Melebihi Perestroika

Hojot Marluga 570 dibaca


beritanarwastu.com. Kata perubahan di seluruh jagat memang tak mungkin ditunda. Itu sebab perubahan disebut keniscayaan. Perestroika dalam bahasa Rusia disebut перестройка. Perestroika mulai terdengung tatkala di tahun 1980-an oleh Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, kala itu menyebut "Perestroika" yang berarti perubahan yang masif, lebih tepatnya restrukturisasi. Merujuk pada perubahan yang lebih baik. Kemudian hari Perestroika menjadi program yang dirancangnya untuk mereformasi birokrasi dan ekonomi Uni Soviet. Tak hanya itu, pemikirannya kemudian dibukukan, diberi tajuk "Perestroika." Isinya pemikiran baru untuk perubahan.

Dampaknya? Oleh pemikiran itulah, membuat Uni Soviet berubah total, kemudian hari menjadi Rusia yang sekarang. Oleh Rupert Murdoch mendengus kata Perestroika sebagai sebuah bisnis, naskah Perestoika dia prediksi bisa dijual ke mana-mana. Naskah itu kemudian dialihbahasakan ke berbagai bahasa dunia. Oleh perusahaan bisnis media Murdoch, mencetaknya menjadikan buku itu laku keras. Sama di negeri kita, Presiden Joko Widodo, juga mendengungkan Revolusi Mental. Intinya, untuk mentransformasikan mental atau perubahan pola pikir. Oleh pemikiran Kristen disebut Metanoia. Metanoia artinya: Pertobatan. Dalam arti yang lebih luas metanoia: Perubahan pola pikir. Berubah oleh pembaharuan budi, bertobat dari sesat pikir.

Lalu, apa maksudnya melebihi Perestroika? Maksudnya, boleh saja menggebu dalam pemikiran, namun jauh lebih bermanfaat melalui tindakan. Pikiran yang berubah ditindaklanjuti dengan sikap untuk lebih baik. Alih-alih, tindakan jauh lebih baik dari hanya sekadar kata-kata. Mengapa perlu perubahan? Sebab tanpa perubahan tak ada perbaikan. Memulai perubahan dimulai dari sebuh pikiran, bukan mengubah nama. Dalam Alkitab kita menemukan tokoh-tokoh, seperti Abrham menjadi Abraham, Simon menjadi Petrus, atau Saulus menjadi Paulus yang menunjukkan mereka berubah.

Namun, berubah berarti mengubah jalan hidup untuk lebih baik. Oleh pemikiran dari Paulus itu kita bisa mendapati sebuah ayat yang menunjukkan pentingnya sebuah proses perubahan yang berkelanjutan. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (2 Korintus 3:18).

Barang kali kisah inspirasi di kehidupan kita bisa tiru. Barangkali Anda kenal Ibu Guru Kembar. Dua orang perempuan kembar yang menjadi lokomotif perubahan, si kembar Sri Rosyati (Rossy) dan Sri Irianingsih (Rian). Keduanya telah berkiprah paling tidak seperempat abad memperjuangkan kecerdasan bangsa. Meski karya tak terlalu besar, tetapi keduanya berjuang dalam mencerdaskan bangsa melalui sekolah yang didirikan, yaitu Sekolah Darurat Kartini. Menurut keduanya, ada banyak cara berkontribusi untuk kemaslahantan rakyat. Salah satunya dengan menerbitkan buku.

"Melalui sebuah buku itu bisa diturunkan oleh generasi penerus bangsa dan ini sangat bermanfaat serta penuh inspirasi, tentunya. Apalagi ada metode cara mengajar yang seperti apa teman-teman kita yang di bawah," sembari menambahkan, masyarakat kita bina dan justru mereka berterima kasih kepada kita. "Tapi kalau pemerintah mau membina rakyatnya, berarti harus melalui sebuah pendidikan, bukan lewat dikasih uang ketika pemilu, itu sangat salah. Karena pendidikan bisa mengubah harkat dan martabat manusia."

Sudah tentu memulai perubahan, apalagi menjadi pelopor perubahan itu tidaklah mudah. Dalam perubahan pasti akan ditemukan jalan terjal,  jalan berkelok, bahkan berkerikil. Namun, jikalau telah memahami perubahan untuk kebaikan, kita tak akan gentar. Sudah menjadi habitusnya setiap perubahan pasti mendapat halangan. Perubahan kokoh dan membawa kebaikan apa bila mampu melewati ujian kesulitan.

 Meretas Perubahan

Meretas perubahan, berarti yang dulu terpuruk tak lagi terburuk, yang lama terkungkung menjadi disandung. Lalu, pertanyaannya mengapa banyak orang mengalami kesulitan meretas perubahan? Jawabannya, karena tak siap dan tak mau berubah. Tentu, perubahan tak selalu enak dan menyenangkan, sebab perubahan mengganggu kenyamanan. Mungkin juga susah berubah karena mengganggu zona kemapanan.

Barangkali sosok yang bisa menjadi inspirasi semangat perubahan yang ditunjukkan Matheos Berhitu. Dialah orang yang memenangkan lomba lari ultra Lintas Sumbawa 350 kilometer. Oleh semangat perubahan, dan tak ingin kehidupan ekonominya terus merangkak, Matheos berfotosintesis dari seorang sopir angkot menjadi sosok inspirator. Walau umurnya relatif tak muda lagi, 45 tahun. Tetapi tekadnya terus menggelora, mengubah kehidupan ekonomi keluarga.

Dari penghasilan 1,4 juta per bulan didapatnya dari menarik angkot, kini menjadi public pigur bak seperti sebrani yang menarik fulus. Tentu jauh sebelum memenangkan lomba, Martheos jauh-jauh hari sudah terbiasa melatih diri berlari 600 kilometer. Antusiasnya dalam mengubah hidup dibuktikan dengan kerja keras, berkorban dengan latihan keras. Kegigihan melatih diri, itulah niat mau berubah. Atas kehebatan yang ditorehkannya, kini ia digadang-gadang menjadi pegawai negeri oleh pemerintah Maluku. Jiwa perubahan yang menjadi inspriasi itu kemudian ditulis pada kolom Sosok (Kompas, 20 April 2016).

Itulah orang yang adaptif terhadap perubahan. Maka sebelum dipaksa oleh perubahan, kita terus adaptif terhadap perubahan itu. Berbesar hati terhadap perubahan. Jangan sampai kita dipaksa tunduk pada perubahan. Karena itu, kita tak boleh hanya berangan-angan baru berubah, tetapi tindakan sikap tak dirubah. Sebab lebih sakit dipaksa berubah, daripada jika perubahan dipahami sebagai hal yang absolut. Sebagaimana pemikiran seorang motivator Samuel Taylor Colleridge mengatakan, yang lebih baik mengerjakan yang terbaik hari ini yang terbaik. "Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik-baiknya dan berbahagia hari ini." Mengerjakan yang terbaik untuk perubahan yang akan datang. Lagi-lagi perubahan butuh kegigihan. Perubahan membutuhkan disiplin. Membangun perubahan dibutukan pengorbanan.

Berita Terkait