Pdt. Soehandoko Wirhaspati, M.A.
Giat dalam Kesatuan Umat Kristiani

617 dibaca
Pdt. Soehandoko Wirhaspati, M.A.

Beritanarwastu.com. Kerukunan umat beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, bagi sebagian kalangan, tak lagi kondusif. Pasalnya, tak sedikit gereja dibakar dan ada warga gereja dianiaya oleh kelompok intoleran. Tercatat sudah lebih dari 1.000 gereja yang mengalami perusakan dan ditutup paksa. Di mata mantan Ketua Umum BPS Gereja Bethel Indonesia (GBI), Pdt. Soehandoko Wirhaspati, M.A., dalam tatanan kerukunan umat beragama ia membagi dalam dua.

Pertama, kerukunan umat Kristiani sendiri. Kedua, kerukunan antarumat beragama. Untuk kerukunan antarumat Kristiani, Pdt. Soehandoko melihat kesatuan umat Kristiani dari berbagai aras gereja sudah terasa sejuk.

Ini bisa dilihat dari mulai adanya pengertian para pemimpin gereja antara satu dengan lainnya, sehingga perbedaan yang dahulu mencolok, sekarang pelan-pelan ditinggalkan. Dan telah dibuktikan juga melalui berbagai gerakan yang dilakukan secara bersama-sama. Kerinduan Pdt. Soehandoko, supaya persatuan tubuh Kristus dapat diwujudkan bukan sebatas performance, tapi harus mendarat di setiap hati orang percaya.

              Memang perbedaan di antara gereja masih sering muncul, akan tetapi harus jadi catatan semua pemimpin, bahwa gereja awalnya terlahir dari sejarah yang mengkondisikan dari berbagai sinode itu berbeda, hal ini serta merta memisahkan. Kekristenan yang masuk pada zaman Belanda  membawa nilai-nilai kekristenan dalam bentuk berbeda-beda. Termasuk nilai-nilai perbedaan rasisme yang sudah melekat sejak dulu, dan telah menodai kehidupan keberagamaan di negara kita. Padahal Yesus mengatakan, kalau umatNya adalah anggota tubuh Kristus, sehingga tak ada di antara kita yang besar atau kecil, semua sama penting karena Kristus adalah Kepala Gereja.

Berbicara mengenai kerukunan antarumat beragama di negeri ini, katanya, harus berlandaskan UUD 1945 yang  mewajibkan semua warga negara Indonesia untuk hidup rukun dan damai di dalam kebersamaan, termasuk dalam menjalankan kegiatan keagamaannya wajib mencerminkan kebersamaan, bukan perpecahan. Hal lain yang perlu disadari oleh kita semua, imbuhnya, adalah fakta bahwa Indonesia sebuah negara yang dianggap miniatur dunia, bukan hanya melimpah akan kekayaan alam, tapi kaya akan etnis dan budaya yang luar biasa.

“Bahkan, tak ada negara di dunia ini yang menyamai kekayaan Indonesia,” paparnya. Lalu kenapa agama tak bisa menjadi suatu alat yang dapat mengembangkan semua kekayaan ini secara maksimal, serta melihat berbagai perbedaan sebagai suatu kekuatan yang membangun, baik secara spiritual maupun secara jasmani. Kalau saja semua pemimpin agama mau duduk bersama untuk memikirkan pembangunan negara ini, kata Pdt. Soehandoko, pasti mereka pun akan memikirkan untuk memberikan kesejukan serta berbagai arahan yang berguna untuk persatuan antarumat beragama di masa mendatang.

Karena pada dasarnya semua kita bersaudara, karena tinggal dalam satu rumah, yaitu Indonesia.  Pemahaman bersaudara dalam satu rumah ini harus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Sebab kalau tidak, maka generasi muda akan terhilang karena mereka tidak memiliki pijakan. Besar harapan Gembala Sidang GBI Karang Anyar ini supaya para tokoh muda nanti betul-betul murni perjuangannya bagi kesatuan bangsa.

Berbicara mengenai tugas gereja, Pdt. Soehandoko menerangkan, kita harus sadar bahwa tugas gereja juga untuk menjemaatkan jemaatnya. “Gereja harus bersatu hati dalam doa seperti yang dilakukan Elia, yang berdoa kepada Tuhan dan Dia mendengarkan doa Elia. Kita harus memiliki sikap mengasihi Indonesia. Kekosongan inilah yang harus diisi oleh kita sebagai anak-anak Allah,’’ kata tokoh gereja yang tak asing lagi di kalangan pemuka Kristen ini.

 Indonesia bisa mengalami transformasi adalah kerinduan kita sebagai orang percaya. Tapi terkadang kita lupa bahwa transformasi bisa terjadi terlebih dahulu dimulai dari keluarga. Menurut Pdt. Soehandoko, sekarang tengah digiatkan gerakan yang dimulai dari keluarga. Sebab, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) bukan hanya ada di luar orang percaya, tapi juga yang mengaku percaya kepada Kristus. Jadi kita harus kembali kepada konsep Tuhan atas jemaatnya.

 Namun, realitas saat ini banyak gereja yang kurang diminati oleh para kaum muda. Jika hal ini dibiarkan, maka tak dipungkiri akan bernasib sama dengan gereja-gereja yang ada di Eropa. Suami tercinta Dra. Lydia Gunawan, S.Th ini berpendapat, hal itu bisa terjadi karena tidak ada keteladanan dari generasi tua, yang hanya melakukan formalitas. Jika gereja tidak bertindak, maka generasi ini akan habis. Oleh karena itu, generasi ketiga gereja harus melayani generasi muda dengan serius. “Terus terang saja, di Indonesia pelayanan yang diseriusin itu di pelayanan umum, sebab mereka orang-orang berduit,” tegasnya.

Pdt. Soehandoko yang selama ini dikenal peduli pada persoalan sosial politik di negeri ini, pernah  ditanya komentarnya mengenai parpol berbasis Kristen yang tak lolos jadi peserta Pemilu 2014 lalu, ia mengatakan, selama ini ia sudah menyaksikan sejak awal lahirnya Partai Damai Sejahtera (PDS) adalah anugerah Tuhan.  “Lahirnya PDS merupakan anugerah Tuhan. Sebenarnya Tuhan sedang menguji umatNya dengan mempercayakan satu tugas, yaitu dengan menganugerahkan sebuah partai yang benar-benar mencerminkan perbedaan di antara yang lain. Seharusnya sejak awal PDS jadi partai yang bisa dipercaya dan berintegritas. Karena partai ini lain sendiri, jadi seharusnya bisa tampil beda dari partai lain, namun kenyataannya kita jadi terbawa arus mengikuti partai-partai lain,” terangnya.

 

Berita Terkait