Konsultasi Nasional VIII POUK 2019

45 dibaca
Peserta Konas VIII POUK 2019 diabadikan.

Beritanarwastu.com. PGI Wilayah Banten dan BP POUK Banten menjadi tuan rumah dari kegiatan Konas VIII Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK) 2019 yang berlangsung selama tiga hari (13-15 Juni 2019) di Hotel Olive, Kota Tangerang, Banten. Sekitar 200 orang peserta yang merupakan perwakilan dari POUK se-Indonesia mengikuti kegiatan yang dibuka oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang ini.

Dalam sambutannya, Pdt.  Ery, panggilan akrabnya, menegaskan pentingnya gereja-gereja dan POUK mengamalkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, guna menanggulangi kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme, serta kerusakan lingkungan, bersama seluruh anak bangsa tanpa melihat latar belakang. “Itulah panggilan dari gerakan oikumene kita, yang tidak boleh berakhir dalam kesatuan struktural, tapi sebagai wujud pelayanan dan kesaksian gereja bagi kesejahteraan bangsa ini. Kita harus berpikir positif dan kreatif, tanpa kehilangan identitas. Keempat isu ini harus dimasukkan dalam program-program gereja dan POUK di seluruh Indonesia,” katanya.

Sebab itu, dia berharap agar konsultasi ini melahirkan rumusan yang dapat mengatasi pergumulan bersama, baik dalam kehidupan bergereja maupun berbangsa. Pentingnya melahirkan rekomendasi bagi kesejahteraan masyarakat juga disampaikan perwakilan Kesbangpol Provinsi Banten, Maman. “Rekomendasi tersebut secara khusus bagi kesejahteraan masyarakat Banten, dan secara umum bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Maman menambahkan, dalam kemajemukan masyarakat saling bergantung satu terhadap yang lainnya, sehingga perlu mengembangkan komunikasi yang dapat menciptakan kerukunan, saling menerima dan memahami. Selain itu, perlu sinergitas antara gereja, masyarakat dan pemerintah. Hal senada disampaikan Ketua Panitia Konas VIII POUK 2019, Pdt. Edward Ladasi. Menurutnya, dari kegiatan ini diharapkan ada pemikiran kritis, kreatif, dan konstruktif bagi gerakan oikoumene dan bangsa Indonesia.

Konas VIII POUK 2019 akan melanjutkan dan memperdalam percakapan-percakapan pada Konas-Konas sebelumnya. Karena itu, Konas kali ini menjadi ruang percakapan evaluatif, yang diharapkan akan menghasilkan beberapa pokok pemikiran teologis-pastoral dan programatis untuk dua tahun ke depan. Sedangkan tujuan kegiatan ini adalah terciptanya ruang komunikasi konsultatif yang mengerucut pada beberapa pokok rekomendasi tentang pemikiran teologis-pastoral yang programatis secara realistis dan terukur.

Untuk mencapai tujuan itu, maka arah dari proses percakapan konsultatif selama Konas VIII POUK 2019, yaitu di hari pertama (13 Juni 2019), usai ibadah dan seremoni pembukaan, diawali dengan percakapan konsultatif tentang tema Sidang Raya XVII PGI 2019, Aku adalah yang Awal dan yang Akhir (bdk. Wahyu 22:13). Percakapan ini diantar oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang.

Dalam terang tema ini, peserta akan memasuki percakapan konsultatif tentang panggilan hidup umat beragama, termasuk umat Kristen di Indonesia, dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Percakapan ini difasilitasi oleh para panelis, yaitu Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si, dan Ketua MUI Banten Dr. K.H. M. Romly. Dari mereka diharapkan akan memperoleh penajaman kesadaran keberagamaan yang berwawasan kebangsaan Indonesia.

Dilanjutkan dengan sesi pengetahuan dan keterampilan tentang masalah-masalah kebencanaan. Percakapan ini penting mengingat wilayah Indonesia adalah wilayah yang rawan bencana alam, seperti tsunami, gempa bumi, dan tanah longsor serta kerusakan lingkungan, dengan nara sumber mantan Kepala Pengawas Gunung Berapi, Dr. Surono, dan mantan Kepala BNPB Laksda (Purn.) Willem Rampangilei.

Di hari kedua (14 Juni 2019), percakapan konsultatif diawali oleh penyamaan persepsi tentang hubungan kerja dan kelembagaan POUK-POUK dengan PGIW-PGIW serta POUK-POUK dengan gereja-gereja anggota PGI. Penyamaan persepsi ini didasarkan pada Buku Pedoman Kerja POUK hasil Sidang MPL PGI tahun 2018 di Palopo. Percakapan ini akan difasilitasi oleh Sekretaris Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, M.Th unsur PGIW yang diwakili oleh Ketua PGI Wilayah Banten, Pdt. Elkarya C. Telaumbanua, unsur gereja anggota PGI yang diwakili oleh Ketua Sinode GPIB, Pdt. Paulus Kariso Rumambi, dan unsur POUK yang diwakili oleh Abraham Raubun.

Usai sesi ini, peserta memasuki sharing wilayah terfokus dengan dengan topik-topik percakapan krisis kebangsaan, krisis keesaan, krisis ekologi, tantangan budaya, dan tantangan pendidikan. Percakapan-percakapan konsultatif dalam bentuk sharing wilayah terfokus tersebut berlangsung dalam sorotan semangat teologis-pastoral tema dan sub tema SR XVI PGI 2014, “Tuhan Mengangkat Kita dari Samudera Raya, pikiran pokok Sidang MPL PGI 2019, “Spiritualitas Keugaharian: Membangun Demokrasi yang Adil bagi Kesejahteraan Semua, dan tema SR XVII PGI 2019, “Aku adalah yang Awal dan yang Akhir.

Kemudian dilanjutkan dengan pleno hasil sharing wilayah terfokus. Diharapkan pleno akan dihasilkan beberapa rekomendasi pertimbangan teologis-pastoral dan program-program pelayanan tentang burning issues yang ditemukan oleh setiap kelompok diskusi. Memasuki hari ketiga (15 Juni 2019), diawali dengan launching buku Pedoman Kerja POUK dan Bunga Rampai POUK di Indonesia. Seluruh rangkaian Konas VIII POUK 2019 ditutup dengan ibadah penutupan dan sakramen perjamuan kudus. KL

Berita Terkait