Memasuki 2017, Apa yang Terjadi, Terjadilah!

615 dibaca
Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A

          BERITANARWASTU.COM. Judul renungan ini dapat membuat pesimis, ya? Benar. Bila kita berdiri di sudut kemenyerahan (orang yang telah menyerah), tidak mampu atau tidak mau berusaha untuk berjuang lagi. Dan berkata, biar sajalah hal itu terjadi dalam hidupku. Hal apa? Ya, banyak hal: sakit-penyakit, keminderan, kemiskinan, kekacauan pikiran, kesepian, ketidakpedulian, ketakutan dan lain-lain.

           Ya! Keadaan hari-hari belakangan ini sangat wajar membuat masyarakat dan kita secara pribadi tentu, menjadi orang yang mudah menyerah. Emosional. Loyo. Bingung. Putus asa. Karena memang ada banyak hal yang tidak terduga muncul di Jakarta, misalnya (sebagai barometer Indonesia), yang menyebabkan di daerah-daerah muncul pula reaksi yang sama. Apa itu? Paling tidak, isu (ketersingggungan karena) SARA. Persoalan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) di negeri ini masih menjadi bahan yang mudah “meledak” dan berpotensi membuat sesama anak negeri menjadi bermusuhan.

            “Permusuhan” ini pun berpotensi menimbulkan pengeboman, ketakutan, perekonomian mandeg, investor berlarian keluar negeri, wisatawan ke Indonesia berkurang, dan akhirnya isi dompet masyarakat semakin menipis dan habis. Waduh, akankah dalam situasi seperti itu akan membuat kita berkata: Ya, sudahlah...yang terjadi, terjadilah.., aku tak mau pedulilah! Apakah akan begitu?

Mari kita kaji hal itu lebih dalam. Di ujung tahun 2016 ini, sebentar lagi “jembatan” menuju tahun 2017 akan terbentang dan harus kita lewati. Dalam hal ini kita mutlak memilih, kita dalam posisi menyerah ataukah berserah? Artinya, bila berserah pada Tuhan, teruslah berusaha namun mengandalkan Tuhan, inilah yang terpenting.  Di ujung tahun 2016 akan terkumpul berbagai “sampah-sampah”  kehidupan dalam bentuk amarah, dendam, kerugian, kekacauan hidup, dan lain-lain.

Apakah hal-hal yang merusak semangat hidup itu akan kita seberangkan juga ke tahun 2017? Tidak perlulah. Saat melewati jembatan menuju hari pertama di tahun 2017 semua hal itu buang saja, agar hidup kita di tahun baru penuh rasa  damai sejahtera, tidak kacau lagi. Nah, teringat saya sebuah kisah nyata. Saat Tuhan “memaksa” bangsa Israel keluar dari Mesir, menuju tempat yang dijanjikanNya.     Di dalam Keluaran 13:(17) Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir."

(18) Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. (21) TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. (22) Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.

Hm...bangsa Israel berpindah dari Mesir ke tanah perjanjian bersama Allah. Apakah begitu mudahnya dan rileksnya bangsa Israel itu menjalani perpindahan mereka? Tentu tidak. Mereka memasuki area dan daerah yang tidak mereka ketahui dengan segera apakah akan hidup tenteram dan damai sejahtera kelak di situ. Mereka juga “menikmati” perjalanan panjang (akhirnya selama 40 tahun) menuju tanah perjanjian yang sebenarnya tidak nikmat. Karena bangsa Israel pada suatu saat ingin pulang lagi ke Mesir merindukan “keindahan” hidup akibat tidak tahan melanjutkan perjalanan yang penuh misteri.

Tetapi Tuhan menuntun mereka di dalam perjalanan itu. Sekali lagi, Tuhan menuntun mereka di dalam perjalanan panjang itu. Artinya, kita pun pastilah Tuhan tuntun berjalan di tahun 2017. Persoalannya adalah, apakah kita taat pada Firman Tuhan dan hati penuh sukacita serta bersyukur selalu padaNya, sehingga perjalanan kita di tahun 2017 tidak memunculkan persoalan-persoalan yang membuat Tuhan akan menegor kita dengan keras.

Satu kisah nyata lagi. Di Keluaran 14: (19) Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. (20) Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

(21) Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. (22) Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Lebih parah dan berisiko tinggi yang dialami bangsa Israel ini. Di kepung dari 3 arah. Laut yang terbelah, dan menghadirkan “tembok air” yang setiap saat bisa runtuh, menggambarkan betapa sangat dekatnya ancaman hidup dari sisi kiri dan kanan. Ya! Tidak tertutup kemungkinan di tahun 2017 kehidupan kita penuh dengan ancaman kematian yang sangat dekat.

Namun, bila Tuhan membela kita, maka dia akan memberi jalan keluar yang terkadang tidak sanggup dipikirkan manusia. MukjizatNya tetap ada! Oleh sebab itu, bersama Tuhan Yesus kita tinggalkan tahun 2016, dan bersamaNya juga kita masuki tahun 2017. Apa yang terjadi, terjadilah pada tahun 2017. Seperti bangsa Israel yang percaya dan beriman teguh menyeberang laut Teberau. Kita pun, tidak perlu gentar dan khawatir, sebab Tuhan Yesus, Juruselamat kita. Imanuel.  

Berita Terkait