Mau ke Mana Gereja di Tahun Berikut?

• Oleh: Antonius Natan, D.Th. 564 dibaca
• Penulis adalah Sekretaris Umum PGLII DKI Jakarta, dan Waket I Bidang Akademik STT Rahmat Emmanuel.

Beritanarwastu.com. Kemajuan teknologi sangat pesat, khususnya teknologi informasi. Kita sering mendengar beberapa istilah, seperti smart city, artificial intelligence, big data dan internet of things. Perkembangan teknologi membuat profesional dan pengusaha berpikir keras, serta membanting setir usaha, menutup atau merombak total bisnis yang dijalankan.

Makna perkembangan teknologi adalah perubahan, seperti Internet of Things (IoT) yang didefinisikan secara umum adalah sebuah konsep di mana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. Dengan semakin berkembangnya infrastruktur internet, maka kita masuk ke dalam percepatan teknologi. Di mana tidak hanya smartphone atau komputer yang terhubung dengan internet, tetapi berbagai benda dan makhluk hidup dapat tersambung ke jaringan lokal dan global menggunakan sensor dan atau actuator yang terpasang. IoT pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999.

Implementasi Internet of Things ini merambah ke berbagai sendi kehidupan manusia di berbagai sektor, dari kesehatan, rumah tangga, industri, transportasi, keamanan, perdagangan, perkebunan, pertanian dan peternakan dll. Salah satu di peternakan sapi juga menerapkan IoT. Sapi dipasang Chips dan tidak lagi ditempatkan di kandang, melainkan dilepas di padang rumput, tidak digembalakan serta tidak perlu mempekerjakan banyak orang di lapangan untuk menggembalakan sapi. Chips terpasang terhubung dengan kamera monitor, sehingga posisi sapi di padang penggembalaan dapat diketahui secara akurat.

Sensor yang ada dalam tubuh sapi dapat mendeteksi sapi sakit atau sehat, makan dan minum cukup atau kurang, sedang musim kawin atau tidak, sapi disensor apakah siap diambil susunya dll. Apabila sapi terdeteksi tidak sehat, maka ada peringatan dalam bentuk suara atau warna pada layar monitor dan koneksi internet secara otomatis menghubungi dokter hewan sehingga bisa langsung menuju ke sapi terkait untuk perawatan.

Mesin semakin cerdas, robot akan ada di mana-mana, sampai suatu saat nanti akan terjadi penggabungan robot dan manusia. Dahulu film “Six Million Dollar Man” disebut sebagai film fiksi, tetapi saat ini telah menjadi kenyataan. Akankah operasi militer atau intelijen berubah? Apakah kebaikan bertambah atau malah kekacauan akan terjadi di mana-mana?

Gereja Virtual Menjadi Pilihan

Kita memasuki era di mana mesin pencari, seperti Google akan semakin canggih dan big data memberikan definisi baru bagi pengguna yang cerdas, manusia akan terbiasa dengan internet of things dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan munculnya asisten virtual. Perkembangan teknologi akan mencapai puncaknya dengan menggantikan peranan manusia, di mana mesin akan bergabung dengan jiwa dan raga dari manusia. Pengalaman manusia menjadi sangat berbeda. Akankah manusia menjadi sangat cerdas sekaligus kuat? Akankah manusia memiliki hikmat dan pengetahuan yang hebat, karena chips yang dipasang dalam otak manusia mampu mengolah data dan membuat rumusan baru sehingga “mempersamakan diri seperti Tuhan?

Pada saat itu apakah Injil masih relevan? Misteri ilahi yang selama ini disebut iman akan terkuak oleh mesin pencari jawaban yang relevan, aktual dan dapat diterima oleh akal manusia. Perubahan teknologi ini perlu diantisipasi oleh gereja dan para teolog. Manusia dengan kecanggihan teknologi apakah tetap akan berkumpul dalam komunitas gereja? Apakah bangunan gereja yang besar yang disebut Mega Church akan dipenuhi manusia? Saatnya akan datang, manusia dapat mengakses dengan mudah pengkhotbah yang populer dari berbagai belahan dunia dan menikmatinya secara live?

Jemaat dengan mudah memilih dan memilah topik khotbah yang disukai, yang dibutuhkan, yang mudah dicerna, dapat dipercaya dan sebagainya. Sekaligus jemaat juga bisa memberikan persembahan kasih, kolekte maupun persepuluhan melalui pembayaran online, menggunakan QR Code dan semacamnya. Uang akan berpindah ke manapun walau berbeda mata uang. Jemaat bermasalah dapat terkoneksi melalui aplikasi dan melakukan konseling atau mendapat Coaching dari pendeta yang dipilih dan dapat terhubung secara live dari berbagai belahan bumi tanpa kendala bahasa, karena mesin dengan mudah menterjemahkan berbagai bahasa di bumi.

Gereja menjadi global, era gereja lokal menjadi usang, jemaat bisa datang dari berbagai bangsa, suku dan bahasa. Tetapi jemaat secara fisik tidak berada di rumah Tuhan, cukup dari rumah dengan layar virtual mungkin tiga atau empat dimensi. Gereja menjadi hadir dalam rumah pribadi. Apakah ini menjadi difinisi baru sebagai “gereja rumah? Gereja virtual menjadi pilihan.

Ini akan menjadi pertanyaan, bagaimana sentuhan spiritualitas dapat menyatu dengan kecanggihan teknologi? apakah melalui IoT manusia akan berjumpa dengan Allah Sang Pencipta langit dan bumi? Dan apakah Tuhan akan menjumpai iman di muka bumi pada saat itu? Dan apakah ini merupakan pertanda kita telah berada di ujung akhir zaman?

Berita Terkait