengah dunia. Ini berarti bahwa gereja perlu lebih giat di dalam membina iman jemaatnya agar memahami kebenaran Firman Tuhan. Warga gereja perlu benar-benar untuk memahami betapa pentingnya menyerahkan hidup kepada Kristus, dan hidup harus mau dibimbing Roh Kudus,” cetusnya.
“Kalau dia mau dituntun Roh Kudus, maka dia tak akan terjebak. Di Kitab Galatia 5:16-26 ada ditulis tentang keinginan daging dan keinginan Roh. Orang yang hidup di dalam percabulan, hawa nafsu, roh pemecah belah dan kedengkian, ia tidak akan dapat bagian di dalam Kerajaan Allah. Kita harus mau dipimpin Roh Kudus. Kalau kita dipimpin Roh Kudus, maka kita akan dituntun. Kalau kita memuliakan Tuhan, maka kita akan diberkatiNya. Yang terjadi hari-hari ini, yang menonjol keinginan daging. Semua manusia merasa punya hak, termasuk keinginan seksual yang bertentangan dengan kodratnya dan tak sesuai dengan Firman Tuhan,” pungkasnya.
Peristiwa air bah dan peristiwa Sodom dan Gomora, itu terjadi karena dosa-dosa manusia, dan Tuhan menghukum. “Jadi yang terjadi di Amerika yang mengedepankan individualisme, harus membuat kita hati-hati. Gereja-gereja di Indonesia harus membentengi diri bahwa dalam masyarakat kita ada gay dan lesbian, namun bukan berarti gereja mentolerir keinginannya. Gereja dari aliran manapun harus tegas menolak pernikahan sejenis, dan gereja tak boleh kompromi. Namun pada saat yang sama gereja harus memberikan pelayanan maksimal,” cetusnya.
Gereja harus menyerahkan keinginan atau pergumulan mereka kepada Tuhan yang sanggup menolong. “Orang-orang yang punya pengaruh bisa saja mengubah undang-undang, dan itu tidak lepas dari kepentingan politik. Gereja itu representasi dari Allah, jadi jangan kompromi pada politisi atau orang-orang berpengaruh, tapi kita harus takut atau gentar kepada Tuhan. Gereja-gereja di Indonesia harus menyampaikan kebenaran. Di Alkitab tak ada satupun ayat yang membenarkan pernikahan sejenis. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa adalah pelajaran mahal untuk manusia, sehingga Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Kita harus tempatkan Tuhan di atas segalanya agar kita diberkatiNya,” tegasnya.                KT

Berita Terkait