Membekali Perempuan Kristen Dalam Dunia Politik

565 dibaca
Peserta seminar di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Methodis, Medan.

             Beritanarwastu.com. Selama tiga hari berturut-turut, pada 9-11 Agustus 2017 lalu, Biro Perempuan dan Anak-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (BPA-PGI) bersama Komisi Perempuan Sinode Gereja Methodis Indonesia (GMI), melaksanakan kegiatan “Seminar dan Lokakarya Partisipasi Pendidikan Politik Perempuan.” Kegiatan tersebut dilaksanakan di dua tempat, yaitu Aula Fakultas Kedokteran Universitas Methodis, Medan, dan di Sibiru-biru, Medan, Sumatera Utara.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta seminar dan lokakarya tentang politik dari perspektif teologi dan pengertian politik secara umum. Pun berbagi informasi dan berdiskusi tentang perkembangan politik secara umum, dan khususnya tentang partisipasi perempuan dalam politik, menumbuhkan kesadaran dan minat peserta untuk berpartisipasi yang setara dan adil dalam politik, serta memformulasikan materi dan draft/konsep panduan yang dibutuhkan dalam pendidikan politik perempuan gereja.

Seminar dan Lokakarya Pendidikan Politik Perempuan diawali dengan ibadah pembukaan. Dalam khotbahnya yang terambil dari Hakim-hakim 4:1-24, Bishop GMI Pdt. Darwis Manurung menilik sosok Debora, seorang perempuan yang punya peran penting dalam Alkitab. “Debora adalah sosok yang tegas dan berkarakter pada zaman itu. Bicara tentang kesetaraaan gender, sebetulnya di Alkitab telah menuliskan bahwa perempuan juga sudah punya peran. Selain Debora ada Ester dan lainnya. Untuk kondisi sekarang kita juga bisa melihat sudah mulai ada peran-peran perempuan di lembaga belajar di gereja. Harapan saya semua peserta dapat pembelajaran tentang apa itu politik perempuan,” jelasnya.

Sementara itu, mewakili Yayasan Pendidikan Drs. Bastian Manurung, M.Pd dalam sambutannya menegaskan, melalui seminar ini, perempuan dapat memahami politik menuju setara dan adil. “Kita sudah menyaksikan sekarang ini peran perempuan cukup banyak dalam posisi strategis. Terima kasih untuk PGI yang sudah bersedia bekerjasama dengan GMI untuk melakukan kegiatan ini,” katanya. Ketua PGI Pdt. Pdt. Tuhoni Telaumbanua dalam sambutannya kembali mempertegas pentingnya peran perempuan dalam politik. Meski demikian perempuan harus berkarakter, sehingga memiliki banyak peluang lebih besar.

Kegiatan lokakarya yang dilaksanakan di hari kedua dan ketiga, membahas lima tematik topik. Lokakarya itu diawali dengan setiap fasilitator mempresentasikan topik masing-masing kepada peserta. Dan setelah lima topik lokakarya dipresentasikan, lalu peserta dibagi dalam 5 kelompok sesuai dengan topik lokakarya. Selanjutnya, setiap kelompok berdiskusi dan membuat hasil rumusan diskusi sesuai dengan topik masing-masing.

Diharapkan rumusan yang dibuat tidak sekadar bullet point, tetapi suatu rumusan lengkap dalam paper. Hasil diskusi akan dipresentasikan dalam forum. Melalui lokakarya tersebut diharapkan akan menghasilkan draft/konsep panduan tentang pendidikan politik perempuan. Sementara untuk seminar, ada empat topik yang disajikan antara lain, Kajian Teologi Politik Kristen oleh Pdt. Tuhoni Telaumbanua(Ketua PGI), Pemetaan Situasi Politik Perempuan oleh Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., M.Si, dan Kerangka Kebijakan untuk Meningkatkan Partisipasi Perempuan di Ranah Publik oleh Achmad Firdaus Hutasuhut (Kesbangpol Provinsi Sumut).

Kemudian Isu-isu dan Tantangan Utama Terhadap Perempuan/Keterwakilan Perempuan dalam Kehidupan Politik. Sesi ini presentasi panel oleh Siska Batimbung, S.H. (Advokat dan Konsultan), Dr. Ria N. Telaumbanua, MPH (Kadis Pengendalian Kependudukan dan KB Provinsi Sumut). Lebih dari 300 orang peserta yang merupakan perwakilan gereja-gereja dan akademisi dari sekolah-sekolah teologi di wilayah Sumatera Utara, mengikuti kegiatan ini. KT

Berita Terkait