Ibadah untuk Kesatuan Umat Kristiani Menghadapi Pilkada Serentak dan Pemilu

878 dibaca
Pimpinan gereja aras di Indonesia yang tergabung di Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) mengadakan jumpa pers di Jakarta.

           BERITANARWASTU.COM. Pimpinan aras gereja di Indonesia yang tergabung di Forum Umat Kristiani Indonesia  (FUKRI), seperti Konferensi Wali Gereja (KWI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Di Indonesia (PGLII), Gereja Baptis Indonesia (GBI), Gereja Orthodoks Indonesia (GOI), Bala Keselamatan dan Advent serta Jaringan Doa Nasional (JDN), pada Kamis, 18 Januari 2017 di Gedung Bala Keselamatan, Jalan Kramat Raya, Jakarta, menggelar Ibadah Bersama untuk Kesatuan Umat Kristiani dan mendeklarasikan kebersamaan “Seruan Satu Hati Bagi Bangsa” untuk berdoa buat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 dan Pemilu serta Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Indonesia.

                Sebelum menggelar ibadah dan doa bersama serta penandatanganan  Deklarasi “Seruan Doa Satu Hati Bagi Bangsa” untuk Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu serta Pilpres 2019, terlebih dahulu para pemimpin lembaga aras yang tergabung di FUKRI menggelar jumpa pers. Tampak hadir dalam jumpa pers para petinggi dari lembaga gereja aras yang tergabung di FUKRI, di antaranya, Pdt. Dr. Henriette Tabita Hutabarat-Lebang (Ketua Umum PGI), Pdt. Nus Reimas (Ketua Majelis Pertimbangan PGLII), Romo Guido Suprapto, Pr. (Sekretaris Komisi Kerawan KWI), Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Sekum PGI), Jerry Sumampouw (Kepala Humas PGI), Irma Riana Simanjuntak (Direktur YAKOMA PGI), Pdt. DR. W.H. Rajagukguk, M.Th, (Ketua PGPI), Pdt. Dance Wulur, M.A., (Sekum PGPI), Pdt. Freddy Soenyoto (Sekum PGLII), Pdt. Jhoni Mardi Santoso (Ketua Umum Persekutuan Baptis Indonesia), Romo Daniel Byantoro (Ketua Umum Gereja Orthodoks Indonesia), Bala Keselamatan DR. Made S. Petrus, M.Min (Letnan Kolonel), dan Pdm. Charles Jonan (Fasilitator Umum Jaringan Doa Nasional). Sedangkan, Pdt. Wendell Mandolang (Ketua Umum Gereja Adven Masehi Hari Ketujuh) tak hadir.

                Kepada wartawan, Romo Guido Suprapto, Pr., membacakan press release yang menyatakan umat Kristiani Indonesia mendukung Pilkada Serentak  2018 dan Pemilu 2019 sebagai upaya mewujudkan demokrasi dan menjaga eksistensi bangsa Indonesia. Ada empat poin yang dibacakan. Pertama, arti penting Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu serta  Pilpres 2019. Pemilu merupakan sarana yang sah menurut undang-undang untuk memilih calon pemimpin bangsa dan pejabat publik dan semua warga masyarakat harus ikut berperan dan bertanggungjawab. Proses pemilu harus berjalan dengan baik, yakni, (1) Terbukanya peluang bagi setiap warga negara untuk menyatakan hak memilih dan dipilih dalam konstestasi jabatan publik. (2) Tersedianya fasilitas yang memadai dan sama bagi berlangsungnya hubungan pengenalan secara timbal balik antara kontestan dan pemilih. (3) Terjaminnya proses penentuan pilihan oleh pemilih terhadap kontestan secara langsung, umum, bebas, rahasia serta jujur dan adil.

                Hal terpenting yang harus menjadi perhatian bersama adalah menghindari penggunaan isu/sentimen agama sebagai cara dan sarana memperoleh suara atau dukungan.  Kedua, ikut menjaga Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu serta Pilpres 2019. Gereja bersama semua warga negara merasa terpanggil untuk terselenggaranya pemilu dengan baik dan bermartabat. Sebagaimana bunyi firman Allah, “Usahakanlah kesejahteraan untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7). 

                Poin kedua ini dibagi dalam 2 poin penting. (1) Peran pemimpin lembaga gereja atau pemuka jemaat hendaknya mendorong jemaatnya untuk menggunakan haknya dengan berpartisipasi dalam pilkada dan memberi contoh agar keterlibatannya cerdas, bertanggungjawab berdasarkan suara hati. Pimpinan lembaga gereja harus memastikan untuk tidak membawa lembaga gereja ke dalam politik praktis. (2) Umat Kristiani yang telah memenuhi syarat harus ikut terlibat menentukan dan memilih siapa yang akan menjadi pemimpin di daerahnya melalui mekanisme yang telah ditentukan oleh peraturan dan undang-undang yang berlaku.

                Ketiga, kriteria pilihan. Para calon pimpinan daerah yang akan dipilih harus dipastikan seseorang yang menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai dan antikekerasan.  Keempat, berdoa untuk Pilkada Serentak dan Pemilu 2019. Sebagai umat Kristiani, diajak mengiringi proses Pilkada dan pemilu dengan doa memohon berkat dari Tuhan, agar berlangsung dengan damai, berkualitas serta bermartabat. Sehingga menghasilkan para pemimpin yang benar-benar memperhatikan rakyat dan setia berjuang demi terwujudnya cita-cita bangsa dan negara tercinta. SBN

Berita Terkait