Kapolri Baru

Jonro I. Munthe 437 dibaca


beritanarwastu.com-Ketika Presiden RI Joko Widodo baru-baru ini menyampaikan ke publik bahwa calon Kapolri yang diinginkannya untuk menggantikan Jenderal Pol. Badrodin Haiti adalah Komjen Pol. Tito Karnavian, yang mantan Kapolda Metro Jaya dan terakhir menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulungan Terorisme (BNPT), publik memberikan respons positif. Soalnya jenderal berdarah Palembang 51 tahun lalu ini memang tergolong perwira polisi yang langka. Ia punya prestasi yang mengagumkan. Secara akademis ia pernah kuliah di Inggris, Selandia Baru dan Singapura. Bahkan ia penerima Adhi Makayasa atau lulusan terbaik Akpol pada 1987.
Pada 2011 lalu penerima Bintang Seroja itu juga tercatat sebagai peserta terbaik di LEMHANNAS dan mendapat gelar doktor dari Nanyang Technological University, Singapura, dengan predikat magma cum laude (2013). Tak hanya berprestasi secara akademis, ia tercatat berhasil menangkap putra mantan Presiden RI Soeharto, Hutomo Mandala Putra dalam kasus pembunuhan Hakim Agung Syaifuddin Kartasasmita (2001), dan ia turut berperan penting melumpuhkan gembong teroris Dr. Azhari (2005) dan Noordin M. Top (2009) serta ikut menumpas teroris di Poso, Sulteng (2007) dan di kasus bom Sarinah, Jakarta (2016).
Tito yang juga mantan Kapolda Papua, pernah pula dipercaya dengan jabatan bergengsi sebagai Kepala Densus 88 Antiteror Polri (2009-2010), Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran dan Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT. Dengan kemampuan yang tergolong di atas rata-rata itu, publik pun memuji pilihan Jokowi itu. Menkopolhukam, Jenderal TNI (Purn.) Luhut Panjaitan pun menilai Tito seorang perwira polri berprestasi dan profesional, sehingga amat layak jadi Kapolri.
Yang menarik lagi, saat diadakan fit and propertest oleh Komisi III DPR-RI terhadap Tito, pihak KPK, Kompolnas dan PPATK menyimpulkan Tito seorang jenderal polisi yang bersih dari kasus-kasus duit. Tidak seperti sejumlah jenderal polisi yang pernah tersandung kasus rekening gendut, lantaran punya rekening jumbo sampai ratusan miliar. Tito hanya punya harta Rp 11 miliaran. Tak heran, di koran politik nasional Rakyat Merdeka, Tito disebut-sebut “manusia setengah dewa” lantaran prestasinya, pengalaman tempurnya dan ia bersih dari kasus yang berkaitan dengan uang.
Sebagai perwira tinggi yang tergolong amat muda di Mabes Polri lalu jadi Kapolri, banyak pujian atau sanjungan terhadap Tito. Hanya saja, kita perlu juga menyampaikan bahwa tantangan Tito ke depan amat berat di dalam menjalankan tugas polisi sebagai penjaga keamanan, ketertiban dan pengayom masyarakat. Bukan rahasia umum lagi, banyak orang yang masih berpikir pesimis terhadap kinerja polri, apalagi dalam menangani kasus korupsi, narkoba, dan kriminalitas lainnya. Dalam hal pemberantasan terorisme, kita akui Polri patut kita banggakan.
Sekarang di negeri ini adalah fenomena kalau muncul sekelompok ormas-ormas anarkis yang kerap membuat gaduh. Ormas-ormas itu ada yang mengusung atribut agama dan suku, namun kerap tindakannya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, etika, moral dan tak menghargai hak azasi manusia (HAM). Karenanya, kita berdoa dan berharap serta meminta agar Pak Tito sebagai Kapolri baru bisa menjalankan perannya sebagai jenderal yang berani, tegas dan reformis serta pemberi kenyamanan di negeri ini.
Kita jangan hanya terbuai dengan sanjungan atau pujian kepada Pak Tito. Kita pun meminta Tito agar bisa semakin peka terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Bukan rahasia umum lagi, kasus gangguan beribadah di negeri ini masih kerap terjadi, dan itu dilakukan oleh ormas-ormas atau kelompok masyarakat sipil (preman). Ormas-ormas tersebut sering mengancam  elemen masyarakat, sehingga warga sering merasa tidak nyaman di negerinya sendiri untuk mencari nafkah dan beribadah.
Kita perlu belajar dari kasus-kasus lama. Ada kasus gereja HKBP Ciketing, HKBP Filadelfia, Santa Clara Bekasi, GKI Yasmin, bahkan kasus Aceh Singkil, dan warga gereja kerap menyaksikan bahwa aparat keamanan terkesan membiarkan terjadi aksi anarkisme dan perusakan tempat ibadah. Tak heran, kalau banyak pimpinan gereja, tokoh masyarakat dan cendekiawan serta aktivis LSM yang meminta agar polisi berani bertindak tegas sesuai konstitusi terhadap pelaku-pelaku anarkisme di negeri ini.
Pada 17 Agustus 2016 ini Indonesia sudah 71 tahun merdeka. Sehingga kita mengharapkan polisi sebagai aparat hukum dan aparat negara bisa menjalankan perannya dengan baik dan benar, sehingga mendapat simpati dari masyarakat serta bisa merasakan kemerdekaan. Seperti pernah ditegaskan para pemimpin bangsa terdahulu, negara atau aparat hukum, termasuk polisi tidak bisa kalah terhadap kekerasan atau kejahatan. Kalau kekerasan atau anarkisme bisa diatasi di negeri ini, maka setidak-tidaknya publik, bahkan dunia internasional bisa melihat bahwa Indonesia negara yang nyaman. Dan kita doakan kiranya Pak Tito Karnavian dilindungi dan diberikan bimbingan oleh Tuhan yang Maha Rahmat sebagai Kapolri baru, dan kiranya sukses. Semoga. Jonro I. Munthe, S.Sos.

Berita Terkait