Karangan Bunga Buat Ahok-Djarot

• Oleh: Betty Bahagianty, S.Sos 490 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Pasca kekalahan Ahok (Basuki)-Djarot (Badja) di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, rupanya menyisakan cerita tersendiri. Pasangan Badja yang sangat fenomenal itu bukanlah kalah sebagai pecundang. Buktinya, kekalahan mereka justru berujung pada pusaran cinta dan kasih sayang dari para pendukungnya melalui karangan bunga yang diperuntukkan bagi keduanya. Diperkirakan sebanyak 7.000-an karangan bunga menghiasi halaman Balai Kota, Jakarta, kantor mereka melayani rakyat.

Walaupun pada peringatan Hari Buruh se-Dunia pada 1 Mei 2017, ada beberapa karangan bunga yang dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hujan karangan bunga yang menular ke sejumlah daerah yang ada di Indonesia itu, pun menuai kritikan yang cukup tajam dari orang-orang yang berseberangan dengan Badja. Mungkin hujan karangan bunga merupakan bagian dari sejarah bangsa ini, bahwa Ahok dan Djarot begitu dicintai, tidak hanya oleh warga Jakarta, melainkan seluruh rakyat Indonesia.

 Kecintaan mereka bukan tanpa alasan. Melainkan telah melihat kinerja keduanya yang jadi bukti nyata. Mulai dari ketersediaan rusun, kesetaraan gaji plus tunjangan untuk pasukan orange dan sejenisnya, pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi umum, jaminan kesehatan melalui KJS, beasiswa untuk para pelajar dan belum lagi didirikannya ruang terbuka hijau serta masih banyak hal lainnya. Badja punya integritas yang teruji dan no kompromi pada korupsi, pungli dan mengedepankan keterbukaan soal anggaran, kebijakan dan lain sebagainya.

Alhasil, itu semua memang membuat gerah bagi setiap oknum yang terbiasa melakukan aksi suap menyuap demi memuluskan kepentingan mereka. Kekalahan Badja, bagi para pendukungnya memang sulit untuk diterima dengan akal sehat. Rasanya tidak mungkin dengan kinerja sedemikian rupa Badja harus kalah. Tapi inilah Indonesia. Apa yang tidak mungkin bagi bangsa ini? Segala sesuatu bisa dijadikan komoditi yang dibungkus dengan kepentingan yang berbau agama. Mulai dari kebiasaan Ahok yang berkata-kata kasar, isu SARA hingga yang menjadi senjata pamungkasnya adalah Ahok dituduh telah menistakan agama.

Padahal, ahli agama banyak meyakini tak ada bukti yang kuat kalau mantan Bupati Babel itu menista agama. Di sini jelas, bahwa sebetulnya masyarakat Indonesia masih mudah untuk diadu domba. Mudah dibutakan dengan agama yang notabene sebenarnya tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk berpolitik yang kurang beretika.  Saban hari situasi bangsa ini semakin memprihatinkan. Yang tragis adalah bahwa kita pun atas nama kepentingan dan merasa telah “diusik” oleh kebijakan Ahok, bergabung dengan mereka yang menghalalkan cara untuk menang.

Bagi Ahok dan Djarot, tidak akan rugi meninggalkan jabatan sebagai pemimpin DKI Jakarta. Sebab, mereka menilai jabatan hanyalah amanah yang punya tanggal kadaluarsa. Keduanya tidak pernah menaruh kehormatannya pada jabatan tersebut. Justru sebelum keduanya meninggalkan kursi panas kepemimpinan DKI Jakarta itulah sebaik mungkin menyelesaikan pekerjaan yang memang harus dirampungkan. Karena panggilan mereka adalah sebagai pelayan  masyarakat DKI.

 Waktu memang menjadi juri yang paling adil dalam segala hal. Dengan waktu pulalah mata kita akan melihat dengan jeli, siapakah yang pantas disebut sebagai pahlawan DKI Jakarta. Bukan mereka yang gagah perkasa merasa menang, apalagi cara yang digunakannya membuat pihak lainnya merasa terluka. Tapi pahlawan Jakarta adalah mereka yang rendah hati dan punya jiwa melayani untuk orang banyak. Kinerja Badja adalah legacy  bagi anak cucu kita di kemudian hari.

Sebab sesugguhnya, perbuatan mereka itu lebih keras dari pada perkataan. Dan Ahok-Djarot mampu membuktikan itu. Bagaimana dengan penggantinya? Kita lihat saja, apakah mereka mampu seperti Ahok-Djarot? Mari doakan Indonesia agar damai dan bebas dari nafsu keserakahan yang menghalalkan cara untuk meraih kekuasaan. “Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah Tuhan!” (Mazmur 144:15).

·                     Penulis adalah jurnalis Majalah NARWASTU dan lulusan IISIP, Jakarta. 

Berita Terkait