Melatih Jiwa Perjuangan

• Oleh: Hojot Marluga 1256 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Hidup adalah perjuangan. Selagi hidup mesti selalu berjuang dan batasnya tiada akhir sampai maut menjemput. Di sinilah pentingnya memiliki motivasi sikap berjuang. Sebab, perjuangan sesuatu keluhuran menemukan esensi, sedangkan motivasi sangat erat dengan hajat hidup. Di sinilah hakikat motivasi sebagai daya pendorong untuk mempengaruhi. Seseorang bisa bertahan oleh karena jelas tujuan yang hendak diraih. Dia memiliki alasan untuk tetap berjuang.

Alih-alih motivasi amat erat hubungannya dengan daya juang. Menemukan dan mengetahui alasan bertahan sekalipun masih dalam ruang perjuangan. Tentu, beragam alasan untuk hal itu, ada orang berjibaku oleh karena keadaan yang terpaksa, ada orang terus berjuang demi tujuan mulia, memaksa diri demi harkat martabat keluarga. Di sinilah tubuh dan batin (jiwa) perlu dilatih, kalau tidak akan mudah kolaps.

Perjumpaan dengan kesulitan, tentu perlu ada melatik fisik dan mengasuh batin, oleh karena makna perjuangan, tak akan kendor semangat jika memahami makna dalam kesulitan. Tak ada bausastra menyerah bagi orang melatih mental juang. Di sinilah keinginan kuat ingin mencecap setiap situasi. Hal ini penting agar tidak mudah patah arang dalam setiap langkah. Berpikir kritis bagi diri, sebab jika kita melatih diri dan terus berpikir kritis, maka kita akan memiliki mental gigih, mental pejuang yang tak mudah menyerah. Tiada kata kecewa dalam diri, yang ada kesadaran melatih dan menguatkan diri.

Lagi, perjuangan adalah semangat untuk ingin lebih baik di masa yang akan datang. Seseorang yang berjuang untuk hidup, yang mengalami segala derita, membangkitkan semangat untuk terus berjuang. Salah satu mental yang persisten dalam perjuangan adalah presisi dalam berusaha, selalu belajar untuk lebih purna. Pengusaha asal AS, Hendy Ford pernah katakan, “Setiap orang yang berhenti belajar dia adalah seorang yang tua, meski umurnya 20 tahun. Tetapi setiap orang yang terus belajar maka dia akan tetap muda walau umurnya 80 tahun.”

Mengapa demikian? Seseorang disebut dewasa bukan karena telah tua usia otomatis dianggap dewasa, tetapi sikap pembelajaran yang purna dalam dirinya. Mau tidak mau semangat belajar perlu dipacu, jika tidak akan digilas zaman. Sudah tentu hanya orang yang terus menerus belajar yang eksistensinya konstan. Namun, walau demikian amat sangat banyak, bahkan lebih banyak orang yang tak mau menyadari perubahaan, tak adaptif terhadap setiap kondisi, bahwa setiap saat kita dikondisikan untuk belajar, dan kenyataan memang orang-orang yang mendapat privilese disandang oleh orang-orang yang berjiwa pembelajar, haus belajar.

Tentu, kalau ditelisik maksudnya bahwa orang bodoh di sini bukan IQ-nya yang rendah, tetapi lebih ke sikap masa bodoh, tidak peduli nasihat orang lain dan tak pernah menyadari bahwa nasihat orang lain itu pun ada baiknya dipertimbangkan. Tepatnya, orang yang tak mau belajar dan sulit mendengar orang lain, dengan kata lain, tidak ada kerendahan hati untuk belajar adalah sikap orang yang tak mau mengasuh jiwanya.

 

Keingintahuan dan Perilaku

Rasa ingin tahu adalah suatu emosi yang berkaitan dengan perilaku ingin tahu, seperti eksplorasi, investigasi, dan belajar berbagai hal; suka meneliti, suka membaca. Di dalamnya ada kerja keras, belajar dengan tekun, rajin, serius, konsentrasi, dan sikap keingintahuan yang tinggi itu termanifestasi. Rasa ingin tahu sebagian besar merupakan naluri alami, merahmatkan manfaat kelangsungan hidup bagi kemaslahatan. Karena itu, orang yang berhikmat suka mendengar, suka belajar dan pasti amat gigih belajar. Jadi, di sini keingintahuan atas hal yang tidak diketahui amat perlu, menyadari bahwa dirinya penuh kekurangan, “Yang orang lain ketahui belum tentu diri ketahui.”

Seperti gelas kosong yang selalu siap diisi. Analogi sederhana tetapi bermakna jika diri kita kita seperti gelas kosong, maka kita dapat mengisinya. Art Buchwald seorang humoris asal Amerika Serikat mengatakan, “Ada begitu banyak orang beranggapan bahwa diri mereka berpendidikan oleh karena menyandang gelar sarjana. Padahal, sesungguhnya mereka tidak berpendidikan. Anda tidak mendapatkan pendidikan tetapi Anda mempersiapkan diri Anda untuk mengetahui bagaimana mengangkat sesuatu ke atas, bagaimana menggunakan buku, bagaimana berpikir." Maknanya, bukan gelar yang terpenting tetapi sikap pembelajar.

Sebagaimana seekor kupu-kupu yang mesti meronta melewati proses yang tidak mengenakkan, dari seekor kepompong menjadi kupu-kupu. Cangkang kepompong yang menghimpit, menjadi hambatan jika calon kupu-kupu tak berusaha dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya menjadi kekuatan oleh karena memanfaatkan kesulitan untuk memberi kekuatan. Sebagaimana dikatakan Imanuel Kristo (Pendeta GKI Gunung Sahari, Jakarta) dalam bukunya Momen Inspirasi, dalam perjuangan hidup ada kesulitan dan kekuatan. “Perjuangan yang berat untuk suatu keinginan akan membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih baik, dan segala yang kita raih lebih mudah hanya akan membuat kita lemah.”

Maksudnya, kesulitan ada untuk meningkatkan kualitas diri. Tentu perjuangan kitalah yang melahirkan kekuatan tersebut. Sebab pelajaran yang terpenting di kampus kehidupan adalah kesulitan. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan, dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan. Sekali lagi, di sinilah pentingnya melatih fisik dan psikis. Rasul Paulus berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya.” Selesai melatih tubuh, tak lupa terutama melatih jiwa.

Melatih jiwa perjuangan tidak saja sekadar menanamkan jiwa, namun juga melatih mental untuk tabah. Sabar kaitannya daya mental, menahan rasa sakit oleh fisik. Perjuangan kita untuk menyucikan dan memurnikan jiwa. Termasuk dalam bernalar, melatih diri untuk berpikir kritis dan runtut menyusun hasil pikiran. Bahwa kegagalan tak harus menyurutkan langkah, dan tentu perjuangan tidak selesai hanya pada tataran kata-kata.

Jiwa perjuangan mesti terpateri dalam sanubari, semangat diri yang tercerahkan demi membebaskan diri dari belenggu. Akhirnya, berbahagia itulah esensi kehidupan, hidup yang berarti hidup penuh perjuangan, yang tanpa henti dalam menemukan esensi hidup.

·                     Penulis adalah seorang jurnalis dan penulis buku. 

Berita Terkait