Cosmas Refra, S.H.
Mantan Sekjen Pemuda Katolik Kini Pengacara

896 dibaca
Cosmas Refra, S.H.

Beritanarwastu.com. Ada pembinaan di organisasi Pemuda Katolik untuk pengkaderan pemimpin di masa mendatang. Generasi muda kita persiapkan lewat Pemuda Katolik agar suatu saat bisa memimpin bangsa ini. Pemuda Katolik meskipun organisasi kaum muda berbasis agama, tapi yang diutamakan kepentingan bangsa. Sehingga wawasan kebangsaan yang  ditanamkan kepada setiap kader. Kehidupan kaum muda harus diisi untuk melakukan perubahan di tengah Indonesia. Dengan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang lain, kita mencoba menyatukan pemahaman untuk memikirkan bangsa ini.

Ungkapan itu disampaikan mantan Sekjen Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik, Cosmas Refra, S.H., yang kini anggota Dewan Penasihat Pemuda Katolik suatu ketika kepada NARWASTU. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, ini lahir di Maluku Tenggara, 1 September 1966. Suami tercinta Farida N. Foudubun ini, punya empat anak, yaitu Agung Refra, Bintang Refra, Cindy Refra dan Dian Dewi Refra. Kini Cosmas yang juga pengacara (advokat) memimpin Kantor Advokat Cosmas Refra, S.H. & Rekan di Jakarta Utara. Ia dulu terpilih sebagai Sekjen PP Pemuda Katolik pada 2006, karena dinilai tokoh muda yang peduli pada persoalan gereja dan masyarakat.

Di sisi lain, ia pernah aktif di sejumlah organisasi kemasyarakatan dan politik. Sekarang ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Lembaga Misi Reklasering, dan anggota Pengurus Pusat HAPI (Himpunan Advokat Pengacara Indonesia). Sejak mahasiswa, Cosmas telah bergiat di organisasi kepemudaan, misalnya, pernah menjadi Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Ambon (1992-1993), aktivis Mahasiswa Pancasila (MAPANCAS) dan mantan Ketua Pemuda Katolik Cabang Maluku Tenggara. Selain itu, ia ikut mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) pada 1999 di Maluku Tenggara, yang di Pemilu 2004 jadi PKP Indonesia.

Menurut Cosmas, di Pemuda Katolik ia punya obsesi untuk mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan. “Jadi kita jangan berpikir eksklusif,” kata mantan Wakil Ketua DPC HAPI Maluku Tenggara ini. Pemuda Katolik, imbuhnya, punya motto pro eklesia et patria. “Artinya, kita hadir untuk gereja dan Tanah Air. Sehingga aktivitas kita tidak hanya untuk gereja, tapi juga untuk Tanah Air tercinta. Dan kesejahteraan orang banyak harus kita utamakan. Makanya, sejak berdiri Pemuda Katolik selalu membangun komunikasi dengan OKP-OKP lain untuk memikirkan keadaan Indonesia,” cetusnya.

“Dengan OKP-OKP lain, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), GP Anshor, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dulu kita giat berdialog. Di situ kita adakan forum diskusi. Kita coba mengeliminir tindakan-tindakan pemuda yang mengarah pada anarkisme,” terang Cosmas yang dua periode jadi Sekjen Pemuda Katolik.

                Mengenai maraknya dulu perusakan dan pembakaran gedung gereja di Indonesia, Cosmas menegaskan, mestinya umat Kristiani dilihat sebagai bagian dari Indonesia. “Melalui Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebetulnya para tokoh pemuda kita diajak supaya mengedepankan paham kebangsaan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Perbedaan harus diletakkan dengan pikiran kebangsaan. Makanya, kita sering berkomunikasi dengan teman-teman dari OKP-OKP. Untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibutuhkan peran pemuda sebagai perekat,” cetusnya.

                Mantan Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten PKP Indonesia Maluku Tenggara ini, berpendapat, untuk memperjuangkan Indonesia supaya lebih maju harus dengan kasih. “Ajaran gereja, yaitu kasih mengajak kita supaya jangan main hakim sendiri atau memaksakan kehendak kepada sesama. Kepada semua elemen masyarakat perlu diingatkan, bahwa prinsip kehidupan dalam berbangsa dan bernegara landasannya, pertama, aspek keadilan. Kedua, aspek kebangsaan. Kalau kedua aspek ini dilaksanakan, maka kita akan hidup sejahtera dan adil,” ujarnya pria yang juga mantan Calon DPD-RI Dapil Maluku pada 2014 ini.

              Berbicara krisis moral yang menimpa Indonesia, ia berpendapat, sebagai generasi muda kita harus melihat ini adalah realitas yang patut dicari solusinya. “Kita jangan hanya menyalahkan. Tapi, kita mesti bekerja untuk mengubah keadaan sulit ini. Mari kita berpikir jernih, mari tumbuhkembangkan kebersamaan. Kita harus banyak bekerja,” ungkap anggota PERADI dan Koordinator Relawan Jokowi-JK Jakarta Pusat dari Bravo 5 pimpinan Jenderal TNI (Purn.) Luhut Panjaitan, yang kini Menkopolhukam RI.

                Keadilan, kata Cosmas, harus diutamakan dalam kehidupan sehari-hari, karena itu merupakan ajaran  gereja. “Sekarang untuk memperjuangkan keadilan di Indonesia memang berat. Meski demikian, kita harus terus memperjuangkan keadilan. Keadilan jangan hanya untuk kepentingan kelompok. Mestinya keadilan diperjuangkan dengan melihat kepentingan bangsa,” harap pria yang pernah maju sebagai bakal Calon Bupati Kabupaten Maluku Tenggara pada 2013 lalu itu.  

Makanya, Cosmas terjun pula berpolitik selain giat di bidang penegakan hukum. “Kalau berada di legislatif, kan, saya bisa berupaya mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi banyak orang,” tegas pria yang termasuk dalam The Best Indonesian Lawyers 2012 Pilihan Lembaga Kajian Strategis Indonesia ini. Cosmas pun ikut memprotes keras pembahasan RUU Advokat oleh DPR-RI tahun lalu dengan berdemo bersama sejumlah pengacara terkenal.  

Berita Terkait