Maria dan Marta

• Oleh: Rio Ririhena, S.Sos 339 dibaca


 BERITANARWASTU.COM. Setiap kita mungkin saja terlibat aktif dalam pelayanan di gereja, persekutuan, yayasan, dan tempat-tempat lain. Pelayanan yang menyita waktu, tenaga, pemikiran, bahkan mungkin juga uang kita. Semua itu mungkin saja membuat kita merasa sudah melakukan apa yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk memastikannya, mari kita renungkan (kembali) cerita Maria dan Marta.

 Dalam Lukas 10:38-42, ada dua kakak beradik, Marta dan Maria, yang kedatangan Tuhan Yesus di rumah mereka. Diceritakan bahwa selayaknya rumah yang kedatangan tamu, sang empunya rumah akan sangat sibuk untuk memberi layanan yang terbaik bagi sang tamu. Dan ini dilakukan oleh Marta. Apalagi dia tahu persis siapa tamu yang datang ke rumahnya itu. Sebaliknya Maria diceritakan duduk di kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan perkataan Tuhan Yesus. Kondisi ini kemudian diprotes oleh Marta dengan meminta Tuhan Yesus menyuruh Maria membantunya untuk melayani Tuhan Yesus.

 Berulang-ulang saya baca perikop ini sampai akhirnya dengan hikmat Tuhan saya temukan dua kondisi berbeda yang terjadi, karena respons yang berbeda dari dua orang yang menghadapi situasi yang sama. Marta melakukan aktivitas, sementara Maria melakukan hubungan. Dua kata kerja yang menimbulkan output yang berbeda.

 Aktivitas melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan dan kita akan terus berusaha untuk dapat mempertahankannya. Itu terjadi dalam kehidupan kita sesehari. Ada kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan turun temurun dalam keluarga. Bahkan mungkin di tempat pekerjaan, bahkan di dalam gereja. Kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung lama dan mungkin saja tidaklah selalu baik dan benar. Marta menjalankan aktivitas. Kebiasaan yang diajarkan orang tua untuk sibuk menjamu dan melayani tamu diterapkan oleh Marta saat Tuhan Yesus datang ke rumah mereka. Berbeda dengan Marta, Maria menikmati quality time-nya bersama Yesus. Sesuatu yang jarang dalam hidupnya ia temukan. Maria sudah mendengar tentang siapa Yesus sehingga dia tidak ingin kehilangan momen itu. Maria rindu mendengar dan mendapatkan sesuatu dari Tuhan Yesus.

 Kita terkadang seperti Marta. Setiap hari kita seperti robot yang menjalankan aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan. Saking terbiasanya kita sudah tidak menyadari lagi apakah kebiasaan itu benar dan baik untuk kita atau tidak. Kita merasa kita sudah cukup punya pengalaman sejauh ini. Saat terlihat di hadapan kita sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan kita, dengan cepat kita bereaksi memprotes dan tidak terima. Karena kita merasa itu salah dan membuat kita tidak nyaman. Comfort zone kita dirasakan terusik. Kepekaan kita akan membuat kita bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda jauh dari sekadar menjalankan aktivitas rutin. Kita terkadang harus meninggalkan kebiasaan kita seperti apa yang dilakukan Maria.

 Aktivitas juga membuat kita menjadi sibuk. Sibuk memikirkan, sibuk mempersiapkan, dan sibuk melakukan semua yang kita pikir baik dan berguna untuk hidup kita. Kita lakukan itu semua sejak membuka mata di pagi hari sampai kembali menutup mata saat tidur di malam hari. Kita berpikir jika kita sibuk, maka kita bisa menjadi orang yang berhasil. Kita merasa jika kita sibuk di gereja kita menyenangkan hati Tuhan. Marta sibuk ketika Tuhan Yesus datang ke rumahnya. Tapi Marta justru ditegur oleh Tuhan Yesus.

Sebaliknya Maria melakukan hubungan dengan Tuhan. Hubungan menciptakan keintiman. Dan itu dirasakan oleh Maria saat dia duduk mendengarkan Yesus berbicara kepadanya. Sesuatu yang tidak ia dapatkan di tengah kesibukkannya. Maria menikmati keintimannya bersama Yesus. Dia tinggalkan kesibukannya. Saat kita sibuk melakukan segudang pelayanan di gereja terkadang harus jujur kita justru merasa tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan saat ada masalah yang muncul, kita akan bereaksi seperti Marta. Kita merasa sudah melakukan pelayanan, sibuk ini sibuk itu di gereja. Tapi, kok, dapatnya yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Akhirnya kita menyalahkan orang lain, seperti Marta menyalahkan Maria. Bahkan dalam kondisi seperti itu pun kita bisa menyalahkan Tuhan.

Dalam melakukan pelayanan kita kepada Tuhan, Tuhan juga mau dan rindu kita menyiapkan waktu khusus kepadaNya. Memberi waktu kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita. Menikmati dan merasakan keintiman dengan Tuhan. Karena itu yang lebih penting bagi Tuhan. Kesibukan kita di gereja adalah hal yang kecil bagi Tuhan. Semua bisa Dia lakukan sendiri dengan caraNya.

 Aktivitas juga cenderung membuat kita melakukan sesuatu yang kita mau. Kita curahkan segala pemikiran dan raga kita selama kita hidup untuk mengejar apa yang menjadi keinginan, cita-cita, dan ambisi kita. Apa yang terbaik menurut kita, itulah yang akan kita lakukan. Peduli amat dengan omongan orang lain. Marta melakukan hal ini tanpa sadar. Dan semua itu tanpa sadar juga kita lakukan dengan keberadaan kita yang terbatas. Terbatas dari sisi pemikiran dan kekuatan bahkan juga waktu. Dan semua keterbatasan itu hanya dapat dilengkapi dengan melakukan apa yang sesuai dengan maunya Tuhan. Lewat hubungan yang akrab dengan Tuhanlah kita akan dimampukan untuk mengerti apa yang jadi kerinduan Tuhan bagi hidup kita. Maria tahu persis hal ini, sehingga dia mendekat dan duduk di kaki Tuhan saat rumahnya didatangi tamu istimewa itu.

 Di akhir usaha keras dalam pekerjaan dan pelayanan, kita tentulah tidak menginginkan tanggapan Tuhan seperti kepada Marta, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara...” Itu artinya kerja keras kita dianggap sia-sia. Pelayanan kita tidak ada artinya. Sungguh sangat tragis jika hal ini juga terjadi atas diri kita yang sudah merasa maksimal melayani Tuhan. Tuhan mau kita bijaksana seperti Maria, memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari pada kita. Selamat melayani Kristus yang bangkit!

 

·         Penulis adalah lulusan Fakultas Komunikasi IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Jakarta.

Berita Terkait