Pdt. Tjepy Jones Budidharma
Ketika Alkitab Bicara Mengenai Takut

1043 dibaca
Pdt. Tjepy Jones Budidharma

2 Timotius 1:7,  “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,

melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

 

          Beritanarwastu.com Kalau Allah tidak pernah memberikan ketakutan, lalu siapa yang memberikannya?

Dan bagaimana caranya ketakutan itu datang?  Ini suatu pertanyaan yang perlu kita renungkan

agar kita bisa lepas dari ketakutan itu sendiri. Di masa kini ada banyak hal yang dapat

membuat seseorang dikuasai ketakutan, katakanlah pergolakan ekonomi yang sulit diprediksi dan gelombang PHK (pemutusan hubungan kerja) di berbagai perusahaan. Sehingga ketakutan menjadi sesuatu yang wajar dan dapat “di-manage” sehingga seolah-olah tidak perlu dipermasalahkan  

          Takut adalah percaya dalam arah negatif, yaitu percaya akan hal buruk yang dapat terjadi pada seseorang. Atau dapat dikatakan bahwa rasa takut adalah semacam “iman” kepada perbuatan iblis yang datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan (Yohanes 10:10a). Jadi pada saat kita membiarkan rasa takut menguasai kita, maka kita seolah-olah membuat iblis berkenan untuk melakukan pekerjaannya dalam hidup kita, sebaliknya kalau kita beriman kepada Allah, maka Allah akan berkenan kepada kita untuk melakukan apa yang kita imani dari FirmanNya. Iblis tidak dapat sesuka hatinya membinasakan kita sebelum dia taruh rasa takut di hati kita.

          Sebagai contoh ketika Petrus berjalan di atas air, Alkitab mencatat dalam Matius 14:30, ”Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!" Kita lihat bahwa iblis memakai keadaan untuk mengintimidasi ketakutan di dalam hati Petrus agar petrus tenggelam ke dalam air. Sebelumnya Petrus sudah berjalan di atas air berdasarkan perkataan Yesus di ayat 29 yaitu, “Datanglah!” sekalipun di tengah angin sakal. Selama Petrus berpegang pada Firman Tuhan “Datanglah”, maka dia tidak akan pernah tenggelam karena Firman Tuhan sanggup melakukan apa saja yang Dia kehendaki dan pasti berhasil (Yesaya 55:11).

         Tetapi di tengah perjalanan iblis berusaha mengintimidasi Petrus dengan menyadarkan dia akan fakta bahwa ia sedang di atas air dan di tengah angin sakal yang sungguh riil dan sangat berbahaya, kemudian Petrus terpengaruh dan di situlah dia mulai tenggelam tetapi Yesus segera menolong.

       Jadi iblislah yang memberikan ketakutan lewat fakta dan perkataannya melalui apa yang kita dengar dan lihat sehari-hari. Dengan tujuan untuk mendapat akses untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan hidup kita. Di dalam Alkitab ada kurang lebih 360 kali Allah mengatakan, “Jangan takut”, ini berarti satu perkataan setiap hari selama satu tahun. Kalau satu atau dua kali Allah melarang berarti sudah serius, maka larangan yang Dia katakan kali ini sampai 360 kali, maka ini sudah sangat super serius sekali. Karena Allah adalah kasih dan Dia sangat rindu memberkati kita dengan segala pertolongan dan hidup yang penuh keberkatan, bahkan memanage rasa takut atau “fear management” juga bukan berasal dari Allah, karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18) bukan mengolah takut! Satu-satunya yang menghalangi Dia mengakses hidup kita adalah ketidakpercayaan, dan rasa takut adalah tidak lain dari rasa tidak percaya bahwa Allah sanggup menolong kita.

             Sekarang bagaimana kita memiliki iman? Roma 10:17,  “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Jadi iman tidak bisa kita usahakan dengan perbuatan kita karena iman selalu datang hanya datang dari pendengaran akan Firman Kristus. Tanpa kita mengerti Firman tidak mungkin iman timbul dalam hati kita. Dalam Kitab Ibrani 11:1 terjemahan Amplified Bible dikatakan, iman adalah “sertifikat kepemilikan” kita akan semua janji Allah, karena memang bagi kita yang beriman Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah (2 Korintus 1:20). Amin.

Berita Terkait