Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia Rayakan HUT ke-67

425 dibaca
Drs. Jopie J.A. Rory, S.H., M.H.

             Beritanarwastu.com. Perayaan HUT (hari ulang tahun) ke-67 Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia (MPK) berlangsung di lantai 15 Gedung Central Park, Grogol, Jakarta Barat, pada Sabtu, 17 Juni 2017 lalu. Selain pengurus pusat, perayaan yang mengusung tema “Sinergitas Pendidikan Kristen di Indonesia” ini, juga dihadiri oleh pengurus wilayah serta pimpinan yayayasan pendidikan Kristen di bawah MPK.   

Dalam sambutannya, Ketua Umum MPK, Ir. David Tjandra menegaskan, keberadaan MPK yang telah memasuki usia 67 tahun hanya karena campur  tangan Tuhan. Sebab sekitar tahun 1970-1980-an lembaga ini tidak ada pengurusnya. “Nah, sekarang kita sudah terkoneksi satu sama lain, dan sadar bersama-sama berkiprah dan bertanggungjawab dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bagaimana memaksimalkan peran ini. Apakah kita mau berkoneksi atau berjalan sendiri-sendiri. Kita diberi kepercayaan yang besar oleh Tuhan untuk menjalankan tugas di bidang pendidikan,” katanya.

Sebab itu, David mengajak semua yang terlibat di MPK untuk terlibat secara serius, dan memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. “Kalau bisa ini investasi bagi masa depan bangsa. Kita tidak asal-asalan, tapi serius mendalami tugas ini. Koneksi sudah Tuhan sediakan 67 tahun lalu, tergantung kita apakah ingin memanfaatkan sebaik-baiknya atau tidak. Diingatkan dalam Markus, orang lumpuh disembuhkan. Itu bisa terjadi karena ada empat orang yang memandunya kepada Yesus. Apakah kita ingin menjadi keempat orang itu ketika dunia pendidikan sedang lumpuh.  Ini menjadi semacam pelajaran buat kita,” jelasnya.

Hampir di seluruh Indonesia, lanjut David, kondisi pendidikan, secara khusus sekolah Kristen, seperti benang kusut. Ada yang sudah maju jalan sendiri, sementara di sisi lain ada yang hidup segan mati tak mau. “Jika kondisinya seperti ini kualitas pendidikan Kristen dipertanyakan, apakah mampu berkompetisi dengan lembaga pendidikan lain. Ini disebabkan karena ketidaksediaan dana, mungkin karena tidak ada muridnya. Gereja juga seakan melupakan dan kemudian tidak berbuat apa-apa. Sibuk dengan urusan gerejawi akhirnya sekolahnya tutup. Orangtua Kristen tidak peduli dengan sekolah Kristen, sehingga lebih tertarik memasukkan anaknya ke sekolah lain. Ini permasalahan yang ada, bahkan banyak lagi,” katanya.

Sebab itu, dia mengajak agar seluruh sekolah Kristen bisa terkoneksi melalui MPK. Sebab itu, yang sangat dibutuhkan sekarang adalah adanya kolaborasi dalam rangka memainkan perannya dalam mengembangkan dunia pendidikan di Indonesia. Sementara itu, mewakili Badan Pengawas MPK, Drs. Jopie J.A. Rory, S.H., M.H. berharap memasuki usia ke-67 tahun, MPK benar-benar dapat menerapkan 7 pranata sebagai bagian dari MPK, salah satunya yaitu akuntabilitas.

Tujuh pranata ini, sebenarnya sudah berjalan, dan ini yang kami kawal. Dengan keterbukaan ini MPK menjadi lembaga yang mempunyai nilai positif di mata organisasi gereja, yayasan dan pemerintah,” tukasnya. 

Selain itu, di bawah kepemimpinan David Tjandra diharapkan visi MPK yang akan diimplementasikan hingga 2025, yaitu bagaimana MPK menjadi penguat dan bertujuan menjadikan sekolah-sekolah Kristen mandiri dapat terwujud.

            “Sekarang yang kami hadapi, adanya kesenjangan satu sama lain dari pengelola pendidikan Kristen, yaitu ada yang sangat maju, bahkan boleh dikatakan ada nilai-nilai eksklusifismenya. Nah, lewat lembaga ini bagaimana kesenjangan ini kita ceritakan ke teman-teman, yang yayasan-yayasannya begitu sulit mengelola sekolah di daerah. Dan MPK bagaimana mensinergitaskannya,” jelas Jopie Rory yang juga mantan Sekretaris Umum MPK dan advokat serta pengusaha asal Gereja GPIB itu. KT

Berita Terkait