Prof. Dr. Marthen Napang, S.H., M.H., M.Si.
Kepemimpinan Kristen dan Gembala yang Baik

1247 dibaca
Prof. Dr. Marthen Napang, S.H., M.H., M.Si.

Beritanarwastu.com. Tuhan Yesus bersabda, “Akulah Gembala yang baik.” Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Gembala yang baik adalah seorang pelindung, penuntun, penjaga dan pemersatu. Seorang gembala harus mampu menyatukan domba-domba atau pengikutnya ke tempat yang baik atau layak, seperti padang rumput yang hijau, seperti dituliskan Kitab Mazmur 23 mengenai Tuhan Gembalaku yang Baik. Dan kawanan dombanya selain kenyang dengan rumput yang hijau, juga dibawa ke air jernih untuk minum.

Demikian diungkapkan advokat senior yang juga pakar sosial, demokrasi, HAM dan politik, Prof. Dr. Marthen Napang, S.H., M.H., M.Si, saat berbicara tentang kepemimpinan Kristen dan gembala yang baik. Ketua Pengarah Kongres PIKI 2015 dan mantan Ketua DPP PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) ini menerangkan, makna dari Tuhan adalah Gembala atau Gembala yang Baik itu sangat dalam.

“Kalau ada domba atau pengikutnya yang tersesat atau terluka, maka gembala itu akan mencari mengobati lukanya. Gembala yang baik tidak akan menelantarkan satu pun domba atau pengikutnya. Pada sore atau malam, ia akan menggiring domba-dombanya ke kandang untuk beristirahat, lalu ia menjaga kandang agar jangan diganggu atau diserang binatang buas seperti serigala atau singa. Jika ada ancaman dari luar, maka dia yang akan jadi pembela bagi domba-dombanya,” tukasnya.

“Kalau ada dombanya 100 ekor, lalu tersesat atau hilang satu, maka yang satu ini akan dicari sampai dapat. Itulah gembala yang baik. Dan Yesus adalah Gembala yang Baik,” papar pria yang semasa muda merupakan aktivis mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Makassar, dan dulu aktif di GMKI, GAMKI dan KNPI di Sulawesi Selatan itu.

Dalam kaitannya dengan pemerintahan atau sebuah bangsa, pemimpin atau gembala yang baik bisa mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya ke dalam kehidupan yang baik dan punya visi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik atau sejahtera. “Pemimpin yang baik harus mampu membawa pengikutnya dari krisis, apakah itu krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial atau persoalan bangsanya. Itulah sebenarnya tugas dari pemimpin Kristen agar tampil sebagai gembala yang baik,” terangnya.

Terkait dengan pemerintahan, Tuhan Yesus dulu datang sebagai Gembala yang Baik ke dunia bukan untuk memerintah, namun memberikan kenyamanan dan memberitakan kabar baik kepada umat manusia, karena kerajaaan Yesus ada di surga. “Tujuan dari kepemimpinanNya tentu untuk keselamatan di surga, dan bagaimana menyelamatkan dunia. Yesus dulu datang bukan sebagai tuan, namun sebagai pelayan. Dia pun datang untuk melayani bukan untuk dilayani. Itu jugalah inti dari kepemimpinan demokrasi, bahwa pemimpin adalah pelayan masyarakat, bukan tuan,” tukas pimpinan Kantor Hukum Marthen & Partners (Litigation & Non Litigation) ini.

Pria yang beribadah di Gereja Toraja ini menambahkan, pemimpin yang baik punya motto: I am not the master but server. “Jadi keteladanan kepemimpinan Yesus Kristus sangat luar biasa, dan itu yang populer dan akan terus dibutuhkan di masa depan. Dan keteladanan seperti itu yang akan disukai rakyat di dalam sistem pemilihan langsung asal berkualitas, artinya tak ada lagi money politics,” paparnya.

Di pilkada-pilkada serentak pada akhir 2015 ini, kata Marthen Napang, kepemimpinan yang memberikan keteladanan sebagai pelayan pasti dibutuhkan. Katanya, lihat saja kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, dengan karakternya ia bisa membuat dolar makin kuat dan rakyatnya semakin makmur dan kaya raya. “Di Indonesia pemimpin legendaris yang punya keteladanan, seperti Soekarno, Letjen TNI T.B. Simatupang dan Jenderal TNI M. Yusuf. Bangsa ini butuh pemimpin-pemimpin pelayan dan mampu memberikan keteladanan,” paparnya.

Berbicara mengenai kepemimpinan Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. alias Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, Marthen Napang berkomentar, kepemimpinan Ahok itu terjadi karena sebuah momentum. Ahok  monumental, dan dia cocok pada momennya, dan belum tentu cocok sebagai pemimpin di masa depan atau di masa lalu. Kepemimpinannya mampu menerobos sekat-sekat antara pemerintah dan rakyat di DKI Jakarta. Ahok berani menerobos, seperti kasus korupsi dan penyelewengan kekuasaan,” tukasnya.

Ahok, imbuhnya, menerapkan Revolusi Mental yang ditunggu rakyat. “Kepemimpinannya menyenangkan rakyat, namun belum mensejahterakan rakyat, sehingga pola kepemimpinan seperti itu bisa tidak populer di tengah rakyat. Kalau Ahok suka bicara dan menunjuk-nunjuk dengan jarinya, itu banyak orang tidak senang. Kalau Ahok banyak berbicara namun rakyat tidak sejahtera itu pun masalah. Karenanya Ahok perlu penyesuaian kepemimpinan sesuai dengan kebutuhan rakyat. Ahok tak cukup hanya melakukan gebrakan kepada orang bersalah, tapi juga harus melakukan gebrakan ekonomi yang mensejahterakan. Terkait ke depan kita butuh juga pemimpin yang multikultural,” tandasnya. KT

Berita Terkait