Hati Selembut Daun

• Oleh: Togap Balduin Silalahi, S.H. 610 dibaca


  BERITANARWASTU.COM. Adakah yang dapat melebihi kebahagiaan seorang suami yang memiliki seorang istri serta anak yang mempunyai seorang Ibu yang lemah lembut, seperti yang dideskripsikan Firman Tuhan ini? Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan; yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah” (1 Petrus 3:4-5). Itulah yang kualami dan dialami oleh anak-anakku. Kami bahagia karena mendapat karuniaNya seorang istri dan seorang Ibu bernama Laura Muliana Siagian yang mengasihi Tuhan dan keluarganya melebihi apa yang pantas dilakukannya.

             Lebih berbahagia lagi, Ibu dari ketiga anakku dan ompung dari keempat cucu yang akan berulang tahun ke-63. Selamat ulang tahun, mutiara hatiku. Lahir di Garut, 16 Desember 1952, anak pertama dari keluarga Bapak Letkol. TNI AD Sori Muda Siagian dengan almarhumah Ibu Naerta Lumban Tobing. Puji Tuhan. Kulantunkan kidung dan kudaraskan madah surgawi atas kebahagiaan ini. Walaupun besar di Jawa Barat, mengerti arti falsafah Batak, parbahulbahul nabolon (berusaha siap mengatasi masalah) dan dilaksanakan dengan segala keterbatasan serta kekurangannya.

              Di hari yang sangat istimewa, izinkan kami menyuarakan hati yang terdalam, tentang sosok soko guru dari rumah tangga yang menopang dan menjadi kekuatan iman dan rohani kami sekeluarga.

Nama “Laura”, berasal dari kata Latin yang berarti “wanita yang mempunyai hati selembut daun”; atau dari bahasa Yunani “Isaura” yang bermakna “wanita yang perilakunya selembut awan”; dan bahasa Skotlandia “Malvina” yang menggambarkan “wanita yang sikapnya selembut salju”; serta bahasa Italia “Delana” yang melukiskan “wanita yang pesonanya selembut dan sehangat wol.

            Tidak terlalu berlebihan kiranya bila aku katakan istriku memang seperti yang dimaknakan sesuai dengan arti kata itu sendiri. Baik sebagai Ibu rumah tangga yang melahirkan, mengasuh dan membesarkan anak-anakku, maupun sebagai pendamping yang sepadan bagi diriku, yang membimbing dan menopang kerohanian dan imanku kepada Yang Maha Kuasa.

             Teringat dulu, ketika anak-anak masih baru lahir, Todo Batara kemudian Letare Magdalena, lalu Ishak Tongam. Setiap malam, ketika sejauh raga merasa, malam telah larut. Semua sudah terlelap tak sadarkan diri ketika bulan dan bintang saling berbincang dalam segmen cerita yang tersaji di panggung langit angkasa. Hening yang memborgol seluruh suasana, tiba-tiba terdengar suara tangis bayi memecah keheningan, lalu Ibu dengan lembut menghampirinya, mulai menjalarkan kasih sayangnya lewat lentik jarinya walaupun mata sedang tertimpa beban rasa kantuk yang sangat berat.

          “Ucok haus ya? Butet haus ya” Kata Ibu lembut kepada anaknya. sambil menyodorkan ASI yang terformulasi air kasih sayang. IBU MEMBERIKAN SUSU ASI KEPADA BUAH HATINYA DENGAN PENUH RASA SAYANG YANG MENDALAM. Kemudian, sambil memberikan ASI, DIA MEMBELAI DAN MENGUSAP UBUN-UBUN ANAKNYA,  menidurkan kembali anaknya dengan lemah lembutnya. Anaknya berhasil tidur. Ibu berusaha untuk tidur kembali, namun, sekuat apapun mata seorang ibu mencoba menutup kelopaknya, ia tak pernah bisa memutuskan untuk tertutup. IA TAKKAN PERNAH RELA KENIKMATAN TIDUR ANAKNYA TERUSIK OLEH SESUATU APAPUN HINGGA FAJAR TIBA.

             Mencoba mengenang itu semua,  takkan habis deskripsi narasi yang memuat kemuliaan tentang pengorbanan Ibu. Pengorbanan akan menjaga kandungan buah hatimu selama berbulan-bulan, pengorbanan akan nyawa ketika melahirkan anaknya, pengorbanan akan kebutuhan ASI bagi anak-anaknya, dan terlebih pengorbanan akan menjaga anak-anaknya dari segala sesuatu yang buruk melebihi penjagaan terhadap dirinya sendiri.

Ibu, bagi anakmu takkan lepas dari ingatannya tentang sentuhan lembut “Laura” hatimu dalam setiap detik perjalanan usia anakmu. Ketika kecil, kau dekap erat-erat dalam kehangatan “Delana.Terlebih ketika malam tiba, kau lindungi mereka dalam “Isaura” dari kegelapan dan kedinginan  ketika siang kau menjaga dalam “Malvina” dari apa-apa yang mungkin terjadi yang  tak diinginkan.

              “JANGAN TAKUT ANAK-ANAKKU, ADA IBU DI SINI. Tetaplah dalam damai sejahtera. Karena Allah Tuhan seluruh alam,  Ia menjaga dan melindungi kita dari hal apapun. Ketika besar sampai anak berkeluarga, dengan segala masalah kehidupan yang membelit yang mungkin membuat stres, Ibu selalu siap mendengarkan segala keluh kesahnya. Begitulah, dengan deskripsi narasi yang tak mampu lagi terurai. bukan karena tak tahu, tapi karena terlalu indah.

             Dan lebih dari itu semua, tentu bukan suatu kebetulan, apabila hari kelahiran pada tanggal 16 Desember ini merupakan minggu-minggu Epifani, menyambut kelahiran Sang Juruselamat.  Dari sisi rohaniah, aku mengibaratkan Ibu seperti halnya Ibu Hanna seperti yang dinarasikan Injil dalam Lukas 2:22-40. Hanna, dalam bahasa Yunani artinya “karunia”. Ibu adalah karunia bagi kami, yang selalu menghantar kami sekeluarga untuk selalu dekat dengan Tuhan, seperti yang dilakukan oleh Hanna.

  Ibu selalu menginspirasikan kami semua untuk selalu mengucap syukur kepadaNya dan mewartakan kebesaran kasihNya.

Untuk itu, ketika kami, anak, dan menantu Anthony Nainggolan, Mutiara Butarbutar, Audy Grace van Munster, dengan keenam  cucu, Alena Nainggolan, Diaz Nainggolan, Canna Silalahi, Aurora Silalahi, Kenzo Nainggolan dan Leon Silalahi, merayakan, mensyukuri rahmat Tuhan yang tercurah atas diri Ibu yang berulang tahun. Mari kita jadikan hari yang suci dan penuh rahmat ini sebagai pendorong agar kita semua dapat memulai hidup sebagai manusia yang benar-benar baru. Jangan biarkan diri selalu dan terus berada di persimpangan. Kita harus berani memutuskan untuk sepenuhnya kembali menjadi putera-puteri Allah yang benar dan layak serta berguna/bermanfaat di hadapanNya, bagi keluarga, bagi masyarakat di sekitar kita;  sehingga sisa hidup ini sungguh merupakan persembahan demi kemuliaan NamaNya. 

 Ibu, kami sembahkan cinta dan kasih setulus kalbu WALAUPUN ITU TIDAK AKAN BISA MEMBANDINGI CINTA KASIHMU, namun percayalah, kami akan selalu memelihara cinta kasih ini, untuk mendapat restumu, kami akan berikan yang terbaik, kami menyayangimu.

·         *  Penulis adalah pensiunan Jaksa Utama Golongan IVE Kejagung RI, mantan Inspektur Polisi Golongan IIIB Polda Metro. Juga mantan Asisten Golongan IIIA FH & IPK UI, Penatua GMIT (1988) di Larantuka, Flores Timur dan anggota Jemaat Gereja HKBP Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

 

  

   

Berita Terkait