Lagi-lagi Ahok Guncang Indonesia

• Oleh: Yohanes Handojo Budhisedjati, S.H. 1191 dibaca
• Oleh: Yohanes Handojo Budhisedjati, S.H.

         BERITANARWASTU.COM. Kalau  membaca berita dalam minggu-minggu terakhir ini, maka berita tentang Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok) dapat ditemui hampir di tiap surat kabar nasional. Tidak bosan-bosannya masyarakat Indonesia bicara tentang Ahok. Dan berita positif maupun negatif tetap menjadi santapan pembaca. Sungguh sangat mencengangkan semua lapisan masyarakat kalau berita Ahok dapat menjadi top news selama berminggu-minggu.

          Beberapa berita tentang marah-marah Ahok, anggapan “penistaan agama”, ditolaknya Ahok di beberapa daerah di ibukota, dukungan parpol bermunculan sampai puncaknya PDIP akhirnya mengusung Ahok, dan terakhir dukungan PPP pimpinan Djan Faridz adalah berita yang selalu muncul di ibukota. Pro maupun kontra Ahok tetap merupakan hal yang seru dipergunjingkan.

Mengapa sosok Ahok begitu memukau? Mengapa arogansi, makian yang sering kasar dilontarkan Ahok masih dapat mendatangkan pro dan kontra? Yang normal, apabila seorang tokoh mendapatkan pemberitaan negatif, maka habislah karier tokoh tersebut, sulit untuk bangkit kembali.
           Tetapi ini tidak berlaku bagi seorang Ahok. Banyaknya tudingan terhadap kasus Sumber Waras, Reklamasi, juga tentang seringnya keluar kata-kata kotor, tidak membuat Ahok dijauhi, tetapi masih banyak yang mengidolakannya.
Ini terbukti bahwa masih ada parpol pendukung yang mengusung Ahok. Bahkan, PDIP yang semestinya bisa mempunyai calon sendiripun masih mendukung pasangan petahana.
Bahkan, sekalipun Ahok sedang diserang oleh sekelompok umat Muslim yang tersinggung dengan ucapan Ahok yang dianggap menista agama Islam, masih ada parpol berbasis Islam yang mendukungnya, yakni PPP kubu Djan Faridz.

            Akibat ucapan Ahok yang dianggap menista agama bukan saja terjadi gelombang unjuk rasa di Jakarta saja, tetapi di berbagai daerah pun gelombang protes berdatangan. Walaupun sesungguhnya kasus ini masih ditangani pihak yang berwajib. Dan dampak dari kasus tersebut juga sangat meluas, karena ancaman pecahnya keberagaman di Indonesia menjadi makin terlihat. Tidak kurang dari Menteri Agama RI dengan seluruh pimpinan agama yang ada di Indonesia menyerukan untuk menjaga emosi, meredakan ketegangan yang hampir sampai puncaknya.

Inilah fenomena yang terjadi sekarang. Semua gara-gara Ahok. Benarkah demikian?
Beberapa pengamat politik berpandangan sebaliknya. Justru sebenarnya Ahok hanya merupakan pemicu saja. Menurut pengamat, sesungguhnya gerakan intoleransi yang menginginkan NKRI menjadi negara Islam sudah makin menguat seiring dengan makin redupnya nilai-nilai kebangsaan.

Sementara ini yang berkembang di masyarakat terdapat berbagai spekulasi, yakni, pertama, kesempatan untuk menjatuhkan atau menggagalkan Ahok dalam Pilkada DKI 2017 adalah dengan masalah penistaan agama. Itu sebabnya, kelompok tersebut ingin secepatnya kasus Ahok diproses, sehingga Bawaslu dapat menggugurkan pencalonannya apabila Ahok dijadikan tersangka. Akan sulit apabila kampanye dilaksanakan hanya dengan adu program, karena  Sang Petahana dinilai telah sangat bekerja dengan baik.

Kedua, kelompok intoleransi memanfaatkan momentum dengan memanaskan situasi sehingga akan jelas terlihat kekuatan gerakan ini. Ketiga, adanya campur tangan pihak asing agar Indonesia terpecah. Karena bangsa Indonesia sangat mudah terbelah akibat politik devide et impera zaman Belanda dahulu. Isu etnis atau agama sangat mudah tersulut. Berita yang harus divalidasi dahulu adalah beredarnya isu di medsos (media sosial) bahwa telah adanya gerakan dari sekelompok pemuda yang siap “berperang” menghadapi ancaman disintegrasi.

             Kesemuanya itu sebenarnya sangat sederhana masalahnya. Ahok seperti yang sering diceriterakan bahwa Ahok pernah bersekolah di sekolah Islam. Sehingga dianggapnya agama Islam pun merupakan bagian dari proses pendewasaan dirinya. Itu yang membuat dirinya secara lugas berani berpesan sesuai dengan pidato di Kepulauan Seribu. Ahok menganggap  banyak tahu tentang ayat-ayat dan telah banyak belajar dari sewaktu dirinya kecil. Jangan-jangan Ahok menganggap Islam adalah bagian dari dirinya selain Alkitab yang ia pelajari.

          Dia lupa bahwa tidak semua orang mengetahui kehidupan masa kecilnya. Terlebih yang berseberangan dalam politik. Cukup  satu pertanyaan saja untuk Ahok. Apakah Ahok seberani itu untuk menista agama Islam, agama mayoritas di republik ini? Sangat tidak logis dengan kepandaian atau kecerdasan Ahok sampai berani menantang, menghina, melecehkan agama mayoritas.

Kalau demikian siapakah yang berpikir tidak logis?


* Penulis adalah pengamat politik
dan perburuhan, Ketua I FMKI (Forum Masyarakat Katolik Indonesia) KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) dan Ketua Umum VOX POINT INDONESIA (VPI).

 

 

Berita Terkait