Lima Si Manajemen Holistik

Oleh: Sigit Triyono 534 dibaca


Beritanarwastu.com. Kita tunduk pada dua hukum utama di semesta ini. Hukum pertama adalah hukum termodinamika yang menyatakan bahwa segala sesuatu di semesta ini sudah, sedang dan akan terus mengurai. Alam semesta yang sekarang ini adalah hasil dari proses penguraian masa lalu. Dan akan terus mengurai secara alamiah. Hukum awal Termodinamika menyatakan bahwa dua system dalam keadaan setimbang dengan system ketiga, maka ketiganya dalam saling setimbang satu dengan lainnya. Energi itu kekal adanya.

Hukum yang kedua adalah hukum evolusi. Semua makhluk hidup tunduk pada seleksi alam. Hanya makhluk hidup yang memiliki variasi sesuai dengan lingkungan yang bisa bertahan hidup, sedang yang tidak sesuai akan punah. Hukum evolusi mendorong manusia untuk terus meningkatkan kualitasnya untuk bisa bertahan hidup sepanjang masa.

Seolah kedua hukum di atas bertentangan. Yang satu mengurai yang satu berubah menjadi lebih sempurna. Padahal kedua hukum di atas dapat disinergikan untuk hidup kita sehari-hari. Kita tidak bisa menolak proses penguraian, tapi kita bisa optimalkan evolusi progresif (perubahan ke arah lebih baik agar mampu bertahan). Sebagai contoh bahwa motivasi manusia itu cenderung akan mengurai. Pagi hari kita memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan pekerjaan dan mewujudkan target kita. Tapi siang hari kita sudah loyo karena berbagai macam penyebab. Motivasi kita mengurai! Tidak perlu waktu mingguan, bulanan atau tahunan. Bahkan dalam beberapa jam saja sudah mengurai dia.

Begitu juga dalam meuwujudkan visi di segala tempat dan lembaga kita perlu kesadaran untuk mengupayakan terus menerus agar penguraian tidak menghambat pencapaian visi kita. Lima Si Manajemen Holistik dapat menjadi kita untuk mewujudkan visi bersama.

Lima Si tersebut adalah: Visi, Komunikasi, Motivasi, Aksi dan Evaluasi. Bermula dari visi yang menarik, menggairahkan dan menginspirasi. Visi harus dikomunikasikan secara intens dan konsisten agar benar-benar mampu menarik dan mendorong orang lain untuk ikut bersama dalam upaya mewujudkan visi tersebut. Sampai pada saatnya semua pihak mempunyai motivasi tinggi untuk bergerak bersama. Ini berarti sudah mendorong aksi yang riil. Aksi harus terus diberi bahan bakar agar tetap bisa menyala. Dan terkahir harus dievaluasi untuk perbaikan-perbaikan ke depan.

Mengapa disebut Holistik? Karena kelimanya adalah satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Satu hilang akan meniadakan unsur lain. Tidak ada kompromi untuk penghilangan salah satu unsur di atas. Mungkin kalau ada penambahan bisa saja untuk penyempurnaan.

Pemimpin harus memiliki visi yang digdaya. Ciri visi yang digdaya adalah (1) bisa dibayangkan – bukan sesuatu yang abstrak, (2) menggairahkan – menarik untuk ikut mewujudkan, (3) mungkin diwujudkan- terjangkau, (4) fokus – cukup jelas untuk menuntun dalam pengambilan keputusan, (5) fleksibel– bisa menyesuaikan dalam situasi yang berubah, dan (6) komunikatif – mudah dijelaskan dalam waktu paling lama lima menit. Dengan memiliki cirri visi yang semacam ini, langkah berikutnya adalah komunikasi. Mengkomunikasikan visi secara terus menerus dengan gairah dan semangat yang tiada henti, akan memberikan dampak bagi kekuatan sinergi lembaga. Komunikasi yang buruk seringkali menjadi penyebab utama dalam banyak organisasi.

Langkah berikutnya adalah memotivasi setiap warga organisasi agar segera bertindak untuk mewujudkan visi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi di bagian masing-masing. Motivasi cenderung akan mengurai dengan cepat kalau tidak ada system reward and punishment yang jelas dan konsisten. Pemimpin harus pandai menciptakan sistem ini, baik secara formal maupun informal agar motivasi tetap terjaga.

Berikutnya adalah Aksi. Dengan motivasi yang berkobar, maka langkah-langah program implementatif tidak boleh ditunda. Dalam aksi ini pemimpin harus rajinmonitoring, control, check and recheck.

Terakhir adalah evaluasi, suatu aktivitas penilaian terhadap hasil kerja dibandingkan dengan yang direncanakan. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk perbaikan, standarisasi dan perencanaan kembali. Langkah ini sama pentingnya dengan langkah-langkah yang lain. Evaluasi sering dilupakan padahal sama sekali tidak boleh diabaikan.  

 

 

 

 

Berita Terkait