Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th
Giat Mewartakan Injil Bagi Para Narapidana

622 dibaca
Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th

 Beritanarwastu.com Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kekagumannya terhadap megahnya toga pendeta rupanya menjadi awal jatuh cinta Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th terhadap dunia pelayanan. Baginya, kegiatan mulia yang mengedepankan kasih untuk membawa jiwa kepada Tuhan itu adalah panggilannya. Ibu dari Kevin dan Samuel ini memilih penjara sebagai salah satu tempat pelayanannya untuk menaburkan Firman Tuhan agar hidup para penghuni hotel prodeo itu di masa depannya diselamatkan.

 Pada awalnya Pdt. Lusiana ingin menjadi polwan mengikuti jejak sang ayah yang berprofesi tentara. Cita-cita tersebut berubah total setelah ia kemudian terpanggil menjadi Hamba Tuhan atau pendeta. Keinginannya itu memang telah tumbuh sejak remaja. Setamat dari SMA, wanita berparas cantik ini memilih Universitas Artha Wacana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan mengambil jurusan Teologia. Dan ia sempat mengalami suka duka saat melayani sebagai guru sekolah minggu.

 Kerinduannya melayani terus berkembang dengan aktif sebagai guru agama dengan melayani ke berbagai daerah, seperti Manado dan Balikpapan. Pelayanan itu berlanjut meskipun ia telah menjadi pendamping hidup Ir. Mangiring Harianja, MBA. Dan pelayanannya kini telah berusia 26 tahun. Setelah malang melintang di pelayanan GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), lalu ia membantu pelayanan umum di GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) Paulus, Jakarta. Pelayanannya pun merambah ke dalam penjara dan keluarga yang belum tersentuh oleh kabar baikNya. “Kasih Yesus berawal dari keluarga, dan saya tak mau berhutang pelayanan,” tegas Ibu Pendeta yang khotbahnya dikenal bernas ini.

Pdt. Lusiana rindu agar semua orang diselamatkan lewat pelayanan Injil. Pelayanannya pun sampai ke gedung KPK, dan ia melayani orang-orang Kristen yang tersandung kasus hukum di sana. Menurutnya, kabar baik itu harus diberitakan, dan mereka adalah sasaran dari Injil. “Yesus katakan, Aku datang untuk orang berdosa. Dan Injil harus disampaikan walaupun secara jasmani kebebasan mereka diambil oleh kesalahannya. Dan Tuhan mengasihi mereka yang mau bertobat, dan Dia melayakkan kita,” cetusnya.

  Pelayanannya selama ini berbuah manis. Seperti kesaksian dari salah satu narapidana kasus narkoba yang akhirnya bertobat. Hal itu terjadi saat si narapidana ingin melarikan diri dan hendak melompat dari tembok, namun polisi berhasil menembaknya. Uniknya, peluru yang ditembakkan polisi itu kosong, dan si narapidana bertobat karena merasa hidupnya telah diselamatkan Tuhan dari desingan peluru itu. “Dan narapidana itu kini melayani sebagai organis,” ujar Pdt. Lusiana.

“Pertumbuhan rohani jemaat Tuhan itu tidaklah sama. Jika rajin bersaat teduh, maka akan bertumbuh. Tapi sebaliknya jika tak pernah bersaat teduh, maka rohaninya akan kering, dan pertumbuhannya tersendat-sendat,” kata pendeta yang giat melayani di LP Cipinang, Kriminal Umum, Lapas Narkotika dan Rutan Salemba, Jakarta, itu. Pelayanan Pdt. Lusiana tentu tak akan berhasil kalau tak ada campur tangan Tuhan. Selain itu, juga karena dukungan suami dan kedua putra tercintanya. “Suami saya sangat menopang dengan memberi fasilitas guna menunjang pelayanan saya. Dia juga sangat memotivasi saya,” papar Ibu Pendeta yang cerdas, dan kerap melayani di Keluarga Besar Pomparan Ompu Raja Galung Harianja dan Boru se-Jabodetabek itu.

          Pasangan suami istri ini amat percaya bahwa pondasi rumah tangga mereka dibangun oleh Yesus Kristus. Mereka juga berpedoman pada 1 Korintus 13, bahwa kasih menutupi banyak dosa dan kesalahan. Bagi mereka,  setiap masalah yang ada harus segera dibereskan sebelum matahari terbenam. Menurutnya, kekompakan, saling menghargai dan saling pengertian, menjadi kunci kehidupan mereka sebagai suami istri. Pengurus Kerohanian di Keluarga Besar Punguan Parsahutaon Satahi Saoloan Harapan Indah, Kota Bekasi ini juga giat melayani sebagai pembawa Firman Tuhan di Yayasan ALIKA, yang pengurusnya dari GPIB Paulus, Jakarta, dan peduli melayani para narapidana.

Kesaksian hidup dari buah pelayanannya sebetulnya terdapat pada kehidupan  dalam keluarganya. Dan hal ini bukan hanya menjadi teladan bagi orang lain, melainkan teladan bagi kedua anaknya. Karena itu, sebagai orangtua, ia amat sadar bahwa kehidupannya itu akan menjadi role model bagi kedua putranya, bahwa harus saling mengasihi dan menghargai, serta takut akan Tuhan.

Menurutnya, semua yang dijalankannya termasuk pelayanan, adalah anugerahNya yang tiada tara. Dengan visi dan misi, yakni payung besarnya adalah kasih karunia, sehingga Dia melayakkan. “Kalau aku hidup, hidup untuk Tuhan dan kalau aku mati, aku mati untuk Tuhan. Maka apapun pelayanannya akan saya kerjakan dengan sebaik-baiknya. Termasuk salah satu keinginan saya adalah bisa melayani di daerah terpencil agar banyak orang diselamatkan dan nama Tuhan dimuliakan,” katanya.  

Pdt. Lusiana menuturkan, pelayanan terhadap narapidana adalah tanggung jawab gereja sebagai lembaga dan tugas anggota warga gereja. “Gereja sebagai lembaga harus mewartakan Injil, tapi gereja harus bertumbuh di dalam keluarga. Jika ada salah satu warganya yang masuk penjara ibaratnya ada satu rantai yang putus, entah gereja sebagai lembaga, jemaat atau sebagai individu atau jemaat,” paparnya.

         Dalam sebuah pelayanan PA (Pendalaman Alkitab) di komunitas etnis Batak, yakni di Punguan Parsahutaon Satahi Saoloan, yang berlangsung akrab dan familiar, Pdt. Lusiana pernah mengatakan, filosofi sebagian orang Batak Toba, yakni mencari 3 H di dalam kehidupan sehar-hari: hamoraon (kekayaan), hagabeon (punya keturunan) dan hasangapan (kehormatan), itu sah-saha saja. Namun, ia menegaskan, dikaitkan dengan kebenaran Firman Tuhan, dalam hidup ini tujuan kita yang terutama adalah melayani sesama dan memuliakan Tuhan. Sehingga kita harus mau hidup di dalam kuasa dan tuntunan Roh Kudus.

Berita Terkait