Keluarga FORKOM NARWASTU

933 dibaca
* Oleh: Dr. Antonius Natan

beritanarwastu.com. Transformasi Indonesia dari Negara agraris berubah sejalan dengan kemajuan teknologi dan bertumbuhnya berbagai industry di berbagai pelosok Tanah Air. Sawah lading, bahkan hutan telah beralih fungsi menjadi jalan raya, pabrik dan pemukiman. Kehidupan masyarakat yang lugu dan polos mengikuti perkembangan zaman. Indonesia telah berganti wajah sebagai negara modern dengan industry besar dan berbagai industry rumahan, mengejar pertumbuhan ekonomi, membawa masyarakat luas mengikuti arus perputaran roda ekonomi.

Perpindahan penduduk dari desa ke kota, anak-anak muda mengadu nasib di kota meninggalkan pedesaan yang subur tetapi sepi pembangunan, meninggalkan keluarga yang ada sekaligus mencari keluarga yang baru di perkotaan. Komunitas baru yang keras mengubah wajah penduduk Indonesia, ego, ketidakpedulian, cinta akan uang, dan haus akan harta. Anak muda di kota kehilangan figur bapak. Lalu apa dampaknya, anak-anak muda sering kali mencari figur bapak di luar. Agama seakan tidak mampu menjadi jembatan, sepertinya Tuhan menonton manusia yang sibuk dan semakin menjauh dari Tuhan. Manusia sibuk mencari sesuap nasi, berjuang hidup agar mampu berkompetisi, manusia kehilangan peranan dan fungsinya sebagai makhluk ciptaan yang seharusnya menyembah Tuhan.

Anak-anak muda mencari figur orang tua melalui teman sebaya. Gadget menjadi teman hidup,  Mbah Google menjadi jawaban atas  pertanyaan yang buntu, keakraban seakan nyata dalam hidup walau hanya sebatas WA atau BBM atau sosmed (sosial media) lainnya. Identitas persahabatan menjadi semu, jauh di mata dekat di gadget, senda gurau dan update status sebagai pertanda situasi hati. Tetapi semuanya tidak menyentuh hati nurani yang haus. Kekosongan figure bapak diganti oleh nikmatnya bersosial media, lantas masih adakah cinta dan damai?

 

Keluarga FORKOM NARWASTU

Forum Komunikasi (FORKOM) Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan  NARWASTU merupakan keluarga dalam bentuk ruang bicara dari banyak tokoh dengan berbagai latar belakang social budaya, asal daerah berbeda, usia yang beragam dan ada pula pengurus partai politik dengan platform berbeda, asal gereja yang berbeda dogma dan teologi, dengan minat yang sangat beragam sesuai dengan wawasan yang dimiliki oleh anggota yang berasal dari birokrat, profesional, pengusaha, rohaniwan dll. Lembaga yang dibentuk sejumlah tokoh pilihan Majalah NARWASTU seakan menjadi jawaban bagi situasi dan kondisi saat ini.

Keluarga yang merupakan pusat kepedulian harus hidup menjadi inspirasi dari anggotanya. FORKOM NARWASTU merupakan bagian dari gereja universal yang menjadi jembatan dari kesunyian dan keheningan yang dialami oleh banyak orang. Melalui FORKOM NARWASTU menyemai inspirasi bagi anggotanya sekaligus menjadi agen pembaharuan dan menyalurkan damai. Dalam keluarga ini ternyata terdapat banyak “bapak.

FORKOM NARWASTU telah memulai kiprahnya dengan saling peduli, memberikan waktu yang berkualitas untuk berkomunikasi, saling mengenali kebutuhan, saling menghargai dan menghormati perbedaan, forum yang berbagi dari lingkup ruang komunikasi di WhatApps (WA) hingga pertemuan rutin biasa, siaran radio dan seminar. Sebagai keluarga damai beranjak kepada masyarakat luas memberikan hati yang peduli dengan sesama, bersahabat dengan lingkungan, membangkitkan semangat dan motivasi, sehingga FORKOM NARWASTU menularkan semangat cinta Tanah Air.

FORKOM NARWASTU menjadi wadah sekaligus “bapak” yang menarik, karena ada Tuhan Yesus. Ada kesatuan di antara anggota FORKOM NARWASTU. Tidak berkompetisi, melainkan menularkan keasyikan berkeluarga, kegemaran berbagi kasih, peduli lingkungan adalah kehidupan yang mencerahkan. FORKOM NARWASTU adalah “bapak” yang melayani dari altar menuju pasar di mana orang melihat ada Tuhan dalam komunitas.

Bapak” menggaungkan suara kenabian yang membangkitkan kasih dan penghiburan, itulah pesan damai. Damai di bumi Indonesia melalui FORKOM NARWASTU yang memancarkan terang dan kasih Tuhan Yesus Kristus. FORKOM NARWASTU menciptakan damai dari dalam diri, memancar luas memberikan pengaruh. Atmosfir alampun berubah mewarnai hidup yang sunyi hingga menjadi riang, menggetarkan keangkuhan menjadi kepedulian. Cinta tanah air  dan damai di bumi Indonesia. Rindukah setiap kita menjadi  pembawa cinta dan damai sekaligus menjadi “bapak” bagi bangsa? 

Mazmur 133:1-3, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!  Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

 

·      *   Penulis adalah anggota FORKOM NARWASTU dan Waket I STT Rahmat Emmanuel, Jakarta. 

Berita Terkait