Konsumsi Daging Babi di Sumut Tinggi Meskipun Pernah Ada Flu Babi

981 dibaca


Beritanarwastu.com. Pada 11 Juni 2009 lalu, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sudah menetapkan wabah virus influenza A atau H1N1 (Flu babi) sebagai pandemi global. Pandemi flu kali ini merupakan yang pertama sejak 41 tahun lalu, ketika wabah flu Hongkong memakan korban lebih dari sejuta orang di seluruh dunia. Sejak munculnya wabah flu babi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, tingkat konsumsi daging babi bagi masyarakat (Kristiani) terlihat cukup menurun.

Tak heran, kalau pengelola restoran Batak, Manado dan Tionghoa di Jakarta banyak yang mengeluh, karena penggemar daging babi di restorannya berkurang. Hal tersebut diakibatkan kekhawatiran mereka mengkonsumsi daging babi, karena penyakit aneh tersebut. Sehubungan dengan maraknya flu babi, apalagi sudah ada pula warga Indonesia yang terkena virus H1N1, ternyata dari penelusuran majalah ini di daerah Sumatera Utara (Sumut), penggemar daging babi tidak terpengaruh untuk menyantap daging berlemak tinggi ini.

Hal itu terlihat di Tanah Karo saat NARWASTU berkunjung ke sana. Di warung-warung sepanjang jalan di kota Berastagi dan Kabanjahe, terlihat masih banyak penggemar babi panggang Karo (BPK) bersantap siang. Seorang pengelola warung babi panggang menyebut, meskipun isu flu babi cukup gencar diberitakan di televisi pelanggan babi panggang tak terpengaruh. Demikian juga daging babi yang mereka siapkan, yakni 40 kilogram setiap hari tidak berkurang.

Sekadar tahu, kota Berastagi dan Kabanjahe adalah dua kota di Sumut yang terkenal dihuni banyak warga gereja. Tak heran, kalau di sana banyak penggemar babi panggang. Sejak dulu kedua kota ini memang terkenal dengan masakan khasnya babi panggang yang dicampur dengan darah yang sudah dimasak, serta dinikmati dengan nasi hangat dan daun singkong atau daun pepaya yang ditumbuk.

Berastagi yang terkenal dengan hawanya yang sejuk, juga memiliki banyak daerah tujuan wisata berupa pemandangan alam yang indah dan menghijau. Pun banyak di sana berdiri gedung Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Di Sumut, Berastagi sekarang populer sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Selain itu, kota ini terkenal sebagai kota buah, karena banyak hasil petaninya berupa buah, seperti jeruk dan markisa. Yang menarik lagi di kota ini, banyak berdiri hotel-hotel dan pavilium untuk disewakan bagi mereka yang ingin refreshing. Namun sejak Gunung Sinabung beberapa tahun terakhir ini meletus, hal itu membuat kawasan Tanah Karo agak berkurang pengunjung. Karena sering Gunung Sinabung mengeluarkan debu panas yang berbahaya bagi warga di sekitarnya. Bahkan, debu panas itu menghancurkan lahan pertanian dan memusnahkan ternak di sekitarnya, dan mengancam nyawa manusia. PN    

Berita Terkait